Foto: Dok. Instagram Ivan Gunawan

Pandemik COVID-19 yang telah menggoyahkan perekonomian Indonesia tentunya turut berdampak terhadap sektor mode dan kecantikan di Indonesia.

Bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri yang hanya tinggal hitungan minggu, biasanya menjadi momen-momen yang ditunggu oleh sektor industri mode dan kecantikan dengan banyaknya kegiatan silaturahmi dan buka puasa bersama, yang kerap menjadi ajang mengenakan busana teranyar diantara clique para pecinta mode tanah air. Namun apa mau dikata, situasi pandemic yang menerpa seluruh dunia turut menghantam industri mode tanah air.

Bila kegiatan mudik, buka puasa bersama, serta silaturahmi hari raya yang menjadi acara akbar tahunan pun terancam untuk dilarang untuk alasan keamanan dan kesehatan bersama, maka kebutuhan pasar untuk membeli berbagai busana dan perangkat kecantikan pun tentunya cenderung akan menurun. Dapat dibayangkan, bulan Ramadhan kali ini akan menjadi momen refleksi diri dan kebersamaan bersama keluarga yang jauh dari hingar-bingar duniawi seperti tahun-tahun sebelumnya.

Tak hanya satu-dua presentasi mode yang terpaksa ditunda, dihentikan, atau bahkan dibatalkan, beberapa pusat perbelanjaan pun terpaksa menghentikan operasional mereka untuk menekan overhead cost yang terus berjalan tentunya sekaligus melindungi baik para pengunjung ataupun pekerja yang terlibat didalamnya.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut
 
 

Foto: Dok. Instagram Senayan City
 
Sebelum penghentian acara akbar Fashion Nation XIV Senayan City yang baru memasuki separuh rangkaian, kabar pembatalan Plaza Indonesia Kids Fashion Week dan Plaza Indonesia Fashion Week lebih dahulu disampaikan, alasannya pun sama, meski dari laman IG Story para perancang dan panitia terlibat, tampak panggung sudah terpasang dan para model pun tampak sudah melakukan fitting busana.

Beberapa undangan yang masuk ke tim mode Femina pun terpaksa dibatalkan oleh para penyelenggara acara, tersebutlah presentasi Katonvie x Itang Yunazs, pembukaan perdana gerai pertama Wardah Crystallure di Gandaria City, Beautyfest Asia 2020, peluncuran produk baru L’Oreal Paris, dan masih banyak lagi.

Bukan hanya kerugian material dari produksi set acara dan promosi para penyelenggara acara, terutama untuk pembatalan ataupun penundaan pagelaran pekan mode, hal ini juga turut berdampak merugikan bagi para perancang yang telah menyelesaikan produksi persiapan show mereka.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut
 
 
Foto: Dok. Instagram Plaza Indonesia

Wilsen Willim, perancang muda yang dijadwalkan melakukan presentasi pada Plaza Indonesia Fashion Week 2020 dan Fashion Nation XIV hari kelima pun hanya bisa pasrah saat dikonfirmasi pihak Femina mengenai penundaan sisa rangkaian Fashion Nation XIV hingga waktu yang belum ditentukan,

To be honest, saya blank. Cuma bisa pasrah meski sedikit kesal, tapi saya gunakan kesempatan ini untuk bersyukur mendapatkan waktu untuk rehat sejenak.” Ujar Wilsen saat ditanya kembali perihal ditundanya presentasi dirinya beserta beberapa perancang lain pad ajang Fashion Nation XIV dan Plaza Indonesia Fashion Week, walau konsep presentasi dan busana sudah semuanya siap ditampilkan. Lantas, apa yang akan dilakukan perancang muda busana siap pakai ini dengan koleksi yang sudah siap dipasarkannya?

“Sedang kita pikirkan dan pertimbangkan. Apakah akan kita tahan hingga akhir tahun dimana diharapkan semua kembali normal seperti sedia kala, sayangnya saat itu, tren sudah akan berubah, atau ya kita keluarkan nanti 2 koleksi musim gugur konsep see now buy now, dan 2 koleksi musim semi pada tahun mendatang.” Jawabnya.

