
Foto: Nurulita (@nurulitanuli)
Konsistensi Raline Shah (31) mengembangkan ruang berkreasi, termasuk dengan menghadirkan sosok dirinya dalam karakter komik, berakar dari satu keyakinan: apa yang menjadi passion-nya, itulah yang ia ciptakan menjadi karya. Mengaku tak berupaya berlebihan membangun citra, ia memilih memanfaatkan popularitasnya untuk mengekspresikan suara hati.
Menumbuhkan Keberanian
“Masuk ke industri hiburan adalah hal yang paling menantang keberanian saya,” ungkap wanita yang dahulu bercita-cita terjun ke dunia jurnalistik atau politik ini. Baru tahun lalu, setelah membintangi 8 judul film, wanita yang menggemari akting dan film sejak masih sekolah ini berani menyebut dirinya seorang aktris.
Dalam Surga yang Tak Dirindukan 2, Raline kembali menghidupkan tokoh Meirose, wanita dengan kehidupan penuh liku yang kemudian terlibat poligami dalam rumah tangga Arini (Laudya Cynthia Bella) dan Prasetya (Fedi Nuril). Diakui wanita yang sempat belajar akting di Teater Garasi di Yogyakarta ini, karakter Meirose, yang kini lebih mandiri, berpikiran positif, dan penyayang tapi tak manja, memiliki cukup banyak kemiripan dengan dirinya.
Raline pun amat menikmati proses membangun chemistry dengan para lawan mainnya selama syuting, yang berlangsung di Budapest, Hungaria. Selain menjadi kekasih Reza Rahadian yang memerankan dr. Syarief, ia juga menjadi ibu bagi Keefe Bazli Ardiansyah, pemeran Akbar.
“Ketika off camera, dia seperti adik saya. Kami melakukan hal-hal konyol bersama, seperti kabur dari lokasi syuting untuk membeli es krim,” kata sulung dari tiga bersaudara ini.
Namun, tak banyak yang tahu bahwa keberanian Raline bolak-balik diuji dalam menjalani kariernya sebagai aktris. Bagi wanita berzodiak Pisces ini, bertemu orang baru dalam pekerjaannya adalah sebuah tantangan besar. Tiap hari ia harus berhadapan dengan wajah-wajah asing yang akan mengamati, mencoba mengenal dan menilai dirinya. Maka, sebagai penganut prinsip ‘tak kenal maka tak sayang’, Raline pun sebisa mungkin memilih bekerja sama dengan orang-orang yang sudah dikenalnya.
Tak sampai di situ, tantangan itu berlanjut setelah masa syuting, iklan maupun film, berakhir. Saat itulah Raline harus mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh pemain dan kru yang telah menjadi keluarga barunya.
“Mengucapkan selamat tinggal kepada mereka rasanya sedih banget, seperti putus cinta berulang kali. Tentu kami berjanji stay in touch, makan siang bareng, tapi seringnya enggak jadi karena kami sudah kembali sibuk,” tutur Raline, yang selalu pergi liburan setelah syuting, agar tak merasa kehilangan rutinitas dan kedekatan yang sudah terjalin itu.
Baca cerita Raline yang tengah berbunga-bunga di halaman berikutnya.

Bagi Raline, popularitas adalah kesempatan untuk bersuara. Sebagai seniman, ia memiliki suara yang bisa didengar khalayak, sehingga ia dapat mengungkapkan pendapatnya tentang kehidupan atau hal-hal yang menginspirasi dirinya.
Salah satu hal penting yang menurutnya perlu lebih banyak didengar adalah pentingnya cinta kasih terhadap sesama manusia. Wanita yang sering terlibat dalam kegiatan sosial bersama Yayasan Pembina Anak Cacat (YPAC) Medan ini menilai, banyak orang terlalu cepat menghakimi maupun mengkritik orang lain. Padahal, ada banyak hal lain yang lebih penting untuk dilakukan, misalnya mengembangkan potensi diri masing-masing.
Di lain pihak, menjadi figur publik tak membuat finalis Puteri Indonesia 2008 ini menahan diri mengungkapkan suara hati, atau berusaha terlalu keras membangun dan menjaga citra. Di matanya, citra diri seseorang akan terbangun dengan sendirinya lewat cara mereka menjalani keseharian, seperti cara membawa diri maupun pilihan-pilihan hidup yang mereka ambil.
