Dots Obsession
Foto : Citra Narada Putri | Femina Media
Publik Indonesia sudah tak sabar menantikan pameran Yayoi Kusama, seniman Jepang yang terkenal dengan ciri khas polkadot dan jaringnya. Sebelum resmi dibuka akhir minggu ini, Femina mendapatkan kesempatan pertama untuk melihat langsung pameran bertajuk Yayoi Kusama : Life is The Heart of a Rainbow pada 7 Mei lalu.
Memasuki pelataran Museum Macan, Femina segera tenggelam dalam lautan polkadot. Bola-bola besar berwarna kuning dengan polkadot hitam.
Bola-bola kuning besar berpolkadot yang akrab disebut Dots Obsession (2013/2016) tersebut, seperti magnet yang menarik siapapun untuk masuk dan melesak ke dunia Yayoi Kusama yang eksentris. Di sini juga terdapat sebuah ruangan tiga dimensi berlatar cermin dengan bola-bola kuning berpolkadot hitam, yang banyak dimanfaatkan untuk berfoto dan swafoto.
Narcissus Garden
Foto : Citra Narada Putri | Femina Media
Masuk ke bagian dalam museum, bola-bola cermin tersebar di lantai. Ini adalah salah satu instalasi tertua yang pernah dibuat oleh Yayoi Kusama tahun 1966 pada Bienalle, yang diberi tajuk Narcissus Garden. Karya ini disebut ‘Narcissus Garden’, karena dari bola-bola cermin ini kita dapat melihat diri kita sendiri, sebagai sebuah gambaran terhadap sisi narsis pada setiap manusia.
Infinity Nest.
Foto : Citra Narada Putri | Femina Media
Masuk lebih jauh, kami menemukan sebuah transformasi motif yang berkembang seiring perjalanan Yayoi selama tujuh dekade. Pada awal menekuni seni tahun 1950an, Yayoi fokus pada motif polkadot, lalu beralih ke motif jaring, kemudian bentuk labu. Setelah sempat menekuni seni dalam warna monokrom, ia kembali motif polkadot dan menyelesaikan Infinity Nets. Jadi bisa dibilang, lukisan ini memakan waktu hingga 7 dekade.
Di sebuah sudut lainnya, Anda akan menemukan sebuah ruangan dengan polkadot hitam yang mana di dalamnya terdapat sebuah instalasi cermin yang memberikan kesan polkadot tak terhingga. Namun di sini, Anda diharuskan untuk melepaskan alas kaki.
The Spirit of The Pumpkins Descended Into The Heaven.
Foto : Citra Narada Putri | Femina Media
Pada sejumlah sudut museum, Anda akan menemukan banyak instalasi peeking box (kotak intip) yang unik. Dimana pengunjung museum dapat mengintip sebuah ruang penuh kreasi menarik polkadot atau kotak-kotak dari celah yang sudah tersedia. Salah satu instalasinya adalah The Spirit of The Pumpkins Descended Into The Heaven (2015) dan I Want to Love on a Festival Night (2017).
Love Forever. (Foto : Citra Narada Putri | Femina Media)
Walau kebanyakan karyanya menggunakan warna-warna terang yang mencuri perhatian, ternyata Yayoi juga sempat mengalami fase dimana ia mengeksplorasi seni dari sisi hitam putih. Rangkaian karya seni Love Forever ini yang ia buat tahun 2004 sampai 2007 ini berisi puluhan lukisan dengan gambaran mata, polkadot, profil wajah, garis hingga bunga-bunga dalam tone warna monokrom. Ini juga menunjukkan sisi baru dalam kekaryaan Yayoi Kusama.
Setelah dimanjakan dengan seni hitam putih ruangan yang dipenuhi karya My Eternal Soul (2009) kembali menyalakan jiwa seni dengan warna-warna yang lebih dinamis. Sebagai salah satu seri lukisan terbesarnya, Yayoi banyak mengeksplor motif abstrak dengan gambar bunga, mata, profil wajah, polkadot dan jaring, yang berdampingan dengan instalasi-instalasi patung lunak penuh warna dengan berbagai macam bentuk.
Salah satu yang tak boleh terlewatkan ketika mengunjungi pameran ini adalah proyek interaktif Obliteration Room. Namun, Anda harus menggunakan eskalator untuk naik ke lantai 6, dimana akan ditemukan sebuah ruangan serba putih. Di sini Anda akan diberikan stiker polkadot dengan berbagai warna dan ukuran, untuk nantinya Anda tempelkan di dinding atau objek apapun yang Anda suka secara bebas. Instalasi seperti ini telah dipamerkan di lebih dari 15 negara.
Bagi yang bertanya-tanya mengapa Yayoi begitu mencintai polkadot hingga hampir disematkan pada setiap karyanya, polkadot-polkadot tersebut adalah aura yang ia lihat di seputar objek yang menurutnya berbicara ketika ia mengalami halusinasi. Maklum saja, Yayoi memiliki rekam jejak mengidap sejumlah kondisi mental seperti bipolar disorder, obsessive compulsive disorder, schizophrenia hingga Basedow’s disease.
Seni pun seakan menjadi bagian dari terapinya. Ia ingin para penikmat seni merasakan apa yang ia lihat dan alami ketika halusinasinya berterbangan dalam imajinya.
Pameran pertama Yayoi Kusama di Indonesia ini akan dipamerkan pada 12 Mei hingga 9 September di Museum MACAN. Kurang lebih ada sekitar 130 karya eksentris yang ia buat selama 70 tahun kariernya sebagai seniman.
Museum MACAN adalah lokasi ketiga dan terakhir dalam tur pameran internasionalnya, setelah National Gallery Singapore dan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (QAGOMA). Ini jadi sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. (f)
Baca Juga :
Pameran Yayoi Kusama Pertama di Indonesia
Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN): Wajah Baru Ruang Seni Modern
Pameran Pertama Maestro Sastra Indonesia, Pramoedya Ananta Toer