
Foto: Dok. GCM Group
Tahun ini, pemenang Lomba Perancang Mode akan mendapatkan uang tunai 15 juta Rupiah dari penyelenggara, cincin emas 3gr dari UBS Gold, dan kelas Fashion Short Course di Instituto di Moda Marangoni, Firenze, Italia.
Tahun ini, Dewan Juri memilih Fredericka Cynthia Dewi sebagai juara pertama. Karyanya yang dituangkan dalam warna lembut, dan potongan detail tangan Victorian Era. Tak hanya itu, penerapan teknik batik digunakannya untuk membuat motif pada beberapa potongan koleksinya.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

Foto: Dok. GCM Group
Purana pernah berkolaborasi bersama Humbang Kriya pada tahun yang lalu, namun kolaborasi dengan Windy Chandra yang lebih akrab pada pecinta mode tanah air sebagai perancang gaun malam dan pengantin, cukup mencuri perhatian.
Material yang diwarnai dengan pigmen alami seperti kulit biji kopi, kulit jengkol, kayu meranti sisa industri mebel, kulit kayu putih, daun jati, tanaman hisik-hisik, dan gamak-gamak, dituangkan dalam bentuk tie dye (shibori) dan tahun ini, Humbang Kriya juga menampilkan EcoPrint mereka.
Koleksi Purana yang ringan dan wearable dan sejalan dengan misi Humbang Kriya tampil menawan untuk Anda yang menyukai busana ringan dalam nuansa warna alam, sedangkan koleksi busana siap pakai Windy Chandra tampak urban dan elegan, meski memang ada beberapa tampilan yang tampak berbeda tanpa adanya korelasi dalam satu koleksi yang sama.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

Foto: Dok. GCM Group
Label make up untuk penata rias profesional dan penggemar warna-warna berani, Make Over pun turut menyelenggarakan presentasi mereka. Presentasi Make Over ini dapat dikatakan sebuah presentasi yang amat predictable. Kembali berkolaborasi dengan ketiga penata rias seperti tahun lalu, Philipe Karunia, Marlene Hariman, dan Dhirman Putra, Make Over juga menampilkan tiga orang perancang untuk menampilkan koleksi terbaru mereka.
Kali ini Make Over menggandeng Albert Yanuar dan Yosafat Dwi Kurniawan disamping Tities Saputra yang selama beberapa tahun terakhir juga ditampilkan oleh Make Over. Koleksi ketiganya pun mudah ditebak. Koleksi Yosafat dengan permainan printed material dengan siluet pas badan, Albert Yanuar dengan chinoiserie dan qipao dress yang ditampilkan dramatis dengan kejutan yang tak lagi mengejutkan, dan Tities Saputra yang masih saja bermain dengan formula warna cerah, printed illustration, dan influencer yang berjalan untuknya, tanpa ada peningkatan pada kerapihan produksi dan konsep desain yang matang.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

Foto: Dok. GCM Group
Di malam harinya, presentasi untuk para pria digelar. Bekerjasama dengan sebuah majalah untuk pria di Indonesia, Ai Syarief dengan labelnya Ai Syarif 1965, Salvi Arzharael dengan label Swank, Wilsen Willim, dan Mel ahyar XY, keempatnya menampilkan rangkaian busana pria untuk tahun mendatang.
Ai Syarif 1965 mengambil inspirasi dari bintang Hollywood legendaris, Charlie Chaplin. Nuansa monokromatik berhiaskan grafis wajah karakter khas Charlie Chaplin, The Tramp, dalam gaya yang eklektik dan muda. Aksen topi pun muncul di berbagai tampilan, sayangnya topi yang dipilih bukanlah bowler hat yang menjadi ciri khas Chaplin.
Setelah 8 tahun berkarya, untuk pertama kalinya, Swank yang didirikan oleh Salvi Arzharael menjajal panggung Jakarta Fashion Week untuk pertama kalinya, masih mengusung konsep premium streetwear, berbagai tampilan dihiasi bordir ilustrasi dalam permainan komposisi siluet yang tergolong unik. Dengan desain yang tergolong aman untuk debut koleksinya di Jakarta Fashion Week, finishing dan keseluruhan tampilan seharusnya dapat lebih ditingkatkan lagi untuk presentasi selanjutnya.
Walau baru mulai mempresentasikan koleksinya beberapa tahun lalu di berbagai panggung mode ternama Ibukota, Wilsen Willim tampil memukau dengan koleksi busana prianya. Nuansa warna perak dan monokromatik yang wearable namun tetap tampil posh. Tampilan riasan mata dengan lampu LED pada kelopak mata dan glitter yang menghiasi tatanan rambut model tampak menyempurnakan presentasi yang dihiasi tatanan lampu yang misterius dan futuristik.
Presentasi malam hari itu ditutup oleh presentasi dari Mel Ahyar XY. Busana pria yang didesain untuk ‘lelaki sejati’ tampak cukup playful dengan permainan corat-coret dan ilustrasi aneka warna di berbagai potong busana yang ditampilkan. Nampak ada sedikit diskoneksi antara inspirasi dan hasil desain yang dituangkan oleh tim Mel ahyar XY malam hari itu.
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

Foto: Dok. GCM Group
Lagi-lagi, presentasi terbaik hari ke-3 Jakarta Fashion Week 2020 justru terselenggara pada siang hari. Kali ini nama senior di dunia wastra dan mode Indonesia, BIN House yang dikepalai Obin Komara tampil memukau bagi para pecinta mode ataupun penggemar karya Obin yang tampil mengenakan karya BIN House dengan bangga siang hari itu.
Tampilan busana etnik kontemporer yang tampak modern dengan tetap menjaga tradisi menjadi ciri khas BIN House. Permainan warna vibrant, hitam, ataupun serba putih, dituangkan dalam berbagai busana atasan etnik, kain batik, selendang, stola, ikat rambut, ataupun luaran.
Tidak ada pengolahan material yang tidak matang, semua tampilan terkonsep dan dieksekusi dengan baik, sebuah hal yang sudah sewajarnya untuk sebuah rumah mode yang telah melegenda.
Pagelaran Jakarta Fashion Week masih akan berlangsung di Senayan City pada dua area, Fashion Tent dan Fashionlink, hingga tanggal 28 Oktober 2019. (f)
Baca Juga
Semangat Ramah Lingkungan Pada Jakarta Fashion Week 2020
Kiprah Desainer Muda di Jakarta Fashion Week 2020 Hari Kedua
Ulasan Mode Femina Untuk Jakarta Fashion Week 2020 Hari Pertama