“Saya tak merasa harus memberikan pembenaran tentang pilihan hidup saya pada orang lain. I don’t need people to like me. Yang terpenting adalah saya menyayangi diri saya sendiri, dan orang tua saya bisa menerima pilihan-pilihan saya,” tegasnya.
Raline pun percaya, hal yang baik bagi seseorang belum tentu akan baik pula bagi orang lain. Oleh karenanya, seseorang harus bisa menyikapi opini atau saran orang lain terhadap dirinya dengan kritis. Salah satunya adalah ketika ia makin sering dihadapkan dengan pertanyaan, “Kapan nikah?” setelah menginjak usia kepala tiga.
Untungnya, wanita kelahiran 4 Maret 1985 ini bukan tipe orang yang merasa dikejar-kejar usia untuk segera berumah tangga. Menurutnya, pernikahan adalah hal pribadi yang bergantung pada seberapa jauh seseorang merasa nyaman, tidak hanya dengan pasangannya, tapi juga dengan ide pernikahan itu sendiri.
Raline menolak mentah-mentah pandangan bahwa bila seseorang tak kunjung menikah, berarti ada yang salah dengan dirinya. Ia meyakini, selama seorang wanita mampu menghargai, menjaga, dan menghormati dirinya, wanita itu tak perlu merasa takut atau malu bila belum menikah.
Ia mengibaratkan menjalani hubungan cinta itu dengan mendaki gunung. Meski seseorang telah memilih untuk menjelajah bersama pujaan hatinya, tak ada yang tahu apakah keduanya dapat mencapai puncak bersama atau berpisah jalan di tengah pendakian.
Bagi wanita yang pernah mendaki Gunung Kinabalu di Malaysia ini, hal terpenting adalah niatan untuk menempuh perjalanan itu sebagai sebuah pengalaman berharga. Tujuan utamanya, bukan menaklukkan puncak gunung sebagai tanda kemenangan, melainkan kesenangan bagi diri sendiri.
Ia pun tak pernah merasa bahwa menjalani hubungan yang kemudian kandas adalah buang-buang waktu. Toh, semua dijalani atas dasar saling suka dan dengan harapan bisa bertumbuh bersama.
Rasa dan asa itulah yang tengah membuat Raline berbunga-bunga. Hubungan asmara yang tengah dijalaninya, meski terganjal kesibukan masing-masing sehingga tak bisa sering berjumpa, membuatnya bahagia. Menyebut dirinya sebagai seseorang yang terkadang agak kaku, membuka diri pada orang lain merupakan hal yang besar. Baginya, hal paling menyenangkan dari jatuh cinta adalah cukup menyukai seseorang untuk merasa bahagia karenanya.
Sementara itu, cinta lagi-lagi menjadi pendorong wanita yang pernah mengambil diploma di bidang theatre studies selama setahun ini untuk terus bertumbuh, baik dalam kehidupan pribadi maupun kariernya. Untuk itu, ia tak ingin buang waktu. Do what you can, use what you can, start where you are, demikian prinsip hidup yang dipampangnya di akun Instagram-nya, @ralineshah.
Penyuka cokelat ini juga tidak punya keinginan khusus untuk mengincar peran tertentu. Ia lebih memilih memperkaya dimensi suatu karakter yang sudah akan diperankannya. Salah satu caranya adalah berdiskusi dengan sutradara.
Oleh karenanya, Raline tak kenal lelah untuk senantiasa mengasah diri sebagai seorang seniman, agar ia dapat terus bersuara. “Semoga tahun ini saya bisa lebih mengembangkan potensi, bukan semata untuk mencapai target tertentu atau memenangkan penghargaan,” harapnya. (f)
Baca juga:
Mengintip Keseruan Liburan Raline Shah: Mulai dari Menaiki Buaya hingga Bersantai di Lokasi Syuting AADC2
Raline Shah Nggak Butuh Pangeran
Dikabarkan Terima Mahar Rumah Seharga Rp 21 Miliar, Ini Klarifikasi Laudya Cynthia Bella