
Foto: Yos
Pada halaman masuk ke gedung Taman Budaya Yogyakarta yang terletak di Jl. Amri Yahya, sebentuk bangunan piramida dengan bagian bawah mengembung transparan seperti menyambut pengunjung yang datang. Bentuk yang sedikit mengingatkan pada Museum Louvre di Prancis. Harus diakui, prisma transparan itu seakan mengajak pengunjung untuk segera masuk ke bangunan tiga lantai yang menjadi tempat ARTJOG 2018, pameran seni kontemporer yang tahun ini berusia 11 tahun.
Menurut tim kurator ARTJOG 2018, Bambang Toko Witjaksono dan Ignatia Nilu, tema tahun ini adalah Pencerahan. Bagaimana lewat seni dengan khittahnya yang penuh kebebasan berekspresi menjadi medium yang sempurna untuk merefleksikan pembebasan manusia.
“Harapannya, pencerahan itu hadir lewat bentuk-bentuk yang dekat, sederhana, beragam dan tanpa paksaan,” demikian menurut tim kurator dalam pengantar mereka.
Dengan harga tiket Rp50.000, pengunjung dapat menikmati dan merayakan pencerahan hidup lewat karya cipta 54 seniman dari dalam dan luar negeri. Dengan sangat kreatif dan jenius, mereka mengolah ide menjadi bentuk yang mudah dinikmati secara visual, kemudian dicerna untuk menafsirkan dan memahami maksudnya.
Nama-nama besar seniman dalam negeri seperti Heri Dono, Nasirun, Entang Wiharso hingga Davy Linggar dan Syagini Ratna Wulan bersanding karya dengan seniman manca seperti seniman kelahiran Jepang yang tinggal di Australia Hiromi Tango juga pelukis asal Filipina Jigger Cruz. Tak mengherankan bila karya seni dalam ARTJOG sangat beragam, mulai dari lukisan, grafis, fotografi, instalasi, patung, hingga multimedia.
Berikut ini beberapa instalasi seni di ARTJOG 2018.

Foto: Yos
Sea Remembers
Karya Mulyana Mogus ini menjadi instalasi pertama yang bisa dinikmati pengunjung begitu melewati pintu masuk. Dan rupanya, terumbu karang yang berwarna-warni cantik dengan ikan-ikan kuning kecil yang berenang-renang di atasnya ini adalah ‘isi’ dari bangunan prisma transparan yang terlihat dari luar gedung.
Mulyana membuat terumbu karang dan ikannya dari rajutan benang wol. Dan hasilnya sungguh luar biasa indah.
Bentuk bunga-bunga karang yang mungil terlihat seperti asli. Bila hanya dipandang sekilas, nyaris tak terlihat bahwa intalasi yang tampak spektakuler di depan mata kita adalah hasil rajutan, yang tentu bisa dibayangkan kerumitan saat membuatnya.

Foto: Yos
Aura
Karena setiap makhluk maupun benda di dunia ini memiliki daya tarik atau energi yang disebut aura. Hal inilah yang diolah oleh I Gusti Ngurah Udiantara lewat tiga karya lukis dari akrilik di atas kanvas.
Sang seniman dengan apik menggambarkan bagaimana aura secara visual menjadi warna yang berpendar dan membentuk gradasi yang pada akhirnya menghasilkan warna dan bentuk yang berbeda.

