
Foto-foto: Instagram/kevinkwan
Film Crazy Rich Asians yang dibintangi Constance Wu dan Henry Golding berhasil merajai sinema belakangan ini. Dibuat berdasarkan novel laris dengan judul sama karya Kevin Kwan, seorang warga Singapura keturunan China yang berdiam di Amerika Serikat.
Setelah novelnya yang berkisah tentang kehidupan para orang-orang superkaya Asia, terutama keturunan Tionghoa Singapura sukses di pasaran, filmnya pun menyusul kesuksesan novelnya. Menurut Kevin, novel itu ia tulis berdasarkan kisah kehidupan keluarganya, yang merupakan horang kaya lama Singapura.
“Crazy Rich Asians bisa jadi adalah fiksi, tapi hal itu memberikan gambaran keadaan bagaimana saya tumbuh besar. Saya berasal dari keluarga yang sangat mapan di Singapura, dan sejarah keluarga saya dimulai sejak tahun 1946. Saat itu ada tiga keluarga yang terhubung oleh pernikahan: keluarga saya, Kwan, dari garis nenek, keluarga Oh, dan keluarga Hu dari garis kakek. Mereka lah yang menjadi dasar dari novel itu,” ujar Kevin dalam suatu wawancara.
Ingin tahu lebih banyak tentang Kevin dan keluarganya? Simak halaman berikut yang dirangkum dari berbagai sumber:

Kakek Buyutnya Pendiri OCBC (Oversea-Chinese Banking Corporation)
Keluarga Kwan memang memiliki akar yang panjang dalam kehidupan sosial dan ekonomi Singapura. Kakek buyut Kevin, Oh Sian Guan, merupakan salah satu pendiri OCBC, bank tertua di Singapura. Sementara, kakek dari pihak ibu, Paul Hang, mendirikan Gereja Metodis Hinghwa.
Kakek dari pihak ayah Kevin, Arthur PC Kwan, adalah dokter mata pertama di Singapura yang berpendidikan Barat dan menjadi komisaris untuk the St John Ambulance Brigade. Kerja sosialnya kepada rakyat miskin membuat Dr. Arthur dianugerahi gelar Knight oleh Ratu Elizabeth II.
“Kakek sangat rendah hati dan memiliki jiwa berbagi dan belas kasih, dan merupakan kakek idaman. Saya masih ingat bagaimana Kakek diam-diam mengajak saya dan saudara-saudara saya ke hotel untuk makan es krim, dan kami tidak boleh membocorkan hal tersebut kepada siapapun. Kakek yang kuliah di the University of Edinburg gemar mengenakan stelan jas yang berpotongan dan berkualitas bagus,” ujar Kevin.
Sementara, Nenek Kevin, Egan Oh, adalah wanita yang elegan. Pada masa mudanya, ia adalah kembang yang diperebutkan para cowok kerena kecantikan dan penampilannya. “Setiap kali beliau keluar rumah, pasti banyak pria-pria muda yang menunggunya di pagar untuk mengejar mobil dan melemparinya dengan bunga mawar atau surat cinta,” ujar Kevin.
Menurut Kevin, sang nenek yang menanamkan kebanggaan akan akarnya sebagai keturunan Tionghoa, karena ia tinggal di rumah neneknya sejak ia lahir hingga pindah ke Amerika Serikat.

Kakek Paman-nya Ikut Menciptakan Formula Balsem Tiger
Sebagai orang Asia, balsem adalah salah satu jenis obat-obatan yang selalu ada di setiap rumah tangga. Tiger adalah salah satu merek balsam terkenal di Singapura, termasuk dikenal oleh sebagian masyarakat Indonesia.
Menurut Kevin, salah satu penemu formula balsem Tiger adalah kakak laki-laki kakeknya yang bernama Dr. Hu Tsai Kuen. “Nenek saya, Egan Oh, pada tahun 1931 menikah dengan Dr. Arthur P.C. Kwan, seorang dokter lulusan Hongkong yang juga adik dari Dr. Hu Tsai Kuen. Keluarga Dr. Hu tinggal di hunian bernama Buitenzorg, yang dulunya milik Kesultanan Johor dan merupakan rumah paling besar dan mewah di Singapura,” ujar Kevin.
Pada saat itu, orang-orang kaya gemar tinggal di rumah yang dipenuhi barang antik dan brokat. Hal yang persis digambarkan Kevin di novelnya lewat sosok Ah Ma, nenek Nick Young, sang matriarch yang tajir melintir.

Dibesarkan Dengan Kehidupan Gaya Ningrat Inggris
Pada zaman kakek dan nenek Kevin, keluarga elit Tionghoa di Singapura mendidik dan menyekolahkan anak-anak mereka dengan kiblat ke Inggris, hal yang kini mungkin tidak banyak lagi dilakukan. Mereka juga mengadopsi gaya hidup ningrat Inggris, misalnya tradisi minum teh tiap jam 5 sore, dan setelah makan malam, kakek Kevin akan duduk-duduk di beranda untuk menghisap cerutu.
“Saat saya masih bocah, saya bahkan tidak menyadari kalau saya ini keturunan Tionghoa. Benar bahwa saya orang Singapura, tapi identitas saya terbungkus oleh budaya yang kami anut untuk hidup sehari-hari. Salah satunya, saya sama sekali tidak bisa berbahasa Mandarin, juga kedua orang tua saya. Saya tumbuh besar dengan berbahasa Inggris dengan aksen layaknya keluarga Kerajaan Inggris. Demikian juga dengan para tante saya,” kisah Kevin.
Meski hanya sedikit dari keluarga besarnya yang terjun ke industri kreatif, namun darah artistik tetap mengalir dalam nadi mereka. Ayah Kevin belajar arsitektur, tapi kemudian bekerja di bidang teknik. Dan ibunda Kevin adalah pianis. Salah satu tante Kevin adalah penulis untuk Singapore Tattler pada tahun 80-an. "Kalau saja saya tidak pindah ke Amerika, mungkin kesempatan saya untuk terjun ke dunia kreatif sangat kecil. Mungkin saya akan bekerja di bidang keuangan, seperti hampir semua anggota keluarga besarnya," ujar Kevin.
(f)
Baca Juga:
Teddy Setiawan, Set Desainer Asal Indonesia yang Terlibat dalam Film Crazy Rich Asians
Crazy Rich Asians, Kisah Cinderella versi Asia. Romantis dan Kocak!
Baca Juga:
Teddy Setiawan, Set Desainer Asal Indonesia yang Terlibat dalam Film Crazy Rich Asians
Crazy Rich Asians, Kisah Cinderella versi Asia. Romantis dan Kocak!