Foto: FLW
femina berkunjung langsung ke dua lokasi Venice Art Biennale 2017 pada 20-24 Juni lalu di Arsenale dan Giardini, inilah 7 karya seni kontemporer pilihan femina.
Foto: FLW
1/ Mark Bradford, seniman kulit hitam asal Amerika ini memberikan pernyataan yang cukup kuat tentang kampung halamannya lewat karya seni yang ia tampilkan di paviliun Amerika. Mengambil tema Tomorrow is Another Day, seniman yang tertarik dengan tema migran dan kesenjangan sosial ini, menampilkan bangunan kokoh dengan pilar dan pintu besar di bagian luar. Sedangkan di bagian dalam, tokoh legenda Yunani, Medusa menjadi tema utamanya.
Foto: FLW
Foto: FLW
Foto: FLW
2/ Tahun ini, karya seni yang bermain dengan wol, kain, dan benang tampak mendominasi. Salah satunya karya seniman senior berusia 83 tahun asal Amerika, Sheila Hicks, bertema Escalade Beyond Chromatic Lands. Warna-warni kain dan wol yang memenuhi dinding menarik siapa pun yang melihat untuk menyentuh dan merebahkan diri di hamparannya.
Foto: FLW
Cerita pun mengalir dari pertemuan bangsa Polynesian dan Eropa, hingga kematian Kapten Cook.
Foto: FLW
Foto: FLW
Sang seniman Alicja Kwade asal Berlin, Jerman, memberi judul Pars Pro Toto untuk kosmologi terbaru ini.
Foto: FLW
Foto: FLW
5/ Dari luar, ornamen warna warni menyambut pengunjung. Meriah! Memasuki bagian dalam kita dibawa melintasi sejarah Korea Selatan. Lee Wan lewat karya berjudul Proper Time memenuhi dinding ruangan serba putih dengan 688 buah jam dinding.
Setiap jam memiliki pergerakan jarum jam yang kecepatannya berbeda-beda, tergantung dari besar pendapatan seseorang. Paviliun ini menjadi salah stau favorit pengunjung di Giardini.
Foto: FLW
Foto: FLW
7/ Karya seniman Prancis, Micgel Blazy, menampilkan sepatu-sepatu lusuh berisi aneka ragam tanaman. Karya instalasi bertajuk Collection de Chaussures ini selalu berhasil membuat pengunjung berhenti dan membidikkan lensa kamera mereka. (f)