
Foto: Shutterstock
Berasal dari keluarga imigran dengan wajah campuran Mesir - Amerika membuat Rami Malek (37) tak banyak dilirik oleh para sineas di Hollywood saat awal kariernya di industri hiburan. Dirinya sempat dianggap tidak cukup ‘Amerika’ atau banyak sineas yang bingung untuk menempatkan dirinya dalam karakter di berbagai film Hollywood karena wajahnya yang ‘berbeda’. Namun, cintanya pada dunia seni peran terlalu dalam tertanam. Berawal dari garasi rumahnya di Sherman Oaks, California, Amerika Serikat, Rami bermimpi menjadi aktor yang diperhitungkan. Kini dirinya menuntaskan mimpinya dengan berdiri bangga di atas podium seraya mengangkat tinggi-tinggi piala Golden Globe 2019 sebagai Aktor Terbaik. Tepuk tangan tak berhenti menghujaninya, menjadi penanda ia resmi menjadi salah satu aktor paling diperhitungkan.

Foto: Dok. 20th Century Fox
Semua Berkat Freddie“Saya sangat tersentuh. Jantung saya berdegup kencang. Terima kasih Freddie Mercury sudah memberikan kebahagiaan seumur hidup. Ini untukmu dan karenamu,” ujar Rami, saat menerima penghargaan Best Performance by an Actor in Motion Picture - Drama berkat film Bohemian Rhapsody (2018) di ajang penghargaan 76th Golden Globe Award, 7 Januari lalu. Ia dedikasikan penghargaan itu untuk Freddie yang telah membawanya ke level yang berbeda di industri perfilman Hollywood. Piala panjang berbalut emas itu ditimangnya seperti seorang bayi. Hal ini dilakukannya dalam foto portrait hitam-putih sesaat setelah penghargaan tersebut diberikan.
Tentu saja ini adalah kemenangan besar bagi pria kelahiran 12 Mei 1981. Ia seperti dilahirkan kembali di industri film Hollywood sebagai aktor bertalenta yang siap mencetak kemenangankemenangan lainnya di masa depan. Misalnya saja ajang penghargaan Academy Awards ke-91 yang akan diadakan pada akhir Februari, setelah ia masuk nominasi untuk kategori Best Actor. Dengan kemenangan yang didapatkannya di Golden Globe, banyak yang berharap tinggi bahwa ia juga akan mendulang kejayaan yang sama dalam ajang penghargaan yang akrab disebut Oscar tersebut.
Bagaimana tidak? Terlepas dari kesuksesan 740 juta dolar (setara dengan 9 triliun rupiah) dari film biopik sang legendaris yang dirindukan jutaan penggemarnya, impersonasi Freddie Mercury yang dilakukan Rami membuat orang melakukan standing applause di bioskop setelah scene terakhir film Bohemian Rhapsody ditayangkan. Gerak-gerik, gaya bicara, hingga cara memainkan instrumen musik yang menyerupai sang legenda, membuat nama Rami masuk dalam jajaran A-list aktor Hollywood. Membuatnya disejajarkan dengan Forest Whitaker yang sukses berperan di The Last King of Scotland, Matthew McConaughey di Dallas Buyers Club, hingga Gary Oldman di Darkest Hour. Ini adalah buah manis dari perjuangannya untuk melewati berbagai tantangan dalam memerankan seorang legenda. Buah dari kerja keras untuk bisa menirukan sang bintang dengan akurasi yang tinggi. Ia menghabiskan waktu dua bulan untuk belajar gerak-gerik dari pelatih bahasa tubuh, bahkan jauh sebelum film tersebut mendapatkan dana produksi.
Belum lagi puluhan jam yang ia habiskan untuk mengikuti kursus piano, demi lebih bisa menghayati sang legenda, karena ia mengaku sebagai orang yang tidak bisa bermusik. Termasuk kebiasaannya untuk selalu membawa standing mic ke mana pun ia pergi, agar bisa tenggelam dalam kebiasaan Freddie yang piawai menggunakan mic sebagai properti panggung. “Soalnya, jika salah memerankan, saya tak hanya mengecewakan penonton, tapi juga puluhan juta penggemar Freddie,” cerita Rami, yang mengaku bahwa ketika mendapatkan tawaran untuk memerankan Freddie Mercury seperti momen hidup dan mati. Karena, jika ia salah memerankan sang bintang, maka bisa jadi itu akhir dari perjalanan kariernya. Di balik kemenangannya, Rami menyadari bahwa ia perlu banyak mengeksplorasi kemampuan aktingnya. Hal ini ia sampaikan saat merespons kritik atas aktingnya di Bohemian Rhapsody, yang menurut beberapa orang ‘kurang penjiwaan’ atau ‘Mercury-less’.
“Ini adalah sebuah masukan yang baik bagi orang-orang yang tumbuh besar dengan mengidolakan Freddie. Tentu mereka mengenal dia lebih baik dari siapa pun. Ini memotivasi saya untuk lebih banyak mengeksplorasi kemampuan akting di masa depan,” ceritanya, kepada sebuah wawancara radio di Inggris.

