Foto: Dok. Tim Muara Bagja
 

Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanegara, dan Yulia Fandy, 4 desainer tanah air yang lebih dikenal lewat karya-karya mereka yang biasanya ditampilkan pada berbagai event garapan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), kini mereka berkolaborasi dalam Fashion Rhapsody. Fashion Rhapsody adalah sebuah acara pagelaran fashion yang rencananya diadakan tahunan sebagai wadah untuk para desainer yang ingin menampilkan karya mereka yang terikat alam. Pada akhir April lalu, empat founder Fashion Rhapsody menggandeng PT Toyota Astra Motor, WWF Indonesia, Dompet Dhuafa, juga Yayasan Lions Indonesia, menggelar fashion show pertama mereka untuk charity bertajuk Harmoni Bumi. Tema alam kental terasa dengan menghadirkan dekorasi didominasi oleh phon dan ilalang di atas catwalk. Selain terinspirasi dari alam, desain-desain yang ditampilkan juga menjadi bukti kepedulian mereka terhadap lingkungan. Sebuah langkah awal yang diharapkan dapat mendorong desainer Indonesia lainnya untuk semakin yang ramah lingkungan dalam memproduksi busana karya mereka. Sekaligus meningkatkan awareness masyarakat pecinta mode Indonesia untuk lebih peduli pada lingkungan lewat produk fashion yang sustainability.

Lanjutkan ke slide berikut untuk melihat hasil rancangan Ariy Arka, Ayu Dyah Andari, Chintami Atmanegara, dan Yulia Fandy:
 
 
 

Foto: Dok. Tim Muara Bagja
 
1/Yeef by Yulia Fandy 

Pagelaran dibuka oleh Yulia Fandy dengan lini siap pakainya, Yeef. Garis rancang modern, sederhana, membalut sosok wanita tangguh yang bertualang, dalam balutan material katun dan linen bernada earth tone seperti krem, hijau muda, coklat, dan putih. Dengan koleksi yang berkonsep kuat dengan desain yang terhubung benang merah jelas, Yulia Fandy telah berhasil membuka pagelaran Fashion Rhapsody dengan baik.
 
 

.

Foto: Dok. Tim Muara Bagja
 
2/ Chintami Atmanegara

Selebriti yang beralih menjadi perancang busana, Chintami Atmanegara, mengambil inspirasi bebatuan dan keabstrakan batu yang baru dipotong. Warna coklat muda, hijau pupus, merah muda, merah bata, biru legam, bahkan emas menghiasi koleksi Chintami. Ia juga memasukkan Tenun Garut, budaya kampung halamannya, sebagai aksen dalam desainnya. Sayangnya, pemilihan warna yang beragam dan luasnya pilihan baik dari segi desain maupun siluet, membuat koleksi Chintami kali ini tampak terlampau luas, apalagi hanya dituangkan dalam 10 gaun saja. Kehadiran aksesori bebatuan rancangan Elizabeth Wahyu dan sepatu dari Lina Lee, mampu mengangkat desain kali ini. 
 
 
 

Foto: Dok. Tim Muara Bagja
 
3/ Ayu Dyah Andari 

Ayu Dyah Andari, seorang desainer baju muslim yang memiliki karakter regal feminine bak putri raja dalam dunia dongeng menjadi desainer ketiga pada pagelaran malam itu. Desert Rose atau kristal yang terbentuk dari air, pasir, dan angin pada iklim padang gurun yang teramat kering menjadi sumber inspirasinya. Mengggandeng brand sepatu Pedro, sang perancang menampilkan nuansa warna pastel padang pasir seperti gading, baby rose, krem, hijau lumut, coklat muda, khaki, dan coklat yang membalut 15 potong gaun karyanya. Aksen bordir dua dimensi dan aplikasi kain perca yang dikaryakan kembali menjadi kekuatan sang designer, sayangnya kurang diimbangi dengan teknik konstruksi yang mumpuni. Koleksi yang bertema kuat, sarat detail, namun dengan fit yang meleset dan siluet yang tidak terbangun sempurna.
 
 
 

Foto: Dok. Tim Muara Bagja
 
4/ Ariy Arka

Pagelaran Fashion Rhapsody ditutup dengan apik oleh Ariy Arka, perancang yang dikenal dengan lini busana prianya. Kali ini Ariy kembali menampilkan kepiawaiannya dalam mengolah teknik bordir dalam inspirasi topografi hutan yang semakin menipis dan Harimau Sumatera yang diangkat sebagai fokus koleksi. Kepedulian terhadap spesies asli Indonesia yang semakin langka karena penebangan hutan tersebut menjadi vocal point pada karyanya. Nuansa warna  hijau, coklat, hitam, dan putih yang diangkat melambangkan perubahan hutan dari masih hijau hingga kini menjadi kering dan gersang. Dari 16 desain yang ditampilkan, sang desainer memasukkan beberapa potong material plastik yang dikemas sebagai aksen, menjadi perlambang untuk menggunakan kembali sampah, meski yang ditampilkan sang desainer merupakan material plastik baru. Terlepas dari hal tersebut, koleksi yang berkolaborasi dengan WWF ini, hasil penjualannya akan disumbangkan, 30% untuk WWF dan 10% untuk Dompet Dhuafa. (f)

 
Baca Juga: 
Inspirasi Modest Wear Dari Fashion Nation Ke-13 Senayan City
MET Gala ‘Camp: Notes on Fashion’, Pagelaran Mode Terbesar (dan ter-nyeleneh) di Tahun 2019