
FOTO: IFAN HARTANTO (THIRD EYE SPACE, IG: @IFANHARTANTO)
Dari pekerja kantoran ‘9 to 5’ ke Piala Citra Festival Film Indonesia 2017. Dulu, wajahnya hanya beredar di catalog fashion sebuah butik milik sahabatnya di Bali. Kini, semua media massa dan kanal media sosial tidak berhenti mencuitkan dan memajang foto-fotonya. Apakah itu sebagai Lala, pelajar SMA dan atlet loncat indah yang lugu di film Posesif, atau sebagai Putri Marino (24), bintang pendatang baru yang akting memikatnya memenangkan Piala Citra untuk kategori Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Usai pemotretan cover untuk femina, Putri membagikan catatan lompatan perjalanan kariernya.
Mengalahkan Ketakutan
Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari di Kepulauan Natuna, lokasi syuting film terbarunya. Namun, bukan kelelahan fisik yang membuat Putri sulit memproses informasi yang terpampang di layar telepon pintarnya. Di lima menit pertama itu, isi kepalanya seolah beku, hingga ia harus membacanya berkalikali. “Selamat, ya, sudah masuk nominasi Pemeran Utama Wanita Terbaik FFI 2017!”
“Otak saya seperti roaming, loading-nya lama, nge-blank. Oke, ini apa, ya… FFI…. Beneran, nih? Ini enggak mimpi, ‘kan…? Setelah lima menit, baru saya bisa berteriak,
‘Aku masuk nominasi!’ Rasanya enggak percaya, tapi bangga juga!” ungkap wanita kelahiran Desa Bengkala, Bali, 4 Agustus 1993, ini dengan penuh bahagia.
Sabtu, 11 November 2017, lalu, di Manado, lima menit penuh tanda tanya itu berubah menjadi konfirmasi. Putri berhasil memboyong Piala Citra sebagai Pemeran Utama Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 2017. Akting di film perdananya ini berhasil mengalahkan pelakon yang lebih senior, seperti Dian Sastrowardoyo di film Kartini dan Adinia Wirasti di film Critical Eleven.
“Puji Tuhan, Piala Citra ini menjadi motivasi saya untuk terus belajar dan belajar lagi. Sekaligus menjadi pengingat bahwa kesuksesan berawal dari kemauan untuk bekerja secara total dari nol, dan keberanian mengalahkan ketakutan diri sendiri,” ungkap Putri, dalam wawancara terpisah usai perhelatan yang tahun ini digelar di Manado, Sulawesi Utara.
Bicara soal ketakutan pribadi, Putri mengaku sempat hendak menyerah di awal proses reading dan workshop naskah film arahan sutradara Edwin itu. Merasa benar-benar tak tahu apa-apa tentang proses pendalaman peran, ia sempat bingung saat menerima naskah bagiannya. “Tanggung jawab saya besar sekali kepada sutradara dan produser. Saya takut tidak bisa memenuhi ekspektasi mereka,” ungkap Putri.
“Kami percaya pada kamu. Kamu pasti bisa,” kata sang sutradara. Ungkapan penuh keteguhan itu berhasil menaikkan rasa percaya dirinya yang sempat jatuh. Ia merasa
beruntung, Edwin sangat terbuka dengan ruang diskusi. Proses membangun ikatan di antara pemain dan sutradara pun sangat kuat.
Dalam prosesnya, ia menjadi lebih relaks. Saking nyamannya, saat pengambilan gambar, Putri tidak lagi bertanya-tanya, harus dibagaimanakan karakternya ini. Sebaliknya, bersama pemain dan sutradara, ia mulai berpikir apa saja yang bisa ditambahkan dalam adegan. Ia bersyukur mendapat lawan main Adipati Dolken. “Sejak awal, kami 100% ingin total dalam mencari chemistry. Harus kompak dan into character,” ungkap Putri.
Tuntutan perannya memang sangat tinggi. Selain harus menumbuhkan sisi karakter, mentalitas, dan emosional sosok remaja yang naif, Putri juga harus menghidupkan peran sebagai atlet renang loncat indah. Ia harus melakukan riset kehidupan remaja SMA sekarang ini, bagaimana mereka merespons permasalahan dengan orang tua dan dunia percintaan. Namun, yang paling menantang adalah menaklukkan ketakutannya pada ketinggian! Di film ini, dikisahkan Lala harus melompat dari ketinggian 10 meter!
