
Foto: Dok. Bata
Anda tidak sendiri kalau sebelum membaca tulisan ini, beranggapan Bata adalah merek asli Indonesia. Pendapat umum ini ternyata terjadi di seluruh dunia. Tamu-tamu media yang hadir pada Bata Fashion Weekend, April lalu, di Praha, Republik Ceko, juga berbagi cerita yang sama. Entah mereka yang berasal dari Eropa, Amerika Latin, Asia maupun Afrika. “Merek dan logo Bata sudah diterjemahkan ke dalam 14 bahasa. Di banyak negara, Bata bahkan dianggap sinonim dengan sepatu dan dianggap sebagai produk lokal. Bahkan, di banyak negara Bata menjadi satu-satunya perusahaan pembuat sepatu yang dikenal masyarakat setempat,” ungkap Roberto Longo, President Director Bata Asia Pasifik, kepada femina.
Foto: Dok. BATA

Foto: Dok. PET

Foto: Dok. BATA
Bisnis Turun-temurun
Bata (dalam bahasa Ceko dilafalkan sebagai Bat’a) adalah perusahaan pembuat sepatu yang didirikan oleh tiga bersaudara: Tomáš, Anna, dan Antonin Bata, di kota kecil Zlin (sekitar dua jam bermobil dari Praha), pada 1897. Keluarga Bata adalah keluarga pembuat sepatu, dan para pendiri ini merupakan generasi ke-8.Sejak awal, ketiganya membuat terobosan, misalnya dengan menghapuskan cara one man show dalam pembuatan sepatu menjadi kerja grup atau semacam ‘ban berjalan’dengan mengaryakan 10 orang. Tomáš pula yang berinovasi membuat sepatu dari kanvas sehingga harga sepatu bisa ditekan. Sepatu ini sangat ringan dan simpel untuk dipakai seharihari kaum pekerja pada masa itu.
Bata (dalam bahasa Ceko dilafalkan sebagai Bat’a) adalah perusahaan pembuat sepatu yang didirikan oleh tiga bersaudara: Tomáš, Anna, dan Antonin Bata, di kota kecil Zlin (sekitar dua jam bermobil dari Praha), pada 1897. Keluarga Bata adalah keluarga pembuat sepatu, dan para pendiri ini merupakan generasi ke-8.Sejak awal, ketiganya membuat terobosan, misalnya dengan menghapuskan cara one man show dalam pembuatan sepatu menjadi kerja grup atau semacam ‘ban berjalan’dengan mengaryakan 10 orang. Tomáš pula yang berinovasi membuat sepatu dari kanvas sehingga harga sepatu bisa ditekan. Sepatu ini sangat ringan dan simpel untuk dipakai seharihari kaum pekerja pada masa itu.

Foto: Dok. BATA
Di Praha, jejak heritage Bata terlihat di mana-mana.Termasuk flagship store lima lantai di kawasan trendi new town. Toko ini tampak sangat ramai sepanjang hari, didatangi warga lokal dan turis. Koleksi sepatu (dan aksesori lain) sangat masif dan mengakomodasi seluruh kebutuhan keluarga. One stop shopping shoe store, dari bayi hingga dewasa, pria dan wanita, untuk segala musim. Kendati kantor pusat Bata berada di Lausanne, Swiss, Zlin tetap menjadi semacam kota Bata (Bataville), di mana banyak fasilitas produksi berada di kota kecil ini dengan ribuan orang bekerja dan menetap.

Foto: Dok. PET
Sebagai salah satu pemain utama dalam industri sepatu di dunia, Bata kini membagi tiga unit bisnis: Bata Eropa berpusat di Italia, Bata Emerging Market (Asia Pasifik, Afrika dan Amerika Latin) di Singapura, dan Bata Protective (divisi operasional untuk B2B) di Belanda. Hingga saat ini ada lebih dari 5.000 toko retail Bata di lebih dari 60 negara dan fasilitas produksi di 18 negara, termasuk Indonesia, dan menghasilkan sekitar dua ratus juta pasang sepatu tiap tahunnya. Indonesia, seperti disampaikan Roberto Longo (President Director Bata untuk kawasan Asia Pasifik) kepada femina, ada di 10 besar pasar Bata di dunia dengan lebih dari 400 toko di seluruh Indonesia. Bata masuk ke Indonesia sebagai importir sepatu pada tahun 1931. Tahun 1939 didirikan pabrik di kawasan Kalibata (Jakarta). Tahun 1982, PT Sepatu Bata Tbk tercatat di Bursa Efek Jakarta. Kini seluruh produksi Bata Indonesia dilakukan melalui pabrik di daerah Purwakarta yang menghasilkan produk alas kaki, baik yang terbuat dari kulit, karet, kanvas, maupun plastik untuk kebutuhan dalam negeri dan ekspor.

