
Dok. Museum Macan
Seminggu sebelum resmi dibuka, pameran seni pop kontemporer bertajuk Yayoi Kusama: Life is The Heart of a Rainbow telah mencuri perhatian dan menjadi pembicangan, baik oleh penikmat seni atau kalangan milenial yang tengah mengikuti tren terkini. Ketika akhirnya pameran tersebut dibuka untuk pertama kalinya tanggal 12 Mei di Museum Macan, tiket pun ludes terjual bahkan dua hari sebelum hari H.
Ini menunjukkan euforia yang besar dari masyarakat untuk mencari tahu dan melihat sendiri karya-karya sang seniman nyentrik, Yayoi Kusama, yang terkenal dengan instalasi dengan pola polkadot, jaring hingga labu aneka warna cerah yang mencolok.
Di balik karya-karyanya yang ikonis, ternyata tak banyak yang tahu bahwa seniman yang lahir pada 22 Maret 1929 ini memiliki banyak cerita dalam hidupnya. Berikut kami rangkum tujuh hal tentang Yayoi Kusama yang perlu Anda tahu.
1/ Mengidap Lebih dari 3 Gangguan Kesehatan Jiwa
Sudah sejak usia 10 tahun Yayoi kerap mengalami halusinasi. Semakin dewasa, Yayoi semakin menyadari bahwa ia juga mengidap sejumlah gangguan kesehatan lainnya seperti bipolar disorder, obsessive compulsive disorder, schizophrenia hingga Basedow’s disease.
Saat ini secara suka rela ia tinggal di rumah sakit jiwa di Tokyo, yang juga telah menjadi rumahnya sejak tahun 1977.
2/ Polkadot, Jaring dan Bunga sebagai Gambaran Halusinasi
Ketika pertama kali mengalami halusinasi, Yayoi menggambarkannya sebagai kilatan cahaya, aura warna-warni, pola polkadot hingga terdapat bunga yang bicara padanya. Tak heran jika hampir di semua karyanya disematkan elemen-elemen ini. Yayoi ingin para penikmat karyanya tahu bahwa inilah yang ia lihat dan alami ketika halusinasinya beterbangan dalam imajinya.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
3/ Seni Adalah Media Terapi dan Pemberontakan
Seni telah banyak membantunya melalui masa-masa berat ketika ia mengalami halusinasi berkepanjangan. Bahkan Yayoi menyebutkan bahwa seni adalah meditasi seni.
Namun bukan hanya sebagai media terapi atas gangguan kesehatan jiwa yang ia idap sejak usia 10 tahun, seni sudah sejak dulu kala sebagai wadahnya untuk memberontak dari kedua orang tuanya yang tak pernah mengijinkan Yayoi untuk melukis.
Ia tak pernah suka dengan kungkungan orang tuanya yang kerap menyuruhnya menyingkirkan kanvas dan kuas lukis. Ketika dewasa, ia semakin berani berkata tidak pada mereka, dan membuktikan bahwa ia mencintai dunia seni dengan serius, bahkan hingga membuatnya nekat pergi ke New York untuk mengeksplorasi seninya lebih luas.
4/ Amerika yang Membesarkannya
Walau lahir di Matsumoto, Nagano, Jepang, Yayoi mengaku bahwa karya seninya banyak mengadaptasi gaya avant garde dari Amerika Serikat. Bahkan saat dulu belajar kesenian Nihonga di Kyoto Municipal School of Arts & Crafts tahun 1948, ia tak menikmatinya. Ia lebih menyukai gaya berkesenian orang barat yang lebih bebas.
Inilah juga yang membawa Yayoi pergi ke New York pada tahun 1957 ketika ia berusia 27 tahun, untuk lepas dari budaya Jepang yang menurutnya sangat feodal dan kerap merendahkan wanita pada era itu. Mulai saat itulah Yayoi lebih bebas berkarya, dan dengan cepat namanya kian dikenal para penikmat seni karena telah beberapa kali mengadakan pameran seni bahkan pada tahun pertama sejak ia tiba di Amerika Serikat.
5/ Banyak Mengangkat Tema Seks
Walau datang dari keluarga Jepang dengan budaya timurnya yang kalem, ternyata tak membuat Yayoi takut untuk menunjukkan kebebasannya berekspresi. Puluhan tahun belakangan, Yayoi banyak mengeksplorasi instalasi seni dengan tema seks.
Bukan tanpa sebab, Yayoi kecil memiliki masa lalu yang kelam. Ibunya kerap menjadi korban kekerasan oleh ayahnya yang suka berselingkuh. Bahkan sang ibu sering menyuruh Yayoi untuk memata-matai sang ayah saat sedang berselingkuh dengan wanita lain. Pengalaman buruk ini membuat Yayoi tak pernah tertarik untuk berhubungan seksual. Tema seks ini pun menjadi media untuk menggambarkan dirinya yang aseksual.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
6/ Pelopor Wanita Seniman Asia Pop-Kontemporer
Instalasi seni cermin Infinity Mirrored Room yang terkenal membuat Yayoi Kusama didapuk sebagai pelopor pertama wanita seniman dari Asia yang mengedepankan konsep pop-kontemporer di tahun 1960an.
“Ruang cermin ini adalah karya yang mencerminkan kemampuannya melampaui genre,” tutur Mika Yoshitake, kurator asosiasi seni Hirshhorn, yang melihat bahwa di era 60an belum ada wanita seniman dari Asia yang mengangkat genre seni seperti yang dilakukan Yayoi.
7/ Wanita Seniman Paling Laris di Dunia
Karya Infinity Net yang dibuat Yayoi, pernah mendapatkan kritik dari seorang kurator seni Donald Judd yang membuat karyanya hanya dihargai 200 dolar AS. Namun dengan semakin terkenalnya Yayoi, kini karya tersebut bisa dihargai sampai 7,1 juta dollar AS di rumah lelang Christie.
Ini membuat Yayoi menjadi wanita seniman paling laris di dunia dan lukisan Infinity Net paling banyak dicari. Bahkan, pameran Yayoi Kusama: Infinity Obsession yang diadakan di Louisiana Museum of Modern Art, Kopenhagen pada tahun 2015 adalah pameran seni yang menarik penonton terbesar di dunia. (f)
Baca Juga :
Sebelum Datang ke Pameran Yayoi Kusama di Museum Macan, Berikut Aturan yang Perlu Diketahui
Melihat Lebih Dekat Polkadot Ikonik Karya Seniman Jepang Yayoi Kusama
Pameran Yayoi Kusama Pertama di Indonesia