Foto: Dok. GCM Group

Tak terasa, Pagelaran mode akbar Jakarta Fashion Week 2020 telah selesai dan ditutup dengan baik. Dengan lebih dari 240 label mode dan 76 presentasi, Jakarta Fashion Week 2020 telah menjadi platform bagi para desainer dan label kenamaan di tanah air ataupun beberapa desainer internasional untuk menampilkan koleksi mereka  di musim mendatang.

Presentasi butik penyewaan gaun dengan sistem berlangganan, Rentique, yang mengajak tiga perancang untuk berkolaborasi pada hari terakhir Jakarta Fashion Week 2020. Ketiga label yang diajak bekolaborasi adalah Jii by Gloria Agatha, Tertia, dan Reves Studio.

Jii masih bermain dengan print material berwarna cerah yang menjadi andalannya. Potongan mini dress, maxi dress, jumpsuit, dan siluet longgar menjadi pilihan Gloria untuk membawa para pecinta Jii bertualang ke musim panas di tepi pantai sebuah pulau tropis yang eksotis.

Aksen ostrich pun menjadi fokus utama grafik print dari Jii. Seluruh koleksi dieksekusi dengan baik menggunakan material yang premium dan tanpa adanya desain yang eksperimental dan ganjil. Sebuah koleksi yang muda, feminin, dan menyenangkan untuk dikenakan.

Tertia menampilkan serangkaian busana pesta dengan konsep dasar yang sederhana. Permainan layering satin atau duchess yang berlapis tulle bermotif polkadot, lace, dan brokat, disulap menjadi busana yang anggun, feminin, elegan, dan nyaman dikenakan dalam berbagai kesempatan.

Kerapian dan pemilihan bahan cantik yang baik, menjadi keunggulan Tertia dari perancang untuk desain busana pesta yang bermain dalam formula tumpuk material yang sama.

Reves Studio menghadirkan serangkaian busana siap pakai yang terelevasi. Potongan tailoring yang dimodifikasi dengan tampilan modern, dituangkan dalam warna pucat dan pastel yang feminin. Kerapian dan presisi tim Reves Studio dalam mengeksekusi tiap potongan patut diapresiasi, meski pada beberapa tampilan tampak bekas lipatan yang jelas di atas runway Fashion Tent Jakarta Fashion Week 2020.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih jauh.
 

Foto: Dok. Prana Media
 
Pagelaran Jakarta Fashion Week 2020 ditutup dengan presentasi empat desainer pilihan penyelenggara. Puncak acara Jakarta Fashion Week 2020 yang mengambil tema besar ‘Borderless’ ini menampilkan rancangan dari Kraton by Auguste Soesastro, Mel Ahyar Couture, Jeffry Tan, dan Adrian Gan.

Tema ‘Borderless’ sendiri menggambarkan dunia masa kini yang sudah tanpa batasan dengan tumbuhnya era digital. Keempat perancang mengambil sudut pandang yang berbeda dalam menginterpretasikan tema besar yang disuguhkan penyelenggara.

Auguste Soesastro menerjemahkan tema yang disuguhkan menjadi baurnya batasan gender, usia, bahkan waktu pada mode. Kesempatan ini kembali digunakan Auguste untuk mengadaptasi busana jawa klasik baik pria maupun wanita menjadi busana modern yang relevan untuk dikenakan di masa sekarang.

Tampak potongan yang terinspirasi dari surjan, beskap, ataupun busana tradisional pria dari jawa di masa lampau yang notabene lebih leluasa dan memudahkan penggunanya dalam bergerak ketimbang busana wanita pada zaman itu, yang diolah dengan kemampuan pembuatan pola busana dan tailoring yang dieksekusi dengan luar biasa.

Tidak tampak jahitan berkerut, fitting yang meleset, ataupun pemilihan bahan yang tidak tepat, Auguste dalam usia yang masih muda, sekali lagi membuktikan bahwa busana tanpa adanya aksen payet dan bordir di Indonesia tidak akan kalah dalam hal kualitas bila dieksekusi dengan presisi, teknik craftmanship, dan kekuatan konsep yang sempurna.

Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih jauh.
 

Foto: Dok. Prana Media
 
Mel Ahyar mengambil pendekatan era digital yang kini seakan menjadi kulit kedua manusia. ‘Skins’ dipilih Mel menjadi tajuk koleksinya. Serangkaian gaun yang ditampilkan, bukan hanya dieksekusi dengan presisi dan teknik yang mumpuni, namun juga sustainable dan environmental friendly.

