PENGARAH GAYA FIQI BANAFSAJI, ARNI KUSUMADEWI, FEBIANCA PUTRI/
FOTOGRAFER @IFAN HARTANTO/ DIGITAL IMAGING @RENOPRIYONO/
RIAS WAJAH @INEZFAB/ TATA RAMBUT @DANIELPUTRA/
BUSANA @DAYANDNIGHT.OFFICIAL), AKSESORI @ALENKAANDMARGO
 
Kisah hidup Ririn Ekawati (36) bagaikan kisah drama Korea yang begitu dramatis. Di usia yang terbilang muda, dua kali pernikahannya berakhir. Pertama karena cerai, kedua karena sang suami direnggut leukemia. Meski kerap menerima cibiran dan bully karena statusnya, Ririn yakin mampu menjadi ibu sekaligus bagi kedua putrinya, Puti Jasmine Salsabila Abeng (15) dan Abigail Cattleya Putri (1,9 tahun).
 
Bangkit Dari Kesedihan

Belum genap dua tahun usia pernikahannya ketika Ririn kehilangan sang suami, Ferry Wijaya untuk selama-lamanya. Ferry meninggal pada Minggu, 11 Juni 2017 lalu karena kanker darah. Sedih dan terpukul atas kehilangan orang yang sangat ia cintai, tidak bisa ia hindari. Namun, Ririn tidak menganggapnya sebagai ujian atau cobaan, melainkan takdir hidup.
 
Meski berat namun Ririn tak mau terus bersedih apalagi memperlihatkan kesedihan di depan kedua anaknya. “Rasanya tidak adil bagi mereka jika saya hanya memikirkan diri sendiri. Hidup saya dan anak-anak masih sangat panjang,” katanya. “Saya selalu happy, dengan demikian anak-anak juga pasti happy. Saya kuat, maka mereka pasti tumbuh menjadi anak yang kuat,
tidak cengeng,” katanya.
 
Beberapa bulan setelah kepergian suaminya, Ririn berusaha kembali ke kehidupan normalnya. Ia menerima tawaran sebagai master of ceremony (MC) di beragam acara off air dan berakting dalam film. “Saya harus menafkahi kedua anak saya. Merekalah yang menjadi alasan saya untuk segera pulih dan semangat kembali,” kata pemeran Princes Syahrini dalam film komedi Bodyguard Ugalugalan ini.
 
Beradu akting dengan para komika seperti Boris Bokir dan Lolox yang kocak dalam film itu jadi hiburan tersendiri bagi Ririn. “Rasa sedih di dalam hati pun semakin terkikis,” katanya, tersenyum. Ia mengaku bahwa butuh waktu sekitar satu tahun untuk bisa benar-benar pulih.
 
Menjadi kepala keluarga, Ririn makin tekun mencari nafkah. Kini ia turun tangan langsung dalam bisnis keluarga yang bergerak di bidang alat berat yang berpusat di Kalimantan. “Selama ini memang sudah terlibat, namun hanya menerima laporan saja. Tapi, saat ini saya mesti mempelajari banyak hal tentang bisnis ini,” ungkapnya.
 
Berkunjung ke Kalimantan, dan juga menemui para klien yang berada di Jakarta adalah hal-hal yang ia lakukan sebagai tanggung jawab dalam bisnis yang dipimpin oleh pamannya itu. Alumni Wajah Femina (WF) 2000 ini mengungkapkan bahwa bisnis alat berat itu sangat menyenangkan. Bahkan timbul sedikit penyesalan dalam dirinya, mengapa bukan dari dulu ia memulainya. Di samping itu ia terus menjaga bisnis florist yang ia dirikan sejak tahun 2013 agar terus berkembang. Ia harus merelakan waktunya bersama Jasmine yang kini duduk di kelas 3 SMP dan Cattleya yang masih balita.

“Saya harus berani dan bekerja keras. Termasuk menanamkan saham pada bisnis keluarga yang kini saya geluti. Itu adalah hal-hal yang selama ini tidak pernah saya lakukan ketika suami masih ada.”

Bagaimana Ririn menjalani peran sebagai ibu dan ayah sekaligus? Baca halaman berikut.
 
 
 
Ibu Sekaligus Ayah

Banyak tantangan yang dihadapi oleh Ririn  sebagai single mom. Selain harus melakukan banyak hal sendiri, ia juga kerap menghadapi cibiran dan bully karena statusnya sebagai janda, kenyataan yang rupanya masih terjadi di zaman modern ini.
 
“Cibiran pun kadang datang dari orang-orang yang saya kenal. Ketika menghadiri acara keluarga, pasti ada saja menyinggung soal status saya. Dari cara mereka melihat saya saja sangat berbeda dari sebelumnya,” ungkapnya.  
 
Di media sosial, bahkan lebih buruk. Ada saja yang menghakimi Ririn dengan menyatakan bahwa apa yang ia alami adalah sebuah karma. Awalnya Ririn memang kesal, namun semakin hari ia semakin terbiasa. Baginya, selama tidak melakukan hal-hal yang tidak merugikan orang lain, maka ia tidak peduli kata orang. “Saya tidak meminta makan kepada mereka. Jadi tidak perlu saya ambil hati atau saya tanggapi,” ucapnya.
 
Tak dipungkiri menjalankan peran sebagai ayah sekaligus ibu, bukan hal mudah. Ririn bersyukur bebannya terasa ringan berkat dukungan adiknya, Rini Yulianti, juga kedua anaknya, yang membuatnya yakin ia bisa menjalani kedua peran itu. Ririn mengakui bahwa mendidik dan merawat kedua putrinya sangat menyenangkan. Walau berbeda usia cukup jauh, namun keduanya akrab.
 
“Tingkah polah mereka membuat hidup saya begitu indah dan berwarna,” ujarnya. Ririn mengaku bahwa ia bukanlah ibu yang sempurna, namun ia terus berupaya untuk menanamkan nilai-nilai yang baik kepada anaknya seperti kepedulian sosial. Selama ini memang memang aktif di beberapa yayasan sosial. Selain memberikan donasi dana, ia juga turun langsung di lapangan seperti mendatangi panti asuhan, yayasan kanker dan rumah belajar untuk anak-anak kurang mampu. “Jasmine kadang ikut terlibat. Bahkan pernah ikut mengajari anak-anak bahasa Inggris,” katanya, bangga.
 
Kemandirian Ririn kini sedikit banyak terasah karena sejak remaja ia yang juga mengalami perpisahan orang tua, sudah terbiasa bekerja, baik membantu ibu maupun sebagai model. Kini giliran ia yang harus mengajari anak-anaknya kemandirian, keberanian, dan ketegasan dalam mengambil keputusan. (f)

Baca Juga: