Ratusan desainer ternama telah dilahirkan lewat Lomba Perancang Mode (LPM), ajang kompetisi prestisius di bidang mode yang digagas oleh Femina Group sejak tahun 1979. Event dua tahunan ini begitu ditunggu-tunggu oleh para desainer muda yang berniat mengasah skill mereka ke tingkat yang lebih tinggi.
 
LPM tak hanya sekadar lomba untuk mencari perancang dengan desain terbaik, tapi juga menjadi semacam ‘sekolah’ bagi para calon desainer baru untuk mendapat pembekalan komprehensif sebelum terjun ke industri mode yang sesungguhnya. Ikuti perjalanan mereka saat mengikuti LPM 2017 dalam liputan khusus berikut ini.
 
Mencari Konsep Terbaik
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kompetisi LPM kebanjiran formulir pendaftaran. Tahun ini, 318 sketsa dan konsep desain datang dari berbagai kota di Indonesia, termasuk yang dikirim oleh para siswa asal Indonesia yang sedang bersekolah di mancanegara. Para peserta LPM yang mensyaratkan WNI dengan usia minimum 18 tahun umumnya berasal dari sekolah mode, tapi tidak sedikit juga pegiat mode yang tidak mengenyam pendidikan mode secara formal.
 
Sebagaimana diketahui, ajang LPM telah menelurkan ratusan desainer yang pada puncak kariernya mampu menorehkan nama besar dan menjadi style maker di industri mode tanah air. Nama-nama seperti Samuel Wattimena, Carmanita, Chossy Latu, Edward Hutabarat, Itang Yunasz, Musa  Widyatmodjo, Albert Januar, Billy Tjong, Hian Tjen, Lulu Lutfi Labibi, Cynthia Tan, Imelda Kartini, Sally Koeswanto, Jeffry Tan, dan Tex Saverio mengawali karier dari ajang LPM.
 
“LPM adalah platform pengembangan karier calon desainer muda yang tertua di Indonesia dan telah konsisten selama 4 dekade. Kompetisi ini adalah pintu masuk ke industri mode. Para calon desainer yang terseleksi bisa memanfaatkan jejaring dan exposure yang diperoleh sebagai modal memasuki industri
mode yang sesungguhnya,” kata Petty S.Fatimah, Pemimpin Redaksi dan CCO femina, yang merupakan Pembina LPM.
 
Penyelenggaraan LPM ke-28 tahun ini memilih tema Urban Identity. Para peserta ditantang untuk menginterpretasi desain busana ready to wear wanita untuk gaya hidup urban dengan mengeksplorasi wastra dan atau budaya lokal. Peserta diperbolehkan mengolah wastra Seleksi 20 Semifinalis lokal ataupun elemen budaya setempat menjadi elemen desain kontemporer yang memberi kekuatan pada identitas rancangan.
 
“Tiap tahun memang selalu ada tema berbeda sebagai bentuk tantangan desain bagi peserta. Tema 2017, Urban Identity, dipilih untuk menggali kreativitas dalam menciptakan desain busana kontemporer sehari-hari yang unik dan masa kini dengan identitas Indonesia yang kuat. Hal ini sekaligus ajakan bagi mereka untuk belajar mendalami budaya negeri sendiri,” jelas Petty.
 
Untuk mencari konsep terbaik dari ratusan peserta tersebut, maka panitia menyusun dua tahap penjurian utama. Seleksi pertama adalah memilih 20 terbaik sebagai semifinalis, di mana peserta terpilih diwajibkan mewujudkan 3 dan 6 sketsa yang dinilai dalam bentuk busana jadi.
 
Seleksi 20 semifinalis dilakukan oleh tim juri internal Femina Group yang terdiri atas: Tenik Hartono (Pemimpin Redaksi Grazia), Anggia Hapsari (Fashion Editor), Ai Syarif (Creative Director Jakarta Fashion Week), Margaretha Untoro (Pemimpin Redaksi Dewi), dan Zornia Devi (Pemimpin Redaksi Pesona).
 
 

Kelas Workshop
 
Perlu Paham Business Plan

Sebelum kedua puluh semifinalis mengikuti tahap penjurian utama untuk menentukan 10 finalis, mereka diberi pembekalan melalui workshop Bedah Mood Board dari mentor LPM 2017: Musa Widyatmodjo. Tujuan sesi ini agar tiap peserta dapat berdiskusi seputar pola, bahan, teknik jahit, hingga business plan brand masing-masing. Dengan adanya pembekalan ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi para semifinalis sehingga pada saat penjurian wawancara semua peserta dapat mempresentasikan karya dan menjawab seluruh pertanyaan juri secara lebih maksimal dan terarah.
 