Faux-leather dari jamur Mylea, penggunaan kembali sisa material industri tas Byo, bahkan sisa material dari produksi Mel Ahyar sendiri pun dikemas ulang sebagai sematan aplikasi pada presentasi semalam.  Penggunaan pola yang nyaris tanpa sisa material terbuang pun diterapkan Mel Ahyar dan tim sebagai tanggung jawabnya terhadap lingkungan.

Detail unfinished, payet, bordir, sulam, patch, dan ilustrasi, dituangkan dalam 16 tampilan yang seluruhnya berbeda dalam riasan dan tata rambut. Keenam belas sosok ini menggambarkan ragam personality yang berbeda-beda di digital media tiap individu masa kini. Tidak hanya bercerita dan mengajak hadirin untuk mengenal diri sendiri di dunia nyata dan digital, namun juga dipersembahkan dengan eskekusi yang luar biasa.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih jauh.
 

Foto: Dok. Prana Media

Berbeda dari ketiga perancang lainnya, Jeffry Tan bukanlah perancang adi busana. Jeffry Tan yang piawai membangun konstruksi, drapery, dan twist pada tampilan busana siap pakai untuk pria dan wanita, unjuk gigi pada presentasi rancangannya yang secara umum dieksekusi dengan mumpuni.

Banyak pola-pola lama yang telah menjadi signature Jeffry muncul kembali tadi malam, detail pola saling-silang dan aksen drapery pada gaun ringan, siluet celana Jodhpur dan permainan lekuk potongan untuk menciptakan dimensi, seluruhnya bukanlah mainan baru bagi Jeffry Tan. Sayangnya, konsep yang terlalu ringan untuk presentasi penutup dan munculnya tas pinggang sebagai paduan tampilan justru mengurangi estetika yang telah dibangun.

Kerapian Jeffry dalam mengolah berbagai material yang berbeda dalam potongan yang complicated patut diapresiasi. Namun memang, bila dibandingkan dengan ketiga desainer adi busana lainnya, dari segi desain dan pengemasan, Jeffry tampak bagai anomali.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih jauh.
 

Foto: Dok. Prana Media
 
Tugas berat untuk menutup seluruh rangkaian pagelaran akbar Jakarta Fashion Week 2020 ditangani oleh Adrian Gan, seorang senior dan maestro di bidangnya, dengan sempurna. Mengadaptasi tampilan kepala wanita suku Batak Karo, Adrian Gan memberi nyawa baru pada kain ulos antik yang kini sudah tak layak pakai lagi karena termakan usia.

Padu padan penggunaan kain tradisional melilit tubuh dalam keseharian masyarakat tradisional, menginspirasi Adrian Gan untuk menciptakan serangkaian busana perpaduan  atasan-bawahan, luaran, dan gaun bervolume lebar.

Penggunaan kain ulos yang dikaryakan kembali dan proses pengolahan material dengan teknik jumput ataupun sulam menjadikan sebuah koleksi surat cinta Adrian Gan bagi dirinya sendiri dan tradisi Indonesia. Koleksi ini menjadi koleksi curahan ekspresi Adrian Gan yang selama ini tertahan, sekaligus menyampaikan pesan bahwa usia bukanlah alasan untuk berhenti berkarya, sebagaimana ulos usang yang berjaya kembali di tangan Adrian Gan pada malam penutup Jakarta Fashion Week 2020. (f)
 
Baca Juga
Hari Keenam Jakarta Fashion Week 2020, Pertarungan Kreasi Desainer Muda Yang Kembali Presentasi
Pertaruhan Nama Besar Desainer Muda Tanah Air, Ulasan Mode Femina Untuk Presentasi Jakarta Fashion Week 2020 Hari Kelima
Gema Nama Besar Desainer Muda, Ulasan Femina Untuk Pagelaran Jakarta Fashion Week 2020 Hari Keempat.
Yang Melegenda dan Yang Muda, Ulasan Mode Femina Untuk Jakarta Fashion Week 2020 Hari Ketiga
Kiprah Desainer Muda di Jakarta Fashion Week 2020 Hari Kedua
Ulasan Mode Femina Untuk Jakarta Fashion Week 2020 Hari Pertama