Bernuansa bata yang hangat/ Foto: dok. Sudestada/ Honda Tranggono

Di bulan pertama kehadirannya, lini masa media sosial para petualang kuliner Jakarta berhasil diramaikan oleh foto-foto Sudestada. Restoran yang berlokasi di Alamat: Jl. Biliton No.15, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat, ini adalah besutan chef Victor Taborda. Kehadirannya memberi warna baru panggung kuliner Jakarta dengan napas Argentina.

Di Jakarta, Victor sudah lama terkenal sebagai pemasak hidangan Argentina dan pengajar di beberapa tempat kursus memasak. “Ini salah satu cara terbaik menikmati daging,” terang Victor, saat ditanya tentang masakan kampung halamannya itu.

Di Sudestada, menu grill menjadi daya tarik. Bumbu sederhana menjadi ciri khasnya. Victor menyerokkan bara ke bawah grill yang didatangkan dari Argentina. Kayu pohon rambutan dijadikan bahan bakar untuk menambah aroma manis. Strip loin asal Argentina ia pilih saat menjamu femina, di antara opsi US beef dan Australian beef. Hanya ditambahkan sedikit garam, lalu ia letakkan di atas grill panas. 

“Dengan panas, bukan dengan api,” jelasnya, untuk mendapatkan maillard reaction yang dipercaya menjadi pencetus kelezatan. Sepuluh menit kemudian, Bife De Chorizo A Caballo dihidangkan.

Mengunyahnya minim perlawanan. Juicy, lantaran kadar lemaknya. Saus chimichurri yang ringan menyumbang sensasi segar. Ini saat merasakan cita rasa daging sebenarnya. Tanpa intervensi saus medok yang terkadang mengalihkan lidah. Sosis house made dan kentang juga menjadi peserta menu ini.

Menu apa lagi yang bisa dinikmati di Sudestada? Lanjutkan membaca.
 
 

 
Foto: dok. Sudestada/ Honda Tranggono
 

Pemuja daging wajib memesan Matambre. Hidangan pembuka ini dibuat dari lapisan tipis daging sapi antara kulit dan iga. Bumbu dan sausnya sama sederhana dengan menu sebelumnya. Meleleh di mulut dan penuh cita rasa. Matambre Sandwich hadir untuk perut yang lapar, namun lidah tetap ingin dimanja. 

Hand-cut Beef Empanada tak boleh terlewat saat menyambangi restoran bernuansa sudut La Boca di Kota Buenos Aires ini. Meski steak menjadi primadona, sajian laut juga menjadi khas negeri Argentina. Pulpo Con Papas Y Salchicha, atau gurita panggang, banyak dipesan karena tampilannya menawan. 

Ada juga Patagonian Toothfish, fillet ikan seabass berlapis bread crumb yang di-panfried. Lapisan garing bread crumb bertemu daging ikan yang lembut. Disajikan bersama sup chickpeas dan bayam.

Menu sarapan Spanish Broken Egg menjadi rekomendasi chef. Telur ditumis dengan bawang bombay bersama sosis dan kentang. Tambahan foam potato mengikat semua rasa. Cita rasanya ‘hangat’. “Seperti masakan nenek,” ucapnya.

Menurut Victor, hal terpenting saat memasak adalah kejujuran. Itu sebabnya, ia tak ingin memberikan para pelanggannya rasa artifisial. “Karenanya, kualitas harus dijaga. Supaya pelanggan bisa merasakan lezatnya daging atau bahan lain yang dimasak,” ujar chef yang fasih berbahasa Indonesia ini. (f)

Baca Juga:

Kejutan Chef Akira Di Jakarta
Makan Siang Sehat dengan Superfood Bento Box
Demie Bakmi, Bar Bakmi ala Jepang di Jakarta Selatan

Isyana Atiningmas

Editor: Nuri Fajriati