“Jika ingin bertahan di industri mode, jangan hanya bertindak sebagai desainer yang hanya mengenal bahan dan teknik jahit. Desainer juga harus memahami target konsumen. Dengan demikian, akan lebih dipercaya menjadi seorang desainer,” jelas Musa.
 
Workshop tahun ini berbeda dari workshop yang dilakukan LPM di tahun-tahun sebelumnya. Semifinalis tak hanya diminta untuk mewujudkan 3 sketsa busana yang dilombakan, tapi mereka juga mendapat tantangan lain yang tak kalah menarik.  Seluruh semifinalis diberi kejutan untuk mewujudkan desain Levi’s® Remastered Design Challenge. Sepasang produk Levi’s® diserahkan kepada para semifinalis untuk didesain ulang, mengekspresikan gaya modern wanita urban dalam tema besar: Urban Identity. Mereka wajib mewujudkan 1 look busana baru yang diperoleh dari 2 potong busana Levi’s® itu.
 
“Dengan tema Urban Identity Design diharapkan Levi’s® bisa menjadi kanvas untuk mengeksplorasi kreativitas desain ready to wear yang inovatif, autentik, dan nyaman dipakai,” ujar Adhita Idris, Country Head Marketing PT Levi Strauss Indonesia. Di acara puncak, kedua puluh busana Levi’s® Remastered Design Challenge tersebut akan dipamerkan dan dilelang untuk program sosial yang dilakukan PT
Levi Strauss Indonesia.
 
Setelah dibekali segudang ilmu seputar teknik desain, jahit, dan marketing, ke-20 semifinalis siap saling berkompetisi untuk masuk ke babak berikutnya, yaitu babak final. Ini adalah babak yang paling menegangkan, sebab hanya 10 finalis dengan karya terbaik yang akan tampil di final LPM 2017 yang berlangsung di panggung utama Jakarta Fashion Week, pada 25 Oktober 2017.
 
“Sejak masuk semifinalis, saya tahu saya tidak boleh melakukan kesalahan. Saya harus mengikuti semua arahan yang telah diberikan para mentor. Ini adalah golden ticket saya untuk melaju ke babak berikutnya dan merebut kesempatan untuk menjadi juara,” ujar Caramia Sitompul (26), Pemenang II LPM 2017 yang juga lulusan Fashion Institute of Technology, New York.
 
Pendalaman Riset Menjadi Tantangan


Saatnya mempresentasikan karya di hadapan para juri utama. Dewan juri untuk kompetisi LPM tahun ini adalah Edward Hutabarat (desainer, alumnus LPM 1980), Musa Widyatmodjo (desainer, alumnus LPM 1990), Ferry Sunarto (desainer, alumnus LPM 1995), Petty S. Fatimah (Pemimpin Redaksi dan CCO femina), Erwin Suganda (Creative Director UBS), Melinda Babyana (CEO Argo Apparel Group), Adhita
Idris (Country Head Marketing PT Levi Strauss Indonesia), Tan Yenman (Brand Manager Top White Coffee), Ai Syarif (Creative Director Jakarta Fashion Week), dan Roberto La Iacona (Instituto Marangoni Milan Italia).
 
Tiap finalis diberi waktu 10 menit untuk mempresentasikan karya. Para juri sangat antusias dan detail melihat tiap konsep rancangan yang diajukan. Tidak hanya menilai, mereka juga memberikan masukan kepada finalis. “Tidak mudah untuk mendesain busana yang mengangkat wastra Indonesia. Desain busana harus tampil autentik, masuk akal, dan tidak berkesan ‘ngamuk’,” ujar Edward Hutabarat, yang merupakan expert dalam mengangkat wastra Indonesia menjadi karya kontemporer.
 
Pada tahap ini penilaian terhadap konsep, hasil jadi, dan business plan memang sangat menentukan. Ada tiga kriteria utama yang diolah juri, yaitu konsep desain, pengetahuan mode, skills desain, dan rencana bisnis. Pada tahun ini konsep online store menjadi nilai tambah bagi peserta dan pada final diberi penghargaan khusus oleh sponsor Top White Coffee.
 
