Foto: Dok. Instagram Ikatan Perancang Mode Indonesia

Kepedulian  komunitas desainer Indonesia  pada penanggulangan wabah COVID– 19 terus bertambah. Busana Alat Pelindung Diri (APD)  untuk para pekerja medis yang sedang berjuang melawan pandemi COVID-19 di seluruh Indonesia dibuat beramai-ramai oleh para perancang tanah air yang tergabung dalam Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) dan sebagian lagi perancang Non- IPMI.
 
Tersebutlah nama-nama seperti Hian Tjen, Danny Satriadi, Priyo Oktaviano, Yogie Pratama, Liliana Lim, Mel Ahyar, Andreas Odang, Rusly Tjohnardi, Rinaldy Yunardi, Imelda Kartini, Albert Yanuar, Marisa Purnama, Julia Sposa, dan  lainnya diajak untuk membantu gerakan sosial Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti (FKG USAKTI) 2002 dalam menyalurkan APD medis yang  kini menjadi alat kerja yang paling dibutuhkan para dokter dan tenaga medis lainnya.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.



 
 


Foto: Dok. Instagram Project Indonesia
 
Gerakan ini berawal dari beberapa anggota Alumni Fakultas Kedokteran Gigi Trisakti 2002 yang tergerak untuk membantu situasi darurat ini dan juga menemukan banyaknya bantuan dari para donatur di sosial media yang  kurang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan dan tidak merata karena sebagian donatur hanya bergerak di pusat wabah di Indonesia yaitu DKI Jakarta.
 
“Kita benar-benar menyeleksi apakah rumah sakit yang meminta bantuan kami ini membutuhkan 3-ply surgical mask, N-95, surgical gown, atau hazmat suit?” jelas drg. Ruth Amigia, salah satu penggagas gerakan Project Indonesia FKG USAKTI 2002 Tanggap Corona.
 
“Kita minta data, berapa jumah ODP, PDP, dan yang positif berapa? Karena Alat Pelindung Diri yang dibutuhkan pun berbeda-beda, jumlah pengiriman akan kami sesuaikan dengan data kebutuhan tersebut agar tidak terjadi penumpukan,” Lanjut drg. Ruth Amigia sebagai penanggung jawab dalam menyalurkan sumbangan, yang kini telah menjangkau 58 Rumah Sakit dan 20 Puskesmas di seluruh Indonesia.
 
Sayangnya, pada situasi ini bahkan masih ada oknum yang menghubungi dengan tujuan penimbunan, dengan mengaku sebagai perwakilan rumah sakit, hal ini tentu menjadi fokus kerja baru bagi para relawan, “Saya harus melakukan pengecekan ulang hingga ke kepala rumah sakit untuk meminta stock opname, agar bantuan para donatur 100 persen tepat sasaran dan tidak disalah gunakan,” tegas drg. Ruth.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.
 
 
 



Foto: Dok. drg. Ruth Amigia
 
Memiliki hubungan dekat dengan para perancang, drg. Ruth Amigia lalu mencetuskan ide untuk mengajak para pekerja mode ini untuk membantu pengadaan APD dengan mengaryakan para penjahit dan stock bahan katun yang dimiiki para perancang. Sesungguhnya kain tahan air Microgard 2000 seperti bahan busana Hazmat menjadi pilihan terbaik, namun dengan kelangkaan dan mahalnya material ini, kini drg. Ruth dan teman-temannya mengakalinya dengan busana tertutup rapat yang nantinya juga akan dilapisi dengan jas hujan sekali pakai. Sehingga cukup aman untuk dikenakan para tenaga medis.
 
“Berawal dari diskusi saya dengan Natalie Susanto dari tim rumah mode Danny Satriadi, kami berhasil memproduksi 7 baju pelindung dalam satu hari dengan mengikuti contoh pola yang saya kirimkan,”  katanya. Kini, desainer Hian Tjen saja sejak 26 Maret lalu,  dalam satu hari telah berhasil memproduksi 25 potong busana pelndung dengan mengaryakan tiga orang penjahit. Sebagian besar pekerja di workshop nya sudah dirumahkan untuk alasan kesehatan bersama.  Busana yang dibuat ini merupakan baju lapisan di dalam sebelum para petugas medis menggunakan busana pelindung luar tahan air.
 
Semua busana  pelindung ini dibuat menggunakan bahan katun maupun linen, yang memang lebih banyak tersedia di workshop para desainer ini. “Apapun warnanya, apapun coraknya, yang penting katun atau linen” jelas Henry Santoso, perwakilan dari rumah mode Hian Tjen.
 
“Yang kita produksi bukan APD yang tahan kuman, tapi baju lapisan dalam sebelum tenaga medis mengenakan APD, makanya kita perlu kain yang bisa di cuci, di steril, tidak panas, dan nyaman dikenakan. Karena itulah katun dan linen menjadi pilihan” lanjut Henry.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

 
 
 


Foto: Dok. Instagram Ruth Amigia
 
Untuk material sendiri, ternyata  para perancang ini  tidak berjuang sendirian. Banyak  supplier garmen rekanan  yang turut dengan senang hati membantu menyumbangkan material garmen yang tak terpakai untuk diproduksi menjadi busana pelindung ini. “Karena itulah nanti bajunya akan menjadi warna-warni.  Tapi tak mengapa, yang penting  kebutuhan dan fungsinya. Kita sampai terharu banget dengan dukungan para supplier ini, tapi memang masih kita batasi donasi kainnya, karena melihat kapasitas produksi juga,”  lanjut Henry.
 
“Baju-baju yang kami produksi ini  semuanya akan disalurkan oleh Ruth ke rumah sakit dan Puskesmas di daerah-daerah yang kehabisan.  banyak supplier kain yang benar-benar bantu.” Tutup Henry yang menjadi koordinator untuk pembagian kain donasi kepada  para perancang.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

 
 
 


Foto: Dok. Instagram Project Indonesia
 
Lantas, apa yang bisa kita lakukan sebagai konsumen, para pecinta mode? “Kita membutuhkan dana untuk membeli masker N-95 dan Hazmat Suit yang memang tergolong mahal,” jawab drg. Ruth Amigia saat dihubungi Femina.  
 
“Bayangkan, satu stel Hazmat Suit dengan material microgard 2000 harganya 750-800 ribu rupiah, Untuk satu rumah sakit saja membutuhkan paling tidak 10 hazmat suit per harinya karena sifatnya sekali pakai. Jadi, untuk satu hari saja membutuhkan paling tidak tujuh hingga delapan juta rupiah, per rumah sakit.” Lanjut drg. Ruth Amigia. Ia mengaku sangat senang dengan bantuan para perancang tanah air dalam proyek sosial  ini.  Yang diakuinya selain efektif namun juga memiliki kualitas baik dan nyaman dikenakan para pekerja medis.
 
Untuk membantu dan menjadi donatur, Anda dapat menghubungi Desti dari @Project_Indonesia di nomor (+62)813 1538 8389. (f)
 
Baca Juga

Industri Fashion Turun Tangan Untuk Pandemi COVID19
Dampak Sistemik COVID19 Terhadap Industri Mode Indonesia
Mode Di Antara Wanita Urban dan Sampah Plastik di Laut