Ternyata memang tak ada yang abadi, tidak juga cinta. Cinta menghablur, waktu menggerus.
Arman menggosok matanya, ketika aku masuk kamar dengan menyeret koperku.
Permadi yang merasa merana dan tidak beruntung, membandingkan dirinya dengan makna namanya.
Bagiku, dia sudah hebat dengan mau mempertahankan anaknya hingga lahir.
Berapa banyak istri yang dengan mudah melupakan pengakuan itu dan kembali percaya bahwa cinta suaminya seutuh dulu?
Wajah Arman muncul sekilas di mataku. Ya, Arman, aku memang sedang berbohong sekarang.