Dampak sistemik dari penundaan dan pembatalan pekan mode besar di Indonesia tentu kini mengugah pertanyaan lama kembali, masih relevan kah pekan mode diadakan? Apakah kini sudah waktunya bagi para perancang dan pelaku mode tanah air beralih ke platform lain dalam mempresentasikan karyanya, menjauhi dari bentuk fisik ceremonial yang kerap dilakukan?

Wilsen Willim memberikan pandangannya terhadap hal ini, “let’s be frank, kejadian ini terjadi secara menyeluruh dan teramat cepat dengan dampak besar, sehingga bukan hanya industry yang akan berubah, tapi juga para konsumennya”. Dengan adanya perubahan pada pola belanja konsumen, maka pelaku industri pun harus cepat tanggap dan mempelajari pola baru belanja konsumen.
 
Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut
 
 
Foto: Dok. Instagram Senayan City

Bukan hanya soal konsumen, faktor produksi pun tentu terhambat dengan adanya beberapa negara yang membatasi masuknya pengiriman baik barang ataupun orang, kasus terhambatnya supply chain ini terjadi pada jenama Buttonscarves yang sempat terhenti proses produksinya selama tiga minggu.

Wilsen Sendiri yang telah memiliki supplier tetap dan terpercaya merasa tidak terpengaruh, dan tim produksinya yang masih tergolong kecil dengan 5 pekerja workshop pun yakin dapat bertahan melewati masa suram ini, meski adanya THR (Tunjangan Hari Raya) yang dalam sebulan kedepan harus dibayarkannya pada para pekerja tetap. Sayangnya, tidak semua rumah mode memiliki struktur yang sama.

Melewati masa pembayaran THR dengan pemasukan yang justru menurun, tentu tidak mudah bagi para pelaku bisnis mode. Mengingatkan kembali pentingnya perhatian para perancang dan pelaku bisnis mode muda terhadap kesiapan finansial dan bisnis mereka, sehingga saat krisis terjadi, stok material dasar yang kerap digunakan pun masih tersedia dan produksi dapat terus berjalan meski melambat akibat berkurangnya jam kerja dan jumlah tenaga kerja akibat social distancing, dan gaji karyawan pun tetap dapat dibayarkan seperti biasa.

Lihat laman selanjutnya untuk membaca lebih lanjut
 
 
 

Foto: Dok. Vogue 

Tutupnya pusat perbelanjaan dan batalnya pekan mode, meski menghambat, tapi seharusnya tidak lagi menjadi batasan di era digital yang kini memudahkan pelaku bisnis memasarkan produknya melalui channel platform multi-brand digital seperti bobobo, ataupun e-commerce besar seperti Shopee Mall, JD.id, Lazmall, Blibli, gerai resmi Toko Pedia, dan Sociolla.

Melakukan presentasi mode via live streaming pada akun resmi di laman digital, Instagram, dan Youtube pun kini seharusnya sudah tidak lagi menjadi sesuatu yang baru bagi tiap rumah mode, sebagaimana dilakukan rumah mode Armani pada penghujung Milan Fashion Week 2020 pada 25 Februari 2020 kemarin. Armani untuk alasan keamanan kesehatan bersama, tetap mempresentasikan karyanya pada area kosong tanpa pengunjung sama sekali, yang dapat disaksikan dunia melalui live streaming.

Menghadapi permasalahan pandemic global yang imbasnya sangat masif pada tingkat global memanglah tidak mudah. Terutama bagi pelaku industri mode di Indonesia yang tergolong masih berkembang. Inilah saatnya para pelaku mode menyadari pentingnya kesiapan finansial dan perencanaan matang jauh-jauh hari sebelum masa presentasi dan pemasaran, serta lincah beradaptasi dengan strategi pemasaran baru dalam menghadapi perubahan pola belanja konsumen, sembari melakukan counter damage terhadap dampak penurunan penjualan yang sudah pasti akan terjadi akibat berkurangnya kesempatan pecinta mode memamerkan koleksi terbaru para pelaku mode mereka. (f)
 
 
Baca Juga
Mode Di Antara Wanita Urban dan Sampah Plastik di Laut
Kolaborasi Sneakers dan Streetwear
Lini Baru dan Inspirasi Museum Louvre dari Koleksi Terbaru Buttonscarves