Foto: Dok. Wilsen Willim

Tak pernah dibayangkan sebelumnya bahwa menutupi separuh wajah dengan masker menjadi penampilan yang lazim dalam keseharian kita saat ini. Alasan kesehatan menjadi alasan utama dan terpenting. Namun adaptasi masyarakat terhadap aksesori ini sungguh mencengangkan. Dari awalnya hanya masker polos yang membosankan, kini masker adalah fashion statement. Aksesori pelengkap yang dipadankan dengan baju yang kita pakai atau total look yang kita inginkan. Di Indonesia kreativitas masker-masker premium ini sungguh ekstravaganza.
 
Fashion Statement Atau Alat Melindungi Diri?
Untuk memutus rantai penyebaran COVID-19, badan kesehatan dunia WHO (World Health Organization) menetapkan anjuran penggunaan masker dalam keseharian masyarakat dunia, terutama saat berada di area publik. Masker dinilai cukup ampuh untuk menahan perpindahan droplet dari satu orang ke orang lainnya. Ketika COVID-19 baru merebak, surgical mask sekali pakai yang disebut N95 itu menjadi rebutan. Harganya pun membubung tinggi, lalu mendadak sulit ditemukan di pasaran.
 
Begitu dibutuhkannya masker ini bagi tenaga medis, lalu muncul gerakan dalam masyarakat untuk beralih ke masker kain, yang walaupun tidak seampuh N95, tapi cukuplah untuk melindungi diri sehari-hari. Masker kain juga bisa lebih terjangkau dan dinilai ramah lingkungan karena bisa dicuci dan dipakai berkali-kali.
 
Berita dunia yang viral datang dari masyarakat Republik Ceko, yang tak lama setelah terjadi lonjakan angka penderita COVID-19 di dunia, membuat gerakan #Mask4All di negeri itu. Masyarakat membuat gerakan mandiri mengajak siapa saja untuk bermasker dan mengunggah foto mereka di media sosial.
 
Gerakan ini diikuti warga yang bersemangat membuat sendiri masker kain warna-warni dari bahan apa saja yang mereka bisa dapatkan, termasuk dari pakaian bekas yang masih layak dan membagikan tutorial lewat kanal Youtube. Hasilnya nyata. Penularan COVID-19 di negeri itu terbilang yang terendah di Eropa.
 
Apa yang terjadi di Ceko menginspirasi banyak negara untuk melakukan hal sama. Gerakan swadaya masyarakat untuk membuat sendiri masker dan (yang terpenting) mengenakannya dalam aktivitas sehari-hari. Tapi tak semuanya berhasil, karena kesuksesannya sangat bergantung pada tingkat kepatuhan warga. Indonesia sendiri termasuk yang berjalan tertatih-tatih soal penggunaan masker ini.
 
Baca Selanjutnya: 
Bernilai Ekonomi
 

Foto: Dok. Danny Satriadi
 
Bernilai Ekonomi

Sebelum pandemi terjadi, Wilsen Willim dan Sejauh Mata Memandang telah melansir masker sebagai bagian dari koleksi mereka. Pada saat itu koleksi masker dirilis sebagai kritik sosial dan kritik lingkungan terhadap buruknya kualitas udara di kota besar, dan pentingnya menjaga diri dari ancaman penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) yang banyak melanda masyarakat perkotaan. Keduanya tidak menduga bahwa aksesori ini pada perkembangan selanjutnya menjadi aksesori sehari-hari. Lepas dari kritik lingkungan dan sosial yang idealis.
 
Kendati masker bukan barang baru dalam masyarakat dunia, dan dikenakan sehari-hari seperti di Jepang dan Korea, namun mengenakan masker pada pandemi Covid 19 terasa berbeda. Terutama pada awal-awal pandemi, ada perasaan gelisah ketika melihat kreativitas bentuk masker yang beralih dari masker medis ke masker kain yang berwarna-warni. Masker bukan semata barang fashion, tapi alat untuk melindungi diri dari wabah, tragedi kemanusiaan yang menghilangkan jutaan nyawa. Apakah kita pantas untuk bersenang-senang dan tampak mencolok?
 
Di Indonesia, produksi masker kain yang banyak diinisiasi oleh para desainer mode, juga terdorong oleh masalah ekonomi. Pandemi membuat para pelaku mode ini berpikir kreatif agar bisnis tetap bisa berjalan dan para pegawai mendapat upah. Selera masyarakat kita yang menyukai penampilan matching, membuat masker yang disesuaikan dengan busana dengan cepat terangkat ke permukaan sebagai mikro tren dalam fashion. Kita bisa melihatnya pada lebaran lalu. Busana hari raya yang dipakai masyarakat menyertakan masker yang matching dengan baju mereka.
 
Desainer Rinda Salmun, Rama Dauhan, dan Poppy Theodorin, memproduksi masker dari bahan sisa produksi. Masker kain yang dibuat berlapis untuk menambah keampuhannya menahan droplet. Perancang senior Ghea Panggabean melansir masker bermotif senada dengan busana siap pakai yang diproduksinya. Merek pakaian jadi asal Bali Big Boy Looks Good membuat masker dari bahan print dihiasi dengan ornamen-ornamen unik seperti lego dan googly eye. Perancang Ferry Sunarto mendesain masker dari bahan kulit yang tampak mewah selain masker berkonstruksi yang diberi lambang Garuda Pancasila.
 
