Foto: Dok. The Apprentice: ONE Championship Edition


Setelah 11 minggu melakukan tantangan fisik yang intens, tantangan bisnis yang berat, dan drama tinggi di ruang rapat The Apprentice: ONE Championship Edition, akhirnya terpilih dua kandidat terakhir dalam memperebutkan tawaran pekerjaan senilai US$250.000 dan bekerja langsung di bawah Chairman dan CEO ONE Championship Chatri Sityodtong.

Dua kandidat yang akan bersaing memperebutkan posisi Chief of Staff ONE yang baru adalah direktur penjualan yang berbasis di Singapura, Jessica Ramella dari Venezuela dan mantan juara seni bela diri campuran, Louie Sangalang dari Filipina.

Baik Jessica maupun Louie adalah pesaing yang tangguh. Masing-masing dengan kekuatan dan kelemahannya sendiri, telah berhasil menunjukkan keterampilan yang mengesankan dan membedakan diri mereka dari kandidat global lainnya.

Di malam final The Apprentice: ONE Championship Edition yang dijadwalkan tayang pada Senin, 14 Juni, di Kompas TV. Chatri dan tamu istimewa Anthony Tan, CEO Grab, akan menempatkan Jessica dan Louie melalui wawancara yang intens untuk menemukan siapa mereka sebenarnya sekaligus membuat keputusan akhir dan memahkotainya sebagai “The ONE.”

Mari mengenal lebih dekat dua kandidat terakhir The Apprentice: ONE Championship Edition. Yang mana jagoan Anda? 


Baca Selanjutnya: Dua Kandidat The ONE

 


Foto: The Apprentice: ONE Championship Edition


Dua Kandidat "The ONE"

Jessica Ramella lahir dan besar di Venezuela, Jessica meninggalkan keluarganya pada usia 18 tahun dan mulai menjelajah, bepergian dari satu negara ke negara lain, mengejar impian profesionalnya di dunia korporat yang keras. Hingga kehidupan membawanya menduduki posisi Direktur Penjualan di sebuah perusahaan perangkat lunak internasional terkemuka di Singapura, sebelum ia juga mengikuti audisi untuk The Apprentice: ONE Championship Edition.

Sepanjang musim perdana acara, Jessica telah memamerkan akal dan keterampilan pemecahan masalah yang baik. Setiap kali dia diberi tugas, dia menjalankan perannya dengan sempurna. Tanpa ragu, Jessica telah membuktikan dirinya sebagai salah satu kandidat paling cakap dalam kompetisi tersebut.

Sebagai seorang eksekutif, Jessica memiliki banyak pengalaman. Namun, dia menggambarkan aset terbesarnya sebagai kelemahan terbesarnya. Jessica adalah seorang perfeksionis, dan seringkali, dia terlihat terlalu sempurna, yang merupakan sesuatu yang telah diwaspadai Chatri sejak awal.

Sedangkan Louie Sanggalang menemukan kesempatan hidup kedua setelah pada usia 23 tahun, ia divonis menderita kanker usus buntu. Pria kelahiran Baguio City, Filipina ini di masa remaja sempat menjadi pecandu alkohol dan remaja pemberontak yang terlibat perkelahian. Menjadi survivor kanker dan mendapatkan kesempatan kedua dalam hidupnya, Louie kemudian menemukan seni bela diri. 

Pemilik akun Instagram @louie.sangalang ini sukses membangun karier sebagai seniman bela diri campuran profesional dan berhasil merebut URCC Featherweight Championship (2003-2005). Pada tahun 2005, Louie menjadi semifinalis di Kamao: Matira ang Matibay, acara TV realitas tinju pertama di Filipina. Setelah karir seni bela diri profesionalnya berakhir, Louie membangun kariernya di beberapa industri, termasuk keuangan mikro, hiburan, perhotelan, kasino, outsourcing proses bisnis, dan asuransi.

Semangat Juang yang tinggi adalah modal hidup Louie. Ia tidak pernah mau dikalahkan oleh kondisi kesehatannya. Pada tahun 2018, ia menjadi penyintas kanker Filipina pertama yang menyelesaikan North Pole Marathon. Pada tahun yang sama, ia menyelesaikan Ironman Filipina perdana dan dipromosikan ke sabuk ungu di Brazilian Jiu-Jitsu oleh Profesor Fernando Salvador dibawah Asosiasi Pedro Sauer BJJ.

Dengan pengalaman hidup yang berbeda, baik Louie maupun Jessica memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Jessica, misalnya menjadi satu-satunya kandidat yang tidak pernah muncul di posisi tiga terbawah dari sebuah tantangan bisnis. Namun ini bukan kabar yang terlalu baik juga buat pemilik akun Instagram @iamjessicaramella ini, karena Chatri tidak mengenalnya sebaik yang lainnya. Di lain sisi ia juga dinilai lebih suka membiarkan orang lain menanggung beban tekanan di kursi panas, karena sepanjang acara, baru satu kali Jessica menjadi Manajer Proyek untuk timnya. 

Sementara Louie membangun reputasinya sebagai “pembunuh diam-diam”, ia memiliki ancaman strategis yang kuat dan eksekutif yang cakap. Sepanjang musim, Louie bekerja keras dan bersinar dari pinggir lapangan. Sementara kandidat lain terlibat dalam politik perusahaan, ia dengan cermat menyusun strategi persaingannya, yang berfokus pada eksekusi yang kuat dan keputusan taktis yang cerdik. Irina Chadsey adalah orang pertama yang benar-benar mengetahui rencana permainan Louie, tetapi sudah terlambat, dan Louie telah membuktikan dirinya sebagai yang terdepan dalam kompetisi. (f) 


Baca Juga: 
The Apprentice Kembali Hadir Memperebutkan Pekerjaan Senilai US$250.000, Salah Satu Kandidatnya Asal Indonesia
Paulina Purnomowati : Kandidat The Apprentice dari Indonesia yang Terus Melaju
Piawai Berubah Peran, Inilah Jeon Yeo-bin dalam 5 Karakter Berbeda