Setelah 10 finalis terpilih, masing-masing diminta menambah 3 desain untuk diwujudkan sehingga ada total 6 karya dan 1 karya untuk Levi’s Remastered untuk melewati penjurian final memilih pemenang maupun sesi peragaan.
 
Pada sesi ini juri banyak ‘mengejar’ soal sejauh mana riset dilakukan oleh para peserta untuk wastra dan budaya lokal yang dipilih sebagai tema desain. “Secara umum riset mereka lemah, pengetahuan mengenai produk sedikit, hanya beberapa saja yang menonjol. Padahal, riset yang mendalam akan memberi kekuatan pada karya jadi,” ungkap Petty, mewakili juri.
 
 

Penjurian Fitting
 
Desain yang Lebih Berani
 
Sepuluh finalis Lomba Perancang Mode 2017 telah terpilih. Tak berhenti sampai di situ, masihbanyak tugas yang harus dikerjakan sebelum menunjukkan karya mereka di panggung besar Jakarta Fashion Week 2018. Salah satunya melalui tahapan penjurian fitting yang dilakukan pada 11 Oktober lalu. Penjurian fitting adalah tahap penyempurnaan desain bagi ke-10 finalis.
 
Penjurian fitting tahun ini istimewa sekaligus menjadi media pembinaan dan bimbingan, tak hanya hal teknis, tapi juga filosofi desain untuk para finalis. Tiap peserta diberikan waktu 15 menit untuk menunjukkan progres karya mereka. Edward Hutabarat dan Ferry Sunarto menjadi juri dan mentor pada tahap ini.
 
“Banyak yang sudah bagus, artinya tidak memerlukan banyak perombakan. Tapi, ada juga yang perwujudan karyanya melenceng dari sketsa awal. Itu yang akan kami berikan masukan. Misalnya, pemilihan dan kombinasi bahan dan warna yang tidak tepat hingga jahitan yang belum rapi,” ujar Ferry. Edo menambahkan, karya finalis LPM tahun ini dinilai lebih beragam, berani, dan modern.
 
Hal ini dinilai Edward sebagai sebuah kemajuan dan harapan baru untuk lahirnya desainer muda Indonesia. “Mengolah wastra Indonesia agar tetap wearable dan modern itu tidak mudah. Anda harus berpikir lebih sederhana agar kain Indonesia yang digunakan lebih ‘berbicara’. Pola dan teknik jahitan yang benar adalah kuncinya,” imbuh Edward.
 
 

Penjurian Final
 

Lemah dalam Entrepreneurship
 
Dalam penjurian final pada 25 Oktober lalu di Apartment Senayan City Residence, di depan para juri masing-masing finalis mempresentasikan business plan dan hasil karya rancangannya selama 10 menit. Anthony Tandiyono (29), finalis dari Jakarta, mendapat kritikan dari juri mengenai rencana penetapan harga koleksi busananya. Karya lulusan Bachelor of Design dari RMIT University, Melbourne, yang diberi konsep Sinful Light ini berupa long coat dan celana dengan elemen desain yang menggambarkan peleburan budaya Betawi peranakan dan karakter wanita Betawi modern yang kuat dan mandiri.
 
“Untuk masuk ke pasar retail sebagai desainer baru, mematok harga Rp1 - Rp5 juta akan kemahalan. Desainer juga harus bisa memikirkan pricing strategy agar orang mau beli bajunya,” saran Melinda Babyana, CEO Argo Apparel Group.
 
Sebaliknya, Jesica Ayu Tamara (19) dari Lasalle Surabaya dikritik karena mematok pricing terlalu rendah. Kaus yang diberi sentuhan printing ikan lele hanya dihargai Rp80.000 saja. Meskipun target pasarnya anak muda, tetap harus memperhatikan margin keuntungan yang bisa didapat.
 
Para juri terkesan dengan ide yang tak biasa yang diusung oleh Jesica. Ia memilih ikon ikan lele karena terinspirasi dari pecel lele, kuliner khas dari Surabaya. Mengangkat hewan menjadi ikon telah dilakukan oleh Disney dan sukses. “Mereka mengangkat tikus sebagai ikon, tetapi desainnya kan tikus yang dibuat
lucu, bukan tikus yang hitam jelek,” kata Musa.
 