Perjuangan Berat
Jauh sebelum piala Golden Globe jatuh ke tangannya, Rami adalah anak dari keluarga imigran Mesir, Said Malek dan Nelly Adel Malek yang datang ke Amerika tahun 1976. Rami kecil senang sekali mengeksplorasi imajinasinya dengan menciptakan karakter yang berbeda. Kemudian ia seakan-akan menjadi pengisi suara dari karakter imajinatifnya yang biasa ia lakukan di garasi rumahnya di Sherman Oaks, California, Amerika Serikat. Namun sayang, ketika Rami beranganangan menjadi seorang aktor, orang tuanya justru punya impian yang berbeda. Sang ayah yang bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan asuransi dan ibunya yang bekerja sebagai akuntan, berharap Rami bisa menjadi seorang pengacara. Sebuah profesi yang menjanjikan, setidaknya bagi keluarga Mesir konvensional yang dalam kesehariannya masih berbicara menggunakan bahasa Arab.
“Keluarga saya sangat kreatif, pekerja keras dan menyenangkan. Namun, dengan silsilah keluarga Mesir, saya adalah generasi pertama dalam keluarga yang lahir di Amerika. Saya pikir orang tua saya tidak menganggap menjadi aktor adalah pilihan yang terbaik untuk bisa meneruskan warisan keluarga yang tak pernah ada yang berprofesi seperti ini,” ujar Rami, dalam wawancara dengan The Guardian. Tapi, Rami tak benar-benar mengikuti permintaan sang ayah, karena setelah lulus SMA, ia melanjutkan studinya di jurusan teater di University of Evansville di Evansville, AS.
Berbeda dari saudara kembarnya, Sami Malek, yang bekerja sebagai guru, dan adiknya, Yasmine Malek, sebagai tenaga medis, Rami memulai kariernya dengan berat. Banyak rumah produksi yang menolak resume-nya karena latar belakang Mesir yang tercetak jelas di wajahnya. Dirinya dianggap ‘kurang Amerika’, yang membuatnya kurang laku menjadi aktor di Hollywood. Pada akhirnya, Rami harus bekerja sebagai pengantar pizza dan membuat falafel di sebuah restoran dekat Hollywood demi memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kondisi ini membuatnya sangat tertekan. Bahkan, ia sempat mempertimbangkan untuk bekerja sebagai agen real estate, daripada mewujudkan impiannya sebagai seorang aktor. “Ada saatnya saya merasa sangat depresi dan mulai kehilangan kepercayaan diri. Terutama ketika tak kunjung mendapatkan respons dari ratusan resume yang saya kirimkan ke rumah-rumah produksi,” kenangnya, pada awal kariernya kepada koran Mesir, Al-Masry Al-Youm.
Tepat di titik terendah keputusasaannya, Rami akhirnya mendapatkan tawaran berperan dalam sebuah serial televisi, Gilmore Girls. Setelahnya, jalannya menunaikan mimpi sebagai aktor pun kian terbuka dengan memerankan berbagai peran dan karakter di serial televisi, sebagai pemeran pembantu di film, hingga menjadi pengisi suara untuk permainan game konsol. Hasil memang tidak pernah mengingkari usaha. Perjuangan beratnya di awal karier mulai diganjar penghargaan pada tahun 2016, saat ia meraih piala Aktor Terbaik di ajang Emmy’s Awards 2017 berkat perannya sebagai hacker anti sosial Elliot Alderson di serial televisi Mr. Robot yang menjadi hit maker. Sejarah juga ia cetak, sebagai aktor non-Amerika pertama yang pernah memenangkan penghargaan tersebut. Setelah itu, karpet merah serasa dibentangkan untuk langkah-langkahnya. Bahkan, aktingnya sebagai introver di serial tersebut dipuji oleh aktor kawakan Robert Downey Jr. Ia memprediksikan bahwa Rami akan menjadi aktor besar. “Kita semua harus melihat dia. Dia berani, vital dan menakjubkan. Dia sangat detail, hal yang terkadang sangat dibutuhkan di industri hiburan saat ini,” ujar Robert, yang mewawancarai Rami untuk majalah Interview.
Apa yang diprediksi Robert sepertinya sudah mulai menjadi kenyataan. Jika ia bisa menirukan figur legendaris sekelas Freddie dengan ‘nyaris’ apik dan melepas stigma negatif pemeran serial televisi sebagai aktor kelas dua, tentu sebagai aktor multidimensional, kemampuan Rami perlu diacungi jempol. Setidaknya sudah ada 16 film, 11 serial televisi, dan menjadi 3 pengisi suara untuk sebuah game sudah sukses ia rampungkan. Dunia telah mendapatkan talenta dengan kualitas akting yang akan memberikan kesan mendalam bagi siapa pun yang menyaksikannya.(f)
Baca Juga:
Tetap Langsing Di Usia 45, Inilah Diet dan Olahraga Aktris Kate Beckinsale
Lembaran Baru Dominique Diyose
Resmi Bertunangan Dengan Chris Pratt, Ini Sosok Katherine Schwarzenegger, Anak dari Bintang Terminator