Foto: FLW
 
Sejak Mei lalu, hingga 26 November 2017, Venice Art Biennale ke-57 berlangsung di Venezia, Italia. Bertema ‘Viva Arte Viva’, pameran seni kontemporer dua tahunan terbesar di dunia ini menghadirkan 120 seniman dari 51 negara, termasuk Indonesia.
 
Berpartisipasi dalam Venice Art Biennale 2017 adalah Tintin Wulia. Seniman Indonesia yang menetap di Australia ini, mendapat dukungan penuh dari pemerintah untuk menampilkan karya seninya.
 
Dengan waktu persiapan yang diakui Tintin cukup singkat, hanya beberapa bulan saja, ia menampilkan karya seni instalasi dengan tema 1001 Martian Homes. 1001 Martian Homes bercerita tentang pola berulang dalam sejarah perpindahan manusia melintasi waktu, tempat, dan ruang untuk memikirkan kembali tentang konektivitas,” ungkap Tintin.
 
Batas geopolitik menjadi tema sentral dalam karya-karya seniman yang telah malang melintang dalam pameran-pameran besar internasional selama satu dekade ini.
 
Merefleksi pada kehidupan keluarganya yang harus ulang-alik di antara dua rumah, Bali dan Tiongkok. Serta kenyataan sama yang ia alami sepuluh tahun belakangan ini, antara Australia dan Indonesia. Lewat karyanya ini, Tintin mengangkat bahwa dunia tempat kita bermukim tidak lagi satu, namun terhubung dengan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Butuh pemahaman terbuka untuk bisa menerimanya.
 
Tintin mengimajinasikan sebuah masa depan lewat tiga pasang instalasi yang saling terhubung. Ketiga pasang instalasi ini berdiri di dua paviliun Indonesia yang nyaris identik yang terletak di dua lokasi berbeda, yaitu di Arsenale, Venezia dan di Senayan City, Jakarta.


Tintin Wulia
Foto: FLW
 
Unik, karena konsep ini menjadikan paviliun Indonesia menjadi satu-satunya sekaligus paviliun pertama di art biennale yang memiliki dua ruang pameran dan salah satunya berada di luar Venezia.

Apa saja instalasinya? Cek di laman berikutnya.
 
 

 Foto: FLW
 
Instalasi pertama, Not Alone berupa mesin kembar berbentuk kubah setengah lingkaran yang mampu merekam partisipasi pengunjung di dua paviliun tersebut. Koneksi internet menjadi elemen sentral. Pengunjung dapat melihat refleksi pengunjung lain di kota berbeda.
 

Foto: FLW
 
 


Foto: FLW
 
Instalasi kedua, berupa video 1001 Martian Homes yang terdiri dari susunan wawancara-wawancara yang dijalin dalam narasi berlatar masa depan. Beberapa tokoh dalam video ini adalah eks tahanan politik yang menarasikan kembali pengalaman mereka secara simbolik. Peristiwa 1965 menjadi titik balik sejarah    
 
 
 


Foto: FLW
 
Sedangkan instalasi ketiga Under The Sun, menampilkan tangga menuju ruang tersembunyi di lantai atas dengan pintu terkunci. Hanya ada satu lubang intip. Di baliknya, terdapat sebuah ruang kerja kecil acak-acakan dengan aneka sketsa. Gambar mata pengunjung di Jakarta dan Venezia yang terekam dari lubang intip di pintu, ditayangkan kembali di lingkaran-lingkaran anek ukuran yang terdapat di sepanjang dinding tangga.
 
Tintin menghidupkan karyanya lewat konsep partisipan yang melibatkan pengunjung di Venezia dan Jakarta untuk menjalin sepasang karya tersebut dalam satu kesatuan utuh.
 
Konsep yang ‘rumit’ dari sebuah karya seni kontemporer ini rupanya cukup menarik minat pengunjung yang datang ke paviliun Indonesia di Venice Art Biennale ke-57. Tak sedikit pengunjung yang berhenti sesaat, memahami setiap bagian dalam pavilun seluas 70 meter persegi ini.


Foto: FLW

Tanggapan positif juga terlihat ketika Tintin menggelar Tavola Aperta (The Open Table) pada 22 Juni 2017 lalu. Sekitar 20 penyuka seni kontemporer hadir untuk mendengarkan langsung penuturan Tintin tentang instalasi seninya sekaligus diskusi terbuka.
 
Bagi Indonesia, kehadiran pavilun Indonesia di Venice Biennale Art 2017 ini menjadi ajang yang signifikan untuk mempertunjukkan industri kreatif di Indonesia, termasuk seni kontemporer. Meski begitu, keikutsertaan Indonesia di ajang Art Biennale pertama kali terjadi pada tahun 1954 dengan keikutsertaan perupa legendaris Affandi.
 
Ricky Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia (Bekraf), menyebutkan bahwa lewat 1001 Martian Homes karya Tintin Wulia ini, Indonesia menyampaikan pesan penting sebagai bagian dari seni kontemporer dunia.
 
“Indonesia tidak harus selalu menampilkan wajah tradisionalnya, tapi kita juga perlu menunjukkan pada dunia luar tentang karya-karya seni yang moderen dan inspiratif, ini pesan presiden, Joko Widodo,” ungkap Ricky.
 
Sejak tahun lalu, Bekraf menjadi badan resmi yang mengelola paviliun Indonesia di La Biennale, Venezia. Kehadiran dua paviliun di Venezia dan Jakarta menjadi langkah nyata untuk mendekatkan karya seni terbaik Indonesia kepada masyarakat.
 
“Masyarakat dapat merasakan suasana Paviliun Indonesia di Venice Art Biennale 2017 dan instalasi seni Tintin Wulia, melalui paviliun Indonesia  yang juga hadir di Mal Senayan City, Jakarta,” jelas Ricky. (f)