Dari bahan kain, kreativitas pembuatan masker beralih pada materi kain scuba. Sebenarnya masker dari bahan scuba sudah ada dalam keseharian warga di Korea, Jepang, China, dan Thailand jauh sebelum COVID-19 mewabah. Keunggulan bahan yang elastis dan tebal bisa memberikan hasil akhir masker yang nyaman dikenakan, ringan, dan secara kreativitas mudah di print. Sayangnya, masker dengan bahan dasar scuba tidak lagi dinilai ampuh sebagai perlindungan diri ataupun penahan penyebaran virus di kala pandemi ini. Sifatnya yang justru elastis dan tipis, membuatnya rentan menciptakan celah dan pori yang mampu ditembus oleh virus COVID-19.
 
Masker premium di Indonesia adalah sebutan untuk masker mahal yang dirancang oleh para desainer yang beberapa dikenal dengan koleksi adibusana mereka. Tersebutlah Hian Tjen, Sapto Djojokartiko, Danny Satriadi, Biyan, Heaven Tanudiredja, Albert Yanuar, dan masih banyak lagi, yang memproduksi masker premium dengan sematan aplikasi payet, bordir, ataupun pemilihan bahan unik yang menarik perhatian konsumen kelas menengah ke atas.
 
Perancang Adrian Gan lalu menciptakan produk masker yang custom made disesuaikan dengan kepribadian pelanggannya. Masker ini tampak ekslusif, mewah, dan berkualitas tinggi. Aksen bordir indah menjadi senjata utama Adrian Gan dalam merancang masker yang seluruhnya disesuaikan dengan zodiac, shio, hobby dan profesi dari pemesannya.
 
Mode selalu menjadi platform untuk ekspresi diri. Pada saat masker menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita, maka ketika kita menggunakannya juga sebagai showcase gaya individual tak bisa terhindarkan.
 
Baca Selanjutnya: 
Alat Untuk Berempati

 
 

Foto: Dok. Mety Choa

Alat Untuk Berempati

Selain membuka peluang bisnis, masker juhga menghadirkan berbagai gerakan sosial di tengah masyarakat. Di Indonesia, salah satunya adalah gerakan maskeruntuk.id. Gerakan ini merupakan sebuah aksi sosial yang mengajak para perancang mode, ilustrator, influencerbeautypreneur, penyanyi, dan pelaku industri boga untuk merancang masker dan mensosialisasikannya ke masyarakat. Pembelian satu masker sama dengan menyumbang 3 buah masker yang akan disalurkan kepada yang membutuhkan. Awalnya gerakan ini pun menggunakan bahan dasar scuba, namun kini telah diubah menjadi masker kain 3 lapis yang terdiri dari Polyester, filter Spunbond, dan katun yang jauh lebih aman.

Di belahan dunia lain pun, gerakan masker meluas dan dilakukan oleh pesohor-pesohor dunia. Kini, masker tak lagi sekadar menjadi pelindung diri namun sah sebagai menjadi fashion statement. Ini berarti pergeseran sisi fungsionalnya sangat boleh terjadi. Rinaldy Yunardi merancang masker jaring-jaring bertangkai yang rumit seperti keluar dari cerita science fiction untuk konser penyanyi Syahrini. Perancang Mety Choa dari Maison Met membuat masker perak yang spektakuler untuk dikenakan Lady Gaga pada MTV VMA 2020 lalu. Satu dari tiga masker ekstravanza yang dikenakannya saat itu, menerima bermacam penghargaan.  
 
Jelas ini bukan desain masker yang ditujukan untuk orang biasa seperti kita. Tapi ‘pergeseran’ fungsi ini sah karena ada kebutuhan masker sebagai kostum panggung yang harus penuh kejutan. Yang menarik adalah penyataan Lady Gaga sendiri pada VMA itu. Di akhir acara ia mengeluarkan pernyataan yang sangat kuat. “I might sound like a broken record, but wear a mask. It’s a sign of respect.” Sebagai Fashion statement atau bukan, memakai masker adalah bagian dari empati dan kesopanan.

Menarik, norma kehidupan baru telah membuat masker tak sekadar penutup separuh wajah, pelindung dari droplet dan virus COVID-19. Jauh dari itu, ada cerita dari setiap masker yang kini hadir di kehidupan kita. Apa cerita menarik tentang maskermu? Bagi ceritamu bersama femina lewat hashtag #feminamaskerchallenge. Ikuti informasi lebih lanjut di sosial media femina: Facebook Femina Media, Instagram @feminamagazine dan twitter @feminaindonesia. (f)


 
Baca Juga
40 Tahun Berkarya, Ghea Panggabean Terbitkan Buku
Sabung Ayam dan Refleksi Diri pada Koleksi Sapto Djojokartiko
Perancang Legendaris Asia, Kenzo Takada, Wafat di Paris.