Foto: Dok. Hian Tjen

Padang Ilalang yang bergoyang tertiup angin..
memeluk jalan setapak yang dilalui para wanita berkulit pucat dalam balutan busana sarat makna.


Hian Tjen, desainer muda yang terpilih sebagai desainer favorit pada ajang Lomba Perancang Mode (LPM) besutan majalah Femina pada tahun 2007 ini, menunjukkan kematangan dan perkembangannya dalam mengejar kesempurnaan adibusana sebagai seorang couturier.

Satu dekade sudah sejak pertama kali Hian Tjen membuka rumah modenya yang terfokus pada gaun made-to-measure yang feminin, elegan, dan sarat detail dengan teknik yang kompleks. Lulus dari Esmod Jakarta pada tahun 2003, Hian Tjen terjun sebagai praktisi pada industri retail terlebih dahulu sebelum akhirnya memberanikan diri membuka rumah mode yang bertahan hingga saat ini. Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
 
 

Foto: Dok. Hian Tjen

Komunitas Amish yang menutup diri dari dunia luar menjadi inspirasi Hian Tjen pada pagelaran perayaan sepuluh tahunnya dalam berkarya, bertajuk ‘Perfect10n’ pada tanggal 28 Agustus 2019 lalu bertempat di Dian Ballroom Raffles Hotel. Tampilan para wanita kaum Amish yang serba polos, tertutup, dan berpotongan longgar, diolahnya menjadi serangkaian gaun dalam warna-warna muted seperti broken white, cream, abu-abu, hijau lumut, dan nude.

Inspirasi kaum Amish yang merupakan komunitas penganut Kristen tradisional yang menjauhkan diri dari teknologi modern ini pun tidak mentah-mentah dituangkan Hian Tjen dalam rancangannya. Hian Tjen mengelevasi tampilan kaum serba polos tersebut menjadi gaun-gaun cantik, feminin, dengan permainan volume pada bagian lengan, dan permainan detail aplikasi kristal dan bordir yang diolah dengan baik, selayaknya sebuah rumah mode adibusana. Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
 
 

Foto: Dok. Hian Tjen

Tampak berbagai ilustrasi tangan menggambarkan kegiatan para wanita Amish di ladang dan beternak yang ditenun kedalam material garmen buatan Italia pada rancangan Hian Tjen ataupun permainan komposisi siluet wanita yang seimbang dan pengolahan material yang mumpuni seakan menahbiskan Hian Tjen sebagai couturier dengan kemampuan craftsmanship yang patut diperhitungkan di Indonesia.

Tidak hanya kemampuan bermain kain dan jarum, kepiawaian tim rumah mode adibusana Hian Tjen dalam menjaga hubungan baik dengan para clientele dan media pun menjadi kunci suksesnya perjalanan sepuluh tahun dalam berkarya. Anggota Ikatan Perancang Mode Indonesia ini pun sesungguhnya berencana untuk menyelenggakan pagelaran peringatan satu decade dalam berkaryanya pada tahun lalu, namun belum ada kesempatan yang memungkinkan, sehingga baru diwujudkan pada tahun ini. Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
 
 
 

Foto: Dok. Hian Tjen
 
“Intinya hal-hal yang polos, sebenarnya bisa diexplore menjadi sesuatu yang mewah, dan sesuatu gaya yang old-fashioned bisa di-twist juga menjadi gaya yang modern sesuai gaya dan signature Hian Tjen”, ujar Henry Santoso, representatif dari Hian Tjen saat ditanya mengenai inspirasi Amish yang polos justru diangkat menjadi sebuah karya mewah yang kontradiktif. Mungkin tersirat pesan bahwa kesederhanaan dan sesuatu yang tertutup bahkan cenderung kelam, dapat diubah menjadi sebuah karya yang indah gemerlap bila diolah sepenuh hati dengan tekun.
 
Pagelaran ‘Perfect10n’ tampil sebagai perayaan suksesnya jalan karir Hian Tjen pada dekade pertamanya dalam berkarya, sekaligus menjadi penanda awal langkah baru Hian Tjen dalam mengembangkan rumah mode adibusana untuk dekade-dekade mendatang.  Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut. (f)

Baca Juga
Raka Gemma Maulid, Desainer Sepatu Olahraga Internasional Asal Indonesia
Celana Kargo Juga Bisa Dipakai ke Kantor
Teknologi Gelembung di Telapak Kaki