
Foto: Dok.Pribadi
Sebagai orang tua artis yang sedang naik daun, Riafinola Ifani Sari (39) atau akrab dipanggil Nola, banyak melalui pahit manis pengalaman yang mendewasakan dirinya dan sang putri. Termasuk soal haters dan bully.
Tak pernah ada gunanya jika suka menghina hanya membuat hatimu susah dunia lebih indah tanpa ada si bully enyah pergi saja kau bully
Bully, demikian judul penggalan lirik lagu yang dinyayikan Naura. Lagu ini terinspirasi dari fenomena bully dan haters di era media sosial. Tidak hanya menjatuhkan mental, beberapa orang muda bahkan mengambil keputusan fatal, seperti mengakhiri hidup karena tidak tahan. Tumbuh dan besar di era digital dan media sosial, aktris muda Naura pun pernah merasakan pahitnya menjadi korban bully, atau perundungan.
“Saya sering menjadi korban bully online dan di sekolah. Tapi, saya tidak peduli dengan haters online, karena haters make me famous, and actually mereka adalah fans yang tertunda,” curhat Naura dalam sebuah wawancara di media entertainment kapanlagi.com di awal-awal kariernya.
Belum lama ini, film anak-anak yang dibintanginya, Naura & Genk Juara (2017), juga dipermasalahkan di media sosial karena dugaan mendiskreditkan agama Islam. Sampai-sampai beberapa orang mengidekan agar film anak-anak yang mengajarkan kreativitas, hubungan persahabatan yang baik, dan kecintaan pada alam ini diboikot saja.
Gara-garanya, film musikal arahan Eugene Panji tersebut menggambarkan para penjahat yang selalu mengucapkan kata istigfar, seperti ‘astagfirullah’ dan kalimat takbir ‘Allahu Akbar!’ Ucapan-ucapan ini muncul pada adegan-adegan yang menggambarkan reaksi spontan para penjahat yang dikagetkan oleh serbuan anak-anak. Sama seperti misalnya dalam film Home Alone, yang para penjahatnya spontan mengucapkan, “Oh, my God!” saat mereka terkaget.
“Jujur, saat itu Naura sedih,” ungkap kakak dari Aldyano Rafi Bewan Putra (11) dan Anodya Shula Neona Ayu (9) ini.
Niatan murni bahwa film anak-anak tersebut dapat menjadi hiburan yang mengedukasi justru disikapi dengan keliru. “Hebatnya, selama menjalani masa berat itu, Naura berusaha tegar dan menjalani semua jadwal promo filmnya,” lanjut Nola.

Sebagai orang tua, naluri untuk melindungi anak dari bahaya ini pun tak urung ikut membuat hati Nola didesak rasa kecewa dan kekhawatiran. Kecewa melihat begitu mudahnya orang melontarkan ujaran kebencian, bahkan mengarang kisah yang tidak benar tentang putrinya. Khawatir dengan dampak perundungan ini terhadap mentalitas putrinya.
“Meski ada rasa khawatir, saya tetap membuka kenyataan ini pada Naura. Saya mendampingi Naura untuk membaca komentar-komentar negatif bernada kebencian yang masuk ke akun media sosialnya. Agar dia tahu, bahwa begitulah kehidupan, tidak selamanya menyenangkan,” ungkap Nola. Membuka kenyataan yang tidak menyenangkan ini menjadi caranya untuk menempa dan menumbuhkan mentalitas putrinya.
“Dari sini Naura juga bisa belajar, bertolak belakang dengan anggapan lama bahwa semua orang bisa menjadi teman, maka di era sekarang kita harus memilih dan menyaring teman-teman kita. Filternya hanya dua, baik atau tidak. Saya selalu menekankan ini kepadanya, sebab saya tidak bisa selalu berada bersama-sama dengan dia,” papar Nola, memberikan kepercayaan kepada Naura.
Nola juga selalu menekankan kepada putrinya bahwa perilaku bully akan selalu ada dan di mana saja. Sebagai orang tua, dirinya dan Baldy Mulya Putra, sang suami, berupaya membuat ruang komunikasi dan dukungan. Tiap hari mereka selalu meluangkan waktu untuk duduk makan bersama keluarga. Saling berbagi cerita keseharian, mendengarkan cerita pengalaman anak di sekolah dan teman-teman mereka. Di sinilah, sebagai orang tua, mereka punya kesempatan untuk menebarkan nilai-nilai positif kepada anak-anak mereka.
“Segala sesuatu dalam hidup ini perlu perjuangan, dan perjuangan ini harus dijalani dengan hati yang lapang. Tidak mudah mempertahankan hal yang baik,” ujar Nola, mengulang obrolan dari hati ke hati mereka kepada anak-anaknya. Hal terpenting adalah bagaimana kita belajar menguasai diri, dan tidak terbawa emosi.
“Apa pun perlakuan buruk dari media sosial terhadap kalian, tidak usah dipikirkan. Sebaliknya, jangan melakukan hal yang sama. Karena, jika kita sama, kita akan seperti mereka juga. Apa pun yang kita lakukan harus dengan hati yang senang dan tidak menyakiti orang lain, sehingga jalan kita selalu mendapat ridho dari Allah,” lanjut Nola, tentang pesan yang sering diulangnya kepada anak-anaknya.
Lagi pula, masih lebih banyak yang terus memberikan apresiasi positif padanya. Di antaranya Teman Naura, fanbase putrinya di Instagram @fansclubnaura, yang kini telah menembus angka 43.200 followers. Mereka ini tidak begitu saja mudah dipengaruhi, dan terus mendorong serta mencintai dirinya apa adanya.
Sebaliknya, melalui talenta bernyanyinya, Naura membalikkan narasi-narasi kebencian ini menjadi narasi cinta dan persahabatan. Salah satunya, melalui single terbarunya, Katakanlah Cinta, yang diciptakan oleh Mala dan Tantra.
“Di tengah segala ujaran kebencian di media sosial, melalui lagu ini Naura mengampanyekan bahwa cinta itu lebih besar daripada kebencian dan mampu mengatasi segala keburukan,” ungkap Nola.
Naura juga membawakan salah satu theme song Asian Para Games 2018 berjudul Sang Juara yang digelar pada 6-13 Oktober di Jakarta. Rasanya pantas jika Naura disebut sebagai ‘Sang Juara,’ melihat kedewasaannya menyikapi tantangan di usia belia. (f)
Baca Juga:
Dian Sastrowardoyo Bicara Tentang Nicholas Saputra dan Keinginan Menjadi Produser Film
Ayu Gani, Dari Asia's Next Top Model Ke Bisnis Mode
Alasan Ringgo Agus Rahman dan Sabai Dieter Morscheck Enggan Mengisi Reality Show Di Televisi