Ah, apa pedulinya dengan semua itu? Toh, Meinar tak pernah memedulikan perasaannya yang selama ini hanya mengukir nama Zokh di dalamnya.
Haruskah wanita-wanita seperti Surti, Tary, dan puluhan wanita lainnya yang mengadu nasib di
Rianty terenyak. Tak menyangka bahwa tempatnya bekerja selama ini, yang dari permukaan terlihat
Rianty menghela napas iba. Tercenung sesaat. Doa dan harapnya selama ini untuk menemukan Tary, telah didengar dan dikabulkan Tuhan. Tinggal selangkah lagi ja...
Mungkinkah mayat wanita yang mengenakan celana jins dan baju putih itu adalah Tary? Sedangkan kedua rekan seperjalanannya saja sulit untuk mengenali, apalagi...
Kalimat terakhir Meinar itu telah menjalarkan ketegangan tak hanya di sekujur tubuhnya, melainkan juga telah menyusup sampai ke miliaran neuron di kepalanya.
Maafkan saya, Teacher. Saya memutuskan untuk tetap pergi. Saya tidak mau menyusahkan Teacher. Terima kasih banyak atas kebaikan Teacher pada saya selama ini....
Bagaimana bisa dalam waktu relatif singkat menyulap mereka menjadi lancar bicara atau paling tidak mengerti secara pasif, sedangkan hampir separuh dari merek...