Foto: Dok. BATA
Manifesto Baru
Sebuah perhelatan akhir minggu, Bata Fashion Weekend, yang mengesankan berlangsung di jantung Kota Praha yang antik, seperti di halaman buku cerita anak-anak itu. Ada sekitar 200-an tamu media, selebritas, dan perwakilan Bata dari seluruh benua turut hadir. Bermacam acara digelar sejak Jumat sore itu. Untuk menuju show case pertama, para tamu diajak walking tour mengelilingi Praha menuju pelataran Czech National Theater di down town yang ramai. Di areal outdoor dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah berlangsung fashion show produk terbaru Bata untuk spring-summer2017/18 yang dikenakan model ‘orang biasa’. Hal ini untuk memberi penekanan pada arahan baru, The Manifesto: Me #comfortablewithit.
Sore harinya acara utama digelar di sebuah hipster venue yang sedang menjadi pembicaraan di kota ini. La Fabrika, sebuah gedung dua lantai bergaya industrial, disulap menjadi ruang pamer dan ruang show utama, serta creative corner untuk semua umur. Di ruang ekshibisi ditampilkan produk Bata ikonis, produk terbaru, desain sepatu karya para finalis Bata Young Designer Challenge, dan live show pembuatan sepatu di era modern. Pada malam harinya sebuah fashion show yang penuh energi digelar, dilanjutkan pesta cocktail hingga larut malam. Acara-acara di La Fabrika juga bisa dinikmati oleh warga Praha sepanjang minggu itu.
Sebuah perhelatan akhir minggu, Bata Fashion Weekend, yang mengesankan berlangsung di jantung Kota Praha yang antik, seperti di halaman buku cerita anak-anak itu. Ada sekitar 200-an tamu media, selebritas, dan perwakilan Bata dari seluruh benua turut hadir. Bermacam acara digelar sejak Jumat sore itu. Untuk menuju show case pertama, para tamu diajak walking tour mengelilingi Praha menuju pelataran Czech National Theater di down town yang ramai. Di areal outdoor dengan latar belakang gedung-gedung bersejarah berlangsung fashion show produk terbaru Bata untuk spring-summer2017/18 yang dikenakan model ‘orang biasa’. Hal ini untuk memberi penekanan pada arahan baru, The Manifesto: Me #comfortablewithit.
Sore harinya acara utama digelar di sebuah hipster venue yang sedang menjadi pembicaraan di kota ini. La Fabrika, sebuah gedung dua lantai bergaya industrial, disulap menjadi ruang pamer dan ruang show utama, serta creative corner untuk semua umur. Di ruang ekshibisi ditampilkan produk Bata ikonis, produk terbaru, desain sepatu karya para finalis Bata Young Designer Challenge, dan live show pembuatan sepatu di era modern. Pada malam harinya sebuah fashion show yang penuh energi digelar, dilanjutkan pesta cocktail hingga larut malam. Acara-acara di La Fabrika juga bisa dinikmati oleh warga Praha sepanjang minggu itu.

Foto: Dok. BATA
Perhelatan tiga hari itu merupakan momentum yang bersejarah bagi Bata, Selama 123 tahun beroperasi dan menjadi pemain utama produsen dan retail sepatu dunia, baru kali ini mereka membuka pintunya bagi media. Ada arahan baru digaungkan oleh CEO baru Bata, Alexis Nasard, tentang perlunya keterbukaan perusahaan pada hal-hal yang sudah dilakukan dan patut diketahui oleh publik. Sebagai sebuah perusahaan keluarga, Bata memang tampak sangat low profile dan hanya fokus pada pengembangan produk serta ekspansi perusahaan. Hal ini juga bisa terlihat dari gesture para pemilik. Dalam acara tiga hari tersebut, femina sempat bertemu dan berbincang dengan Thomas Archer Bata, cicit (generasi ke-4) dari pendiri, yang sejak Desember 2015 menjabat sebagai Chief Marketing Officer Global Bata. Penampilannya sangat kasual dengan polo shirt, blazer ringan, dan jeans atau celana khaki serta Bata Bullet warna kuning tua. Ia berbaur tanpa jarak dengan tetamu dan karyawan yang juga rata-rata berbusana kasual. Di era keterbukaan dan persaingan saat ini personal branding sangat penting. Hal itu yang dibawa Alexis pada perusahaannya ini, Secara marketing, ada arahan baru yang disebut The Manisfesto: Me #comfortablewithit. Ini semacam selebrasi bagi wanita dan kehidupannya yang menakjubkan.