“Selama satu bulan penuh saya latihan loncat indah. Sampai nangis-nangis awalnya karena takut loncat dari ketinggian,” cerita Putri tentang perjuangannya mendalami karakter Lala. Padahal, olahraga air bukan hal baru bagi wanita penggemar diving yang sempat membawakan acara petualangan My Trip My Adventure di Trans TV ini.
“Tiap hari latihan. Seperti masuk pelatnas rasanya,” ujarnya, tertawa. Ditambah lagi, setelah keluar kolam ia langsung lanjut reading sampai sore. “Capek sekali memang. Tapi, karena sudah berkomitmen, ya, maju terus.”
Justru di saat-saat terberat inilah ia mampu menjiwai perannya dengan lebih baik. Di bawah gemblengan pelatih renang loncat indah dan lima atlet profesional yang mendampinginya, Putri belajar meresapi mentalitas seorang atlet dan keseharian mereka. “Mereka hebat! Olahraga ini secara teknik sulit sekali. Hanya untuk tahu cara melakukan ancang-ancang meloncat yang benar saja, saya butuh latihan sampai dua minggu penuh!” ungkap Putri.
Klik page number di bawah untuk cerita Putri Marino berikutnya.

FOTO: IFAN HARTANTO (THIRD EYE SPACE, IG: @IFANHARTANTO)
Saat mengobrol dengan femina, ia baru saja menuntaskan peran barunya di film Mencinta Seorang Kesatria. Mengambil latar budaya Melayu, film yang berlokasi di Kepulauan Natuna ini kembali menghadirkan pergulatan emosional seorang wanita dalam menghadapi permasalahan hidup.
“Saya memainkan dua usia dalam satu film, menjadi anak SMA dan 10 tahun kemudian menjadi wanita dewasa dengan kompleksitas kehidupannya,” cerita Putri. Kali ini Putri ditantang untuk bisa menguasai dialek Melayu. “Ternyata susah sekali,” kata Putri yang juga bermain di film Jangan Salahkan Tuhan yang merupakan adaptasi dari novel kisah nyata 728 Hari, karya Djono W. Oesman.
Mengingat kembali perjalanannya dalam menggapai mimpi, keluarga menduduki posisi sentral dalam mengobarkan semangatnya. “Ketika saya merasa tidak percaya diri dengan apa yang saya lakukan, mereka selalu ada memberikan semangat dan dukungan terbesarnya,” ungkap sulung dari tiga bersaudara yang semuanya wanita ini.
Dukungan 100% ini terutama dirasakannya saat ia penasaran mencoba hal-hal baru. Sebab, awalnya, menjadi bintang film tidak pernah ada dalam daftar cita-citanya. Hasratnya berawal di dunia fashion dengan belajar ilmu fashion design di Bozen-Bolzano, Italia, dan berkarier sebagai desainer fashion untuk merek busana Body & Soul. Ia juga dipotret untuk memperagakan koleksi busana di butik milik sahabatnya di Bali.
“Selama 1,5 tahun itu saya bekerja dengan jam kantoran ‘9 to 5’, bertemu dengan supplier kain, memilih kain-kain, dan membuat jadwal contoh produk. Sampai suatu hari saya merasa ingin mencoba hal baru,” cerita Putri.
Ia pun nekad ke Jakarta untuk audisi menjadi presenter acara My Trip My Adventure, dan diterima! Tujuh bulan berkelana bersama MTMA, sang manajer menawarinya kesempatan casting film. Keraguannya langsung ia tepis.
“Saya tidak tahu hidup ini akan membawa saya ke mana, sehingga saya tidak menutup diri untuk hal-hal baru. Tapi, kali ini saya ingin fokus di film dulu. Ingin mendapat kepercayaan untuk memanusiakan karakter-karakter dari sutradara,” kata Putri. (f)
BUSANA: MADE IND X WILSEN WILLIM (WWW.MADE-IND.COM). AKSESORi: THE THEME (IG: @THE_THEME_IG). RIAS WAJAH: IFAN RIVALDI (IG: @IFANRIVALDI). TATA RAMBUT: CHIKIE (IG: @CHIKIEVERS).
Baca juga:
Berteman Akrab, Raline Shah Turut Hadir Merayakan Ulang Tahun Seung-ri ‘BIGBANG’?
4 Tip Liburan Dari Pevita Pearce Agar Perjalanan Anda Berjalan Lancar dan Menyenangkan
Nova Eliza Pulang Kampung untuk Mengajak Wanita Aceh Berkarya