Sejak tahun 1979, Lomba Perancang Mode Femina Group menjadi titik awal karier bagi banyak desainer muda Indonesia. Selama 38 tahun, LPM telah sukses melahirkan talenta-talenta di industri fashion tanah air. Kelima nama di bawah ini lah buktinya..



Chyntia Tan

Melalui label ‘Cynthia Tan’ pemenang ketiga LPM 2011 ini dikenal sebagai desainer spesialis gaun pengantin. Kini desainer berusia 24 tahun tersebut tengah mengembangkan tiga labelnya Cynthia Tan Bride, Cynthia Tan Suit, dan Cynthia Tan Ready to Wear. Gaya dan kepribadiannya menggambarkan karyanya yang cantik, modern, berani, dan mandiri. Desainnya selalu penuh dengan detail cantik dengan potongan yang fit di tubuh. Rancangan Cynthia bahkan pernah digunakan oleh boyband asal Irlandia Boyzone saat konser di Jakarta.
 


Lulu Lutfi Labibi

Berkat tangan dinginnya, kain lurik asli Yogyakarta menjadi tren yang mendunia. Pemenang pertama LPM 2011 ini tak hanya sukses mengangkat batik kontemporer, sarung goyor Klaten dan tenun ikat Jepara pun tampil menjadi sebuah pakaian yang wearable.
Kebanyakan desain busana Lulu berfokus pada teknik draping dan estetika Jepang. Lulusan Institut Seni Indonesia, Yogyakarta tersebut memainkan desainnya dengan tali dan kain yang dililit, ditumpuk dan juga diikat. Hal ini membuat para pelanggan label Lulu Lutfi Labibi dapat mengkreasikan sekaligus memadupadankan busana mereka sendiri sesuai keinginan.
 


Billy Tjong

Billy Tjong merupakan jebolan LPM 2006. Meski tidak mengawali kariernya sebagai karyawan swasta, Billy memberanikan diri untuk sukses mengembangkan koleksi ready-to-wear dengan motif mirror print teknik digital print yang diambil dari hobi fotografi-nya.. Karya Billy selalu terbilang unik dan fresh. Tidak heran kalau setiap tahun Billy menjadi salah satu desainer yang paling banyak dinantikan koleksinya di Jakarta Fashion Week. Karyanya tidak hanya dikenal di Tanah Air, tapi juga mancanegara seperti Hong Kong Fashion week 2013.
 
 


Friederich Herman
Desainer muda pemenang kedua LPM 2011 ini nggak hanya jago dalam merancang busana tapi juga memiliki passion besar sebagai fashion illustrator. Karyanya perpaduan antara klasik dan urban dengan detail yang menarik dan tidak terlalu rumit. Friederich juga tak pernah ragu menggunakan warna-warna cerah dalam setiap karyanya. Dia nggak ingin menciptakan desain yang mainstream, justru berani mendobrak batasan dan menciptakan style baru. Tak heran rasanya jika ia sering diajak berkolaborasi oleh berbagai brand ternama seperti Made Ind by Argo Apparel, salah satu sponsor LPM 2017 tahun ini.
 
 


Itang Yunasz

Jebolan LPM 1981 ini telah mendedikasikan 20 tahun lebih hidupnya untuk dunia fashion. Sekitar tahun 2000 Itang Yunasz memutuskan untuk fokus khusus merancang baju muslim. Kini ia menjadi desainer busana muslim terbesar dan tersukses di Indonesia. Desainnya selalu mengutamakan syar’i, namun juga tetap modern dan stylish. Kini Itang telah memiliki lima label busana muslim, yakni Itang Yunasz sebagai label utama, Preview, Kamilaa, dan Moshaict by Itang Yunasz. Tak hanya sukses di Indonesia, koleksinya juga menjadi favorit muslim mancanegara, khususnya Negara bagian Timur Tengah.

Foto: Instagram