Foto: Dok. BATA
Alexis dalam pidatonya menyatakan bahwa Bata ingin mendorong tumbuhnya rasa percaya diri wanita yang sehat dan menjadi dirinya sendiri. “Semua berhak menjadi seksi dan nyaman, comfortable sexy and comfortable!” katanya, memberi penekanan. Secara produk, manifesto ini memberi garansi semua produk Bata yang makin stylish dan inovatif, nyaman dikenakan, bersahabat dengan tiap bentuk kaki. Dalam desain, arahan baru ini juga menunjuk pada perubahan signifikan Bata, yang bekerja sama dengan desainer sepatu top dunia, seperti Alberto Del Biondi, Tommaso Gallina, dan Andrea Guarnier, untuk mengakomodasi selera konsumen muda.

Foto: Dok. BATA
Pada kesempatan wawancara dengan femina, Roberto Longo menyampaikan bahwa fokus pasar Bata kini adalah konsumen yang dipersonifikasikan sebagai Angela dan Roberto, berusia antara 25-35 tahun, dan gaya hidupnya. “Kami berusaha menciptakan koleksi alas kaki yang bisa mengakomodasi gaya hidup kedua orang ini sehari-hari,” jelas Roberto, pria Italia dari keluarga pembuat sepatu ini. Keterangan Roberto sekaligus menjelaskan mengapa toko Bata umumnya menyediakan kebutuhan alas kaki untuk seluruh keluarga. Lebih jauh Roberto --yang sehari-hari berkantor di Singapura-- menjelaskan, ada tiga kriteria utama dalam pembuatan sepatu di perusahaan ini: desain, physical comfort (teknologi pembuatan sepatu diarahkan untuk kenyamanan pemakai), dan mental dimentional comfort. Poin ketiga menyangkut persepsi bahwa sepatu yang nyaman hanya yang berbentuk tertentu. Seyogianya semua bentuk sepatu memang harus nyaman dipakai konsumennya. I am #comfortablewithit.

Foto: Dok. PET

Incaran Kolektor: Bata Heritage
Dengan usia brand yang sudah ratusan tahun, mendunia, dan merasuk hingga ke pelosok, tidak mengherankan Bata berhasil mengumpulkan jenis produk sepatu terpopuler sepanjang masa dan paling disukai di dunia. Jenis sepatu ini disebut sebagai Bata Heritage. Contohnya, Bata tennis (sneaker putih klasik), Bata bullets, Mary Jane pantovel biker shoes, dan flip flop sandal. Begitu populernya produk-produk ini hingga misalnya pada Desember 1999, The New York Times Special Edition (Times Capsule) menampilkan aktor terkenal Robin William mengenakan Hawaii flip-flop di halaman sampulnya.
Dengan usia brand yang sudah ratusan tahun, mendunia, dan merasuk hingga ke pelosok, tidak mengherankan Bata berhasil mengumpulkan jenis produk sepatu terpopuler sepanjang masa dan paling disukai di dunia. Jenis sepatu ini disebut sebagai Bata Heritage. Contohnya, Bata tennis (sneaker putih klasik), Bata bullets, Mary Jane pantovel biker shoes, dan flip flop sandal. Begitu populernya produk-produk ini hingga misalnya pada Desember 1999, The New York Times Special Edition (Times Capsule) menampilkan aktor terkenal Robin William mengenakan Hawaii flip-flop di halaman sampulnya.

Foto: Dok. BATA
Untuk membuat Bata lebih relevan pada konsumennya, kini Bata berkolaborasi dengan desainer, selebritas, dan karakter kartun populer memproduksi ulang produk Bata Heritage dalam desain khusus dengan jumlah terbatas. Beberapa yang paling menarik perhatian dan membuat antrean panjang di toko-toko Bata Heritage di berbagai negara misalnya kolaborasi Bata sepatu tenis tahun 2015 dengan label fashion Jepang yang kini kembali populer, Commes De Garçon, karakter kartu manga klasik Astro Boy’s pada tahun 2017, dan karakter Peanuts (Snoopy, Charlie Brown, Lucy & Woodstock) pada tahun 2017. Ada juga kolaborasi eksklusif desain untuk tipe Bata Bullets sneakers dengan Drake General Store, jaringan toko retail terkenal di Kanada. Pasar Indonesia belum ‘kebagian’ must have produk ini. Tapi, Zaki Albiansyah, perwakilan Bata Indonesia, berjanji kepada femina akan memikirkan membuat pop up store atau special launch untuk proyek kolaborasi berikutnya. (f)
Baca Juga:
Rebut Kesempatan Menampilkan Karya Anda di Jakarta Fashion Week 2018 Dengan Mengikuti Lomba Perancang Mode 2017
Bella Hadid Gantikan Gigi Hadid Sebagai Wajah Baru Max Mara Accessories