PENGARAH GAYA FIQI BANAFSAJI, ARNI KUSUMADEWI, FEBIANCA PUTRI/
FOTOGRAFER @IFAN HARTANTO/ DIGITAL IMAGING @RENOPRIYONO/
RIAS WAJAH @PHILIPEKARUNIA/ TATA RAMBUT @ALEONHAIR/
BUSANA @LOVEBONITOID)/ AKSESORI @ALENKAANDMARGO
 
 
Memulai karier di usia yang terbilang telat, 27 tahun, ketika pertama kali terjun ke dunia akting lewat film 5 cm, langkah Raline Shah (33) tidak pernah surut. Sejak itu, ia pun membintangi film Seperti 99 Cahaya Di Langit Eropa, Supernova, juga film Surga Tak Dirindukan. Siapa sangka, eksistensi wanita asal Medan di dunia entertainment lewat akting dan modeling ini berawal dari keinginannya untuk hidup mandiri, lepas dari proteksi keluarganya.
 
Jadi Pemberontak
 
Cantik, glamor, dan sukses di karier. Hidup terlihat mudah dijalaninya. Begitulah label yang  publik sematkan kepada Raline. Wanita kelahiran 4 Maret 1985 ini memang berada di posisi yang mungkin jadi impian banyak orang. “Masa…?” begitu komentar Raline, saat disinggung tentang penilaian publik untuknya itu. Senyumnya merekah. Ia lalu menegaskan bahwa banyak tantangan yang harus ia lalui saat memilih karier di dunia hiburan ini.
 
“Banyak yang tidak tahu, sebenarnya tantangan terbesar saya adalah keluarga.” Raline berasal dari trah terpandang di Medan dan Sumatra Utara. Ayahnya, Rahmat Shah, seorang diplomat, politikus, dan pembina banyak organisasi dan badan amal. Sebagai satu-satunya anak  perempuan, keluarga sangat keras dan protektif terhadap Raline. Banyak hal penting dalam hidupnya yang diputuskan oleh keluarga, tanpa bisa dia bersuara. Seperti ketika ia disekolahkan ke Singapura, bukan London seperti keinginannya.
 
Semasa kecil, ia bisa menerima segala keputusan yang diambil orang tua untuknya. Namun,  seiring dengan bertambahnya usia, keinginan untuk mandiri pun muncul. “Langkah besar yang saya lakukan adalah pergi ke Bangkok untuk ikut audisi iklan di sana. Saat itu saya baru lulus kuliah di jurusan Political Science di National University of Singapore. Saya numpang di tempat kos teman yang sangat sederhana,” kata Raline, mengenang. Saat itu, tahun 2010, ia berusia 25 tahun.
 
Keluarganya sangat marah. Untungnya, audisi itu berhasil. “Itu audisi pertama saya dan langsung lolos membintangi iklan untuk 12 negara. Saya pun sadar bahwa seni peran adalah jalan saya untuk hidup mandiri,” kata Raline, sambil menyebut nilai kontraknya bisa menghidupi dirinya sendiri selama 2 tahun!
 
Bukan sekadar mendapatkan pekerjaan di audisi pertamanya, Raline juga tercerahkan oleh perkataan sutradara iklan tersebut. “Raline, kamu harus bekerja di depan kamera. Saya belum pernah melihat orang yang tidak memiliki pengalaman akting bisa seperti ini,” kata Raline.

Apa jawaban Raline tentang status singlenya? Baca halaman berikut.
 
 
 
Single, Tak Masalah
 
Keberhasilannya menjadi bintang iklan di audisi pertama membuat kemarahan keluarganya pun melunak. Meski izin keluar, ia tetap harus ikut mengurus bisnis keluarga. Namun, seperti yang dikatakan sutradara iklan pertamanya, garis hidup Raline sepertinya memang berada di depan kamera. Karena, tak lama bekerja di perusahaan keluarga, ia mendapat tawaran membintangi film 5 cm.
 
“Proses mendapatkan peran ini enggak gampang. Mungkin sampai 12 kali saya harus bolak-balik casting ke PH-nya,” katanya. Sebuah tantangan lain. Ia minim pengalaman dan sering diragukan mampu bicara seperti anak Jakarta, karena dianggap terlalu lama  tinggal di luar negeri dan berlogat Medan. Tak putus asa, Raline rajin pergi ke Universitas Indonesia di Depok untuk mengamati bahasa dan logat anak Jakarta.
 
Kini Raline sudah mengerucutkan misi hidupnya ke depan, ia ingin berakting di film skala internasional. “Saya belum bisa cerita banyak. Saat ini sedang proses mendapatkan agensi.
Kalau ada kemauan, pasti akan ada jalan.”
 
Raline tidak menyangkal bahwa pencapaian yang sudah ia raih juga memunculkan opini-opini yang tidak selalu menyenangkan. Meski bagi sebagian besar orang Raline dianggap sosok ideal, ia tak luput dari bullying.
 
“Tiap orang bisa beropini. Sebetulnya imbang saja, ada yang mem-bully, tapi ada juga yang memuji,” katanya. “Kadang-kadang saya berpikir, seseorang memang harus pernah di-bully agar bisa menjadi kuat,” ujarnya, tertawa. Ia mengaku, saat masih duduk di sekolah dasar di merika, sering menghadapi bullying karena ia orang Asia. Ia percaya, tiap orang punya timeline dan tantangan yang orang lain tidak tahu. Termasuk soal pernikahan.
 
“Tiap orang punya waktunya masing-masing, tiap orang punya tantangan pribadi yang tidak diketahui oleh orang lain, termasuk untuk mencapai sesuatu yang 'biasa' seperti menikah atau punya anak,” katanya.
 
Di usianya kini, tidak dipungkiri banyak yang menanyakan status lajangnya. Bukannya menampakkan kekesalan, Raline akan menjawab semua pertanyaan tentang statusnya. “Saya akan katakan, thank you for the question.  Mungkin they care about me, mungkin mereka berpikir dalam hidup itu harus memiliki pasangan, sehingga bila tidak punya, mereka merasa kasihan. Tapi, saya katakan, hidup saya sudah nyaman dan tidak perlu ada yang dikasihani. Saya melajang karena pilihan, bukan karena saya tidak mau punya pasangan atau tidak bisa punya pasangan,” katanya.
 
Apalagi, kini ia masih fokus mengejar mimpi berakting secara internasional. “Berani menjadi diri sendiri adalah ciri kekuatan seorang wanita,” pungkas Raline. (f)