Foto: Dok. Asia Pacific Rayon

 
Tahun 2020 ini memang bukanlah masa yang mudah bagi semua sektor. PSBB dan pandemi yang masih berlangsung ini secara umum permintaan konsumsi baik melalui pasar online ataupun offline menurun. Tak hanya permintaan pasar, kesulitan mendapatkan bahan baku akibat transportasi yang terhambat, penurunan kapasitas produksi akibat adanya pembatasan sosial, hingga kesulitan modal. Seluruhnya menjadi kendala besar akibat dampak sistemik dari ancaman kesehatan yang serius secara global. Bagaimana situasi UMKM fashion dan industri yang menunjangnya yaitu tekstil di masa ini?
 
 
Survival Skill Baru
 
Pada sesi webinar ‘Everything Indonesia, Strategi UKM Fashion di Masa Pandemi’ yang diselenggarakan oleh Asia Pacific Rayon dan didukung oleh Femina, tiga perusahaan UKM busana siap pakai, Indische (Riri Rengganis), Sare Studio (Puti Andamdewi), dan Tepa Selira (Astika Aquilla) berbagi cerita menarik dalam mempertahankan bisnisnya di masa pandemi ini. (Baca juga artikel: Pemerintah Kasih Bantuan Apa Untuk UKM Fashion?)
 
Adaptasi terbesar pada bisnis fashion saat ini adalah peralihan pemasaran menjadi online, baik melalui website, media sosial maupun e-commerce. Proses adaptasi dengan menilai keunggulan produk dan kesesuaiannya dengan kebutuhan pasar yang terus berubah menjadi salah satu survival skill yang harus dikuasai cepat. Tanpanya, akan sulit untuk dapat menentukan siasat bisnis baru yang efektif dan efisien. Bila cermat dalam melakukan riset pasar, bukan hal mustahil pelaku bisnis dapat membuka pasar baru dan sukses sebagai first player advantage.
 
Keluar dari zona nyaman secara ‘terpaksa’ memang tidak mudah. Indische mencoba bertahan di masa pandemi yang sulit ini dengan memasarkan produk masker yang serasi dengan produk busana-busana siap pakai yang mereka pasarkan.
 
“Di Indische, strategi kami adalah dengan membuat masker yang matching sama baju. Penjualan secara daring menjadi salah satu cara kami bertahan,” jelas Riri Rengganis pendiri Indische dan Rengganis. Indische sendiri berawal dari memproduksi kebaya modern siap pakai, yang dalam perkembangannya memproduksi aksesori pelengkap seperti tas, rok yang terbuat dari kain utuh tanpa dipotong dan sekarang masker.
 
Tepa Selira yang memproduksi batik modern untuk tunangan dan nikahan, mengalihkan seluruh pemasarannya ke digital yang diimbangi dengan memaksimalkan endorsement dari para content creator. “Menyalahkan pandemi tidak akan mengubah keadaan, karena memang disadari ternyata masih banyak langkah dan inovasi yang belum dijalankan” ujar Astika Aquilla, salah satu pendiri Tepa Selira.

Kini Tepa Selira yang sepenuhnya beralih digital, telah mengembangkan lini mereka menjadi busana siap pakai sehari-hari, lini premium, dan lini khusus untuk batik berpasangan.

Lain lagi dengan Sare yang telah eksis sejak 2015 memproduksi loungewear premium dalam tema #everdaypajamas cukup ‘riding the waves’ di masa pandemi ini, dimana pasar membutuhkan busana rumah yang lebih representatif. Permintaan pasar untuk produk Sare meningkat drastis.
 
”Awalnya kita melihat pilihan baju tidur yang ada di pasar umumnya untuk anak-anak, model daster, dan yang berbentuk lingerie yang tak mungkin di kenakan diluar kamar tidur,” jelas Putri Andamdewi, Co-Founder Sare Studio. Ada ceruk pasar yang kosong yaitu busana tidur yang bisa sekaligus untuk busana rumah berkualitas premium dengan material bahan yang lebih bagus, nyaman, dan model yang lebih menarik. Melihat kebutuhan pasar itulah Andam beserta Cempaka Asriani mendirikan Sare Studio. Insting bisnis yang ternyata sangat tajam dan berbuah manis di masa covid ini.

Lihat lama selanjutnya untuk membaca lebih lanjut.

 
 

Foto: Dok. Freepik
 
Inovasi Berkelanjutan

Membuka inovasi baru tidak mudah untuk dilakukan seorang diri, hal ini senada dengan pernyataan Sare dan Tepa Selira saat ditanya mengenai strategi inovasi yang mereka ambil, “Saya memiliki latar belakang desain, sementara partner saya fokus ke bisnis dan pemasarannya, kita saling menyeimbangkan,” ujar Astika Aquilla dari Tepa Selira.
 
Adanya pembagian tugas dan dua aspek yang saling melengkapi, dapat menjadikan proses produksi, kreasi, tukar pikiran menjadi jauh lebih tertata dan berjalan dua arah, menciptakan inovasi yang lebih baik dari segi rancangan dan komersial.
 
Indische yang secara bisnis dapat dikatakan masih amat kecil dengan karyawan kurang dari 10 orang, terbukti dapat bertahan hingga saat ini dengan kemampuan adaptasi dan melihat peluang yang baik. Selain pemasaran melalui platform e-commerce yang notabene tidak membutuhkan modal sewa lokasi, dan penggunaan media sosial yang menjadi marketing tools relatif mudah digarap bila strateginya tepat.
 
Selain itu brand ini juga mulai berbenah untuk jangka menengah dengan memproduksi busana-busana casual yang versatile untuk aktivitas di dalam rumah maupun di luar rumah. Hal ini sebagai jawaban terhadap gaya hidup baru saat ini.
 
Sare Studio berfokus pada kemudahan pelanggan mendapatkan produk mereka secara cepat. Misalnya memiliki gerai resmi di Shopee dan Tokopedia serta penjualan melalui laman situs mereka sendiri, memudahkan pelanggan dan pembeli baru untuk mendapatkan produk secara langsung tanpa perlu adanya reseller. Hal ini juga bisa menghindarkan kemungkinan pelanggan mendapatkan produk tiruan.
 
Melihat atensi para pelaku UKM di sektor mode, Direktur Asia Pacific Rayon, Basrie Kamba, menyampaikan harapannya sebagai penutup sesi webinar pagi hari itu, “Kami berharap semangat everything Indonesia dan #BanggaBuatanIndonesia ini dapat menjadi penggerak bagi UKM untuk terus berkarya dan berkolaborasi dalam menciptakan produk-produk unggulan asli dari Indonesia”.
 
Tanggap melihat peluang dan cepat beradaptasi secara nyata menjadi dua kunci utama jalan keluar dari permasalahan bisnis Anda di masa pandemi. (f)
 
 
 

Baca Juga

Pemerintah Kasih Dukungan Apa untuk UKM Fashion?
Show Must Goes On, Siasat Para Couturier Hadapi COVID
Loungewear, Baju Rumah Naik Kelas