Foto: FLW
 
Venice Art Biennale 2017 yang diselenggarakan untuk ke 57 kalinya ini, memercayai Christina Macel sebagai kurator. Pameran yang pertama kali diselenggarakan tahun 1895 ini, tahun ini mengangkat tema Viva Arte Viva, sebuah perayaan untuk seni. Ada 120 seniman dari 51 negara, termasuk Indonesia yang turut berkontribusi dalam ajang seni kontemporere terbesar di dunia.

femina berkunjung langsung ke dua lokasi Venice Art Biennale 2017 pada 20-24 Juni lalu di Arsenale dan Giardini, inilah 7 karya seni kontemporer pilihan femina.
 
 
 

Foto: FLW

1/ Mark Bradford, seniman kulit hitam asal Amerika ini memberikan pernyataan yang cukup kuat tentang kampung halamannya lewat karya seni yang ia tampilkan di paviliun Amerika. Mengambil tema Tomorrow is Another Day, seniman yang tertarik dengan tema migran dan kesenjangan sosial ini, menampilkan bangunan kokoh dengan pilar dan pintu besar di bagian luar. Sedangkan di bagian dalam, tokoh legenda Yunani, Medusa menjadi tema utamanya.


Foto: FLW


Foto: FLW
 
 
 


Foto: FLW

2/ Tahun ini, karya seni yang bermain dengan wol, kain, dan benang tampak mendominasi. Salah satunya karya seniman senior berusia 83 tahun asal Amerika, Sheila Hicks, bertema Escalade Beyond Chromatic Lands. Warna-warni kain dan wol yang memenuhi dinding menarik siapa pun yang melihat untuk menyentuh dan merebahkan diri di hamparannya.
 
 
 

Foto: FLW
 
3/ Film menjadi salah satu media yang dipilih banyak seniman untuk berekspresi di Art Biennale ke-57. Seperti Lisa Reihana mewakili New Zealand, menampilkan high-tech video panorama dengan latar kehidupan masyarakat primitif di abad ke-19.

Cerita pun mengalir dari pertemuan bangsa Polynesian dan Eropa, hingga kematian Kapten Cook.

Foto: FLW
 
 


Foto: FLW
 
4/ Tidak hanya di dalam ruangan, instalasi seni juga tampil di luar ruangan dengan daya tarik yang berbeda. Natural stone dalam berbagai ukuran dari kecil hingga besar menyerupai planet Pluto, Mars, dan Merkurius tersusun ibarat bola biliar yang menyebar saat terkena pukulan.

Sang seniman Alicja Kwade asal Berlin, Jerman, memberi judul Pars Pro Toto untuk kosmologi terbaru ini.

Foto: FLW
 
 
 



Foto: FLW

5/ Dari luar, ornamen warna warni menyambut pengunjung. Meriah! Memasuki bagian dalam kita dibawa melintasi sejarah Korea Selatan. Lee Wan lewat karya berjudul Proper Time memenuhi dinding ruangan serba putih dengan 688 buah jam dinding.

Setiap jam memiliki pergerakan jarum jam yang kecepatannya berbeda-beda, tergantung dari besar pendapatan seseorang. Paviliun ini menjadi salah stau favorit pengunjung di Giardini.
 
 
 
 

Foto: FLW
 
6/ Jangan lewatkan pula paviliun Indonesia yang terletak di Arsenale. Tintin Wulia memamerkan tiga instalasi seni dalam tema 1001 Martian Homes. Seniman kelahiran Bali ini bercerita tentang waktu dan ruang yang menghubungkan manusia. (Baca juga: Tintin Wulia Hadirkan Wajah Indonesia di Venice Art Biennalle 2017)

 
 


Foto: FLW
 
7/ Karya seniman Prancis, Micgel Blazy, menampilkan sepatu-sepatu lusuh berisi aneka ragam tanaman. Karya instalasi bertajuk Collection de Chaussures ini selalu berhasil membuat pengunjung berhenti dan membidikkan lensa kamera mereka. (f)