Foto: Yos
Menurut tim kurator ARTJOG 2018, Bambang Toko Witjaksono dan Ignatia Nilu, tema tahun ini adalah Pencerahan. Bagaimana lewat seni dengan khittahnya yang penuh kebebasan berekspresi menjadi medium yang sempurna untuk merefleksikan pembebasan manusia.
“Harapannya, pencerahan itu hadir lewat bentuk-bentuk yang dekat, sederhana, beragam dan tanpa paksaan,” demikian menurut tim kurator dalam pengantar mereka.
Dengan harga tiket Rp50.000, pengunjung dapat menikmati dan merayakan pencerahan hidup lewat karya cipta 54 seniman dari dalam dan luar negeri. Dengan sangat kreatif dan jenius, mereka mengolah ide menjadi bentuk yang mudah dinikmati secara visual, kemudian dicerna untuk menafsirkan dan memahami maksudnya.
Nama-nama besar seniman dalam negeri seperti Heri Dono, Nasirun, Entang Wiharso hingga Davy Linggar dan Syagini Ratna Wulan bersanding karya dengan seniman manca seperti seniman kelahiran Jepang yang tinggal di Australia Hiromi Tango juga pelukis asal Filipina Jigger Cruz. Tak mengherankan bila karya seni dalam ARTJOG sangat beragam, mulai dari lukisan, grafis, fotografi, instalasi, patung, hingga multimedia.
Berikut ini beberapa instalasi seni di ARTJOG 2018.

Foto: Yos
Sea Remembers
Karya Mulyana Mogus ini menjadi instalasi pertama yang bisa dinikmati pengunjung begitu melewati pintu masuk. Dan rupanya, terumbu karang yang berwarna-warni cantik dengan ikan-ikan kuning kecil yang berenang-renang di atasnya ini adalah ‘isi’ dari bangunan prisma transparan yang terlihat dari luar gedung.
Mulyana membuat terumbu karang dan ikannya dari rajutan benang wol. Dan hasilnya sungguh luar biasa indah.
Bentuk bunga-bunga karang yang mungil terlihat seperti asli. Bila hanya dipandang sekilas, nyaris tak terlihat bahwa intalasi yang tampak spektakuler di depan mata kita adalah hasil rajutan, yang tentu bisa dibayangkan kerumitan saat membuatnya.

Foto: Yos
Aura
Karena setiap makhluk maupun benda di dunia ini memiliki daya tarik atau energi yang disebut aura. Hal inilah yang diolah oleh I Gusti Ngurah Udiantara lewat tiga karya lukis dari akrilik di atas kanvas.
Sang seniman dengan apik menggambarkan bagaimana aura secara visual menjadi warna yang berpendar dan membentuk gradasi yang pada akhirnya menghasilkan warna dan bentuk yang berbeda.

Foto: Yos
Binds & Blinds
Prihatin dengan intoleransi yang belakangan kian marak, terutama penetapan nilai moral kepada orang lain, seniman Mella Jaarsma menciptakan karya berbentuk digital print di atas kayu ini.
“Lewat pengumuman di status berbagai media sosial, saya meminta orang-orang di Indonesia mengirimkan selfie pusar mereka. Ada 650 selfie pusar yang dikirimkan orang secara anonim,” ujar sang seniman.
Menurut Mella, moralitas dapat mengikat kita tapi juga bisa membutakan kita. Menurunya, daripada terus-menerus melihat keluar, lebih baik kita melihat ke dalam diri sendiri, dan sesekali ‘menatap pusar’ untuk mencapai akal sehat kita.

Foto: Yos
Prihatin dengan intoleransi yang belakangan kian marak, terutama penetapan nilai moral kepada orang lain, seniman Mella Jaarsma menciptakan karya berbentuk digital print di atas kayu ini.
“Lewat pengumuman di status berbagai media sosial, saya meminta orang-orang di Indonesia mengirimkan selfie pusar mereka. Ada 650 selfie pusar yang dikirimkan orang secara anonim,” ujar sang seniman.
Menurut Mella, moralitas dapat mengikat kita tapi juga bisa membutakan kita. Menurunya, daripada terus-menerus melihat keluar, lebih baik kita melihat ke dalam diri sendiri, dan sesekali ‘menatap pusar’ untuk mencapai akal sehat kita.