Dalam proses penjurian ini ada beberapa hal yang menjadi tolok ukur penilaian juri, di antaranya ide/konsep, daya pakai, daya jual, pengetahuan kreatif mode, desain, warna, dan ilustrasi, business plan, pengetahuan teknis bahan dan biaya, serta estetika produk/nilai artistik.
 
Meskipun banyak ide segar datang dari finalis tahun ini, juri sangat menyayangkan masih banyak finalis belum memahami entrepreneurship. “Diharapkan mereka sudah memiliki visi untuk siap masuk ke retail dengan mendalami industri pakaian jadi. Mulai dari proses produksi hingga pricing. Misalnya saja,
mereka perlu tahu, untuk memenuhi kebutuhan retail, sedikitnya bisa memproduksi 5.000 potong per desain,” kata Melinda.
 
Musa mengkritik mengenai pengertian ready to wear yang masih salah kaprah pada sebagian peserta. “Kalau orang mau beli, tapi barangnya enggak ada dan harus pesan dulu, itu namanya bukan ready to wear,” protes Musa.
 
Musa Widyatmodjo menambahkan, hal yang tak kalah penting adalah strategi peserta menyusun rencana bisnis yang akan dikembangkan ke depannya. “Tiap finalis akan menjadi calon desainer Indonesia yang akan bersaing dengan banyak desainer yang telah memiliki nama besar. Itulah sebabnya, sangat penting untuk memiliki rencana bisnis agar bisa bertahan di industri ini,” tegas Musa.
 
Di antara finalis lainnya, Astika Suprapto (26) terlihat menguasai business plan. Wanita yang bermukim di Paris ini menetapkan pasar Eropa sebagai target market karyanya. Karenanya, ia hanya memberikan sentuhan wastra batik yang tak mendominasi, misalnya ditaruh di bagian dalam saku. Atau, dalam
beberapa rancangannya dibuat reversible.
 
“Saya ingin menggelitik rasa penasaran pembeli dengan adanya sentuhan batik ini dan memberi pengetahuan tentang Indonesia,” ujar pemegang gelar master di bidang Contemporary Fashion Design dari IFA, Paris, ini. Untuk menekan biaya produksi, ia merencanakan proses produksi dilakukan di Indonesia. Sebagai bagian dari strategi pemasaran, ia akan mengikuti trade show, bekerja sama dengan para blogger dan masuk ke pop up store.
 
“Tahun 2018 ini saya menargetkan sudah bisa produksi dan berjualan,” katanya, antusias. Usai penjurian, seluruh karya ke-10 finalis ditampilkan di atas panggung Jakarta Fashion Week 2018.
 
Di penghujung show, dibacakan pengumuman dan pemberian award bagi para pemenang. Astika berhasil menjadi Pemenang I, Caramia menduduki posisi Pemenang II, dan Anthony sebagai Pemenang III. Sedangkan Retnayu Jiwangga dari Surabaya terpilih sebagai Pemenang Favorit berdasarkan voting online.
 
“Tiap penyelenggaraan LPM selalu berbeda tantangan dan hasilnya. Demikian pula dari segi kualitas. Tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Yang jelas, tahun ini usia peserta lebih muda. Umumnya awal 20-an, dan banyak yang berasal dari sekolah mode di luar negeri. Dari 20 finalis, rata-rata sudah punya online shop, bahkan dengan lebih dari 1 brand. Kreativitas mereka tidak diragukan. Namun, yang menjadi catatan adalah kelemahan riset pada wastra maupun elemen budaya yang dipakai,” kata Petty.
 
Pemenang I akan mendapatkan kesempatan mengikuti short course di Instituto Marangoni Milan, Italia, dan magang selama 6 bulan di Argo Apparel. Pemenang II mendapat hadiah berupa uang sebesar Rp 10 juta, Pemenang III membawa pulang Rp 7,5 juta, dan Pemenang Favorit mendapatkan Rp 5 juta.  Pemenang II dan III jugamendapat kesempatan magangselama 3 bulan di Argo Apparel. Selamat!(f)


Baca juga:
Sejak 1979, Lomba Perancang Mode Femina Melahirkan Para Style Maker, Dari Samuel Wattimena Hingga Tex Saverio
Tip Pintar Menentukan Harga Jual Produk Fashion
10 Tip Bagi Desainer Pemula Agar Karya Tetap Autentik