“Aduh, Biyung, sakit,” keluhku. Biyung tak menggubrisku, terus menggosok punggungku dengan batu.
Aku mengenal karaker ibuku yang selalu mudah gelisah dan mudah menyimpulkan kekhawatiran yang terkadang berlebihan.
Lastari merasa ada yang aneh dengan perutnya beberapa bulan terakhir. Ia seolah merasakan ada yang hidup dan terus berkembang di dalam dirinya.
PERTEMUAN singkat yang baru berlangsung sekitar sepuluh menit ini bagaikan waktu panjang yang menyiksa.
“Seketika aku panik, “Ya Tuhan, jangan-jangan Ocha mendekati sumur dan terjebur.”
Saat seharusnya aku ada di jalanan tanpa siapa-siapa yang perduli, ada orang baik yang mendatangiku, dan mengulurkan tangan.
Saya langsung memberi gestur tidak nyaman dan menolak, namun dengan nada sopan, “Sorry, Sir, but I have to go.”
Di dunia ini ada tiga hal yang sangat bibi percaya; pertama Tuhan, kedua dirinya sendiri, dan terakhir primbon kusam miliknya, selebihnya? Tak ada!
Lelaki ‘beraroma’ selai nanas itu tertawa. Pada dirinya kutemukan sosok berbeda dengan Kimo. Tawanya lepas, menunjukkan ia lelaki merdeka.
Ia memang jadi tampak aneh di antara gadis-gadis sebayanya di kampus. Ndeso banget, begitu mungkin istilahnya.