Foto: Yos
Penjajahan Belanda telah melahirkan istilah mooi indie, yaitu bentuk-bentuk lukisan romantisme keindahan Hindia Belanda dalam lansekap alam yang menghijau, kehidupan petani, juga kehidupan sosial yang terlihat adem tentrem. Tahun 1950-an pelukis S. Sudjojono yang merupakan founding father kesenian modern Indonesia mengeritik mooi indie yang tidak mengungkapkan realitas yang sesungguhnya.
Bakudapan Food Study Group menciptakan Re-Plating Mooi Indie yang berupa pemandangan persawahan yang menghijau indah dengan alisan sungai itu dari bahan makanan yang biasa kita makan sehari-hari: sayuran, bihun dan tempe.
Rupanya, ini adalah kritik si penciptanya akan kebijakan swasembada pangan yang juga menimbulkan dampak baru seperti monopoli sumber daya alam, perampasan tanah, juga maraknya perusahaan transgenik.

Foto: Yos

Foto: Yos
Smiling Angels From The Sky
Dari jauh, mereka seperti serombongan lebah yang sedang terbang. Begitu mendekat, yang segera tampak adalah wajah si makhluk itu, seperti manusia berwajah putih dengan bibir merah yang tersenyum (bagi saya lebih terlihat menyeringai) menampakkan geliginya yang putih. Inilah bidadari dalam intrepretasi seniman Heri Dono.
Menurut sang seniman, bidadarinya ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama tertentu. Baginya, bidadarinya ini adalah inspirasi itu sendiri. “Para bidadari tersenyum sebagai perlambang antusiasme dalam menghadapi masa depan,” demikian tulisnya. (f)
Baca Juga:
Melihat Lebih Dekat Polkadot Ikonik Karya Seniman Jepang Yayoi Kusama
Pameran Manifesto 6.0, Multipolar: Interpretasi 20 Tahun Reformasi dalam Seni Rupa
Pameran Pertama Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer
Bakudapan Food Study Group menciptakan Re-Plating Mooi Indie yang berupa pemandangan persawahan yang menghijau indah dengan alisan sungai itu dari bahan makanan yang biasa kita makan sehari-hari: sayuran, bihun dan tempe.
Rupanya, ini adalah kritik si penciptanya akan kebijakan swasembada pangan yang juga menimbulkan dampak baru seperti monopoli sumber daya alam, perampasan tanah, juga maraknya perusahaan transgenik.

Foto: Yos
Bila dipandang dari jauh, instalasi ini sekilas tampak seram, seperti hantu perempuan berbaju putih yang koyak di sana-sini. Namun, ketika mendekat dan melihat lebih teliti, tampak gambar-gambar kecil yang detail dan rumit.
Inilah Kite, karya Kevin Zhang mengadaptasi permainan layang-layang tradisional dari Tiongkok. Menurutnya, layang-layang melambangkan kebebasan dan keindahan manusia. Layang-layang juga mampu terbang karena manusia. Menurut Kevin, Kite bisa menggiring orang-orang yang terperangkap kegelapan menuju terang.
Inilah Kite, karya Kevin Zhang mengadaptasi permainan layang-layang tradisional dari Tiongkok. Menurutnya, layang-layang melambangkan kebebasan dan keindahan manusia. Layang-layang juga mampu terbang karena manusia. Menurut Kevin, Kite bisa menggiring orang-orang yang terperangkap kegelapan menuju terang.

Foto: Yos
Smiling Angels From The Sky
Dari jauh, mereka seperti serombongan lebah yang sedang terbang. Begitu mendekat, yang segera tampak adalah wajah si makhluk itu, seperti manusia berwajah putih dengan bibir merah yang tersenyum (bagi saya lebih terlihat menyeringai) menampakkan geliginya yang putih. Inilah bidadari dalam intrepretasi seniman Heri Dono.
Menurut sang seniman, bidadarinya ini tidak ada sangkut pautnya dengan agama tertentu. Baginya, bidadarinya ini adalah inspirasi itu sendiri. “Para bidadari tersenyum sebagai perlambang antusiasme dalam menghadapi masa depan,” demikian tulisnya. (f)
Baca Juga:
Melihat Lebih Dekat Polkadot Ikonik Karya Seniman Jepang Yayoi Kusama
Pameran Manifesto 6.0, Multipolar: Interpretasi 20 Tahun Reformasi dalam Seni Rupa
Pameran Pertama Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer