Foto: 123RF

Dihasilkan dari buah kelapa (Cocos nucifera), santan kerap dijadikan kambing hitam sebagai dalang di balik naiknya kadar kolesterol. Susah untuk tidak mengakui jika cita rasanya kerap menggoda. Apalagi, hampir seluruh makanan populer Indonesia, baik gurih maupun manis, menggunakannya. Kehadirannya sangat dekat dengan keseharian kita. Kendatipun demikian, sudahkah Anda mengenal santan? Yuk, berkenalan dengan santan lebih jauh.
           
1/ Santan didapat dari hasil ekstraksi kelapa yang sudah diparut. Oleh karena itu, pada dasarnya  tiap kelapa dapat menghasilkan santan. Proses penambahan cairan hanya menjadi pembeda konsistensinya. Jika dalam proses pemerasan ditambahkan banyak cairan, maka akan menjadi santan encer. Jika sedikit, akan menjadi santan kental.  

2/ Pemilihan buah kelapa yang tepat menjadi kunci kualitas santan. Buah kelapa berumur sekitar 10 bulan diyakini sebagai sumber santan yang ideal. Jika membelinya di pasar, biasanya kelapa sudah dilepas dari batoknya. Pilih yang kulit arinya berwarna cokelat tua gelap. Pastikan masih ada air di dalamnya. Hindari kelapa yang retak dan kering, karena mengandung sedikit santan. Diameter kelapa yang besar akan memudahkan proses pemarutan secara manual di rumah.

(Klik page di bawah untuk lanjutkan faktanya)
 
 


Foto: 123RF
 
3/ Santan adalah tempat yang digemari mikroba untuk berkembang biak. Itu sebabnya, santan lekas menjadi asam bila tidak ditangani secara benar. Jadi, untuk rasa terbaik, segera gunakan santan setelah diperas. Peralatan memarut yang berkarat dan tidak bersih  juga turut andil  menurunkan kualitas santan.
 
4/ Demi alasan kepraktisan, saat ini santan dapat dibeli dalam berbagai bentuk. Yang paling lazim ditemui adalah krim santan (coconut cream). Krim ini dibuat dari santan alami yang melalui proses ultra high temperature (UHT) dengan penambahan bahan pengemulsi, lalu dikemas dalam tetrapack yang sudah disterilisasi. Ada juga santan dalam bentuk bubuk. Praktis! Cukup tambahkan air panas.
 
5/ Dalam 100 gram santan (coconut cream) terdapat sekitar 229 kalori. Mengandung 68% air, 24% lemak, 6% karbohidrat, dan 2% protein.  Komposisi lemaknya meliputi 21 gram lemak jenuh, yang setengahnya merupakan asam laurat (asam lemak jenuh berantai sedang) dan diperkaya dengan vitamin A, D, dan K, termasuk kalsium, magnesium, dan zat besi. 
 
 


Foto: 123RF
 
6/ Takut kolesterol? Asam lemak jenuh berantai sedang atau medium chain triglyceride (MCT) yang terkandung dalam santan berbeda dengan asam lemak jenuh berantai panjang atau long chain triglyceride (LCT). Jika mengonsumsi LCT, metabolisme tubuh akan menyimpannya dalam jaringan adiposa dalam seluruh tubuh, seperti di bawah kulit dan otot, sebagai cadangan energi. Sedangkan MCT langsung diubah oleh hati menjadi energi dan tidak disimpan dalam tubuh. Jadi, tak selamanya mengonsumsi santan itu tidak baik. Namun, sebaiknya konsumsi sesuai batas porsi.

7/ Daerah Sumatra, terutama Padang, merupakan pengguna santan terbanyak di Indonesia. Kelezatan kulinernya diakui hingga mancanegara. Terbukti saat CNNgo menobatkan rendang sebagai makanan terlezat pada tahun 2011, berdasarkan survei pada 35.000 orang pembacanya. Tidak hanya masakan, es kelapa dan es cendol juga ikut menorehkan prestasi sebagai minuman terenak pada urutan 19 dan 45 dari daftar 50 minuman terenak di dunia pada tahun yang sama. Tahun ini pun, rendang tetap mempertahankan posisinya di urutan teratas.
 
8/ Santan dikenal dalam berbagai masakan tradisional di Asia Pasifik, seperti Thailand, India, Sri Lanka, Malaysia, Filipina, Hawaii, sampai Brasil. Bahkan, saat ini banyak makanan bersantan yang diekspor ke Barat. Malah, di Amerika Serikat, salah satu gerai kopi terkemuka Starbucks menawarkan coconut milk sebagai pilihan alternatif pengganti susu.(f) 

Baca juga:
Ini Bedanya Santan Peras, Santan Instan, dan Santan Bubuk
Puding Lapis Saus Santan