Foto:

Lahir dari orang tua pekerja seni tak serta-merta membuat Eva Celia (24) langsung mengorbit. Butuh proses panjang mengasah bakat dan keyakinan untuk menunjukkan identitas dirinya tanpa dibayangi nama besar orang tuanya. Kini, ia muncul sebagai musikus peduli lingkungan lewat sentilan pesan-pesan dalam album debutnya yang rilis November tahun lalu.
 
Waktunya Bermusik
Kulit wajah Eva yang sehat membuat make up artist Sissy Soro tak butuh waktu lama mengaplikasikan riasan natural pada wajahnya untuk keperluan pemotretan sampul femina. Rambut pendeknya makin memancarkan kesegaran wajah belianya.  

Tubuhnya yang bertinggi 160 cm dan berat 45 kg dengan luwes langsung bergaya  seiring arahan stylist. Sesekali ia mengatur sendiri  tiap gerakan tangan, kaki, senyum, dan sorot matanya. Gambar-gambar indah pun seketika didapat. Membuktikan bahwa jam terbangnya di depan kamera memang sudah tinggi.

Sejak berusia satu tahun Eva memang sudah muncul bersama mamanya, Sophia Latjuba, sebagai model sampul majalah. Setelah itu, dengan wajah yang mewarisi kecantikan mamanya yang berdarah campuran Jerman ini, ia sering tampil sebagai model iklan, mulai dari produk minuman, operator telepon seluler, hingga kosmetik.

Eva yang terlahir dari pasangan orang tua selebritas terkenal pun memilih kariernya di dunia showbiz. Namun, meski sejak remaja sudah sering dibawa manggung sang ayah, musikus jazz Indra Lesmana, Eva merasa belum cukup yakin menelurkan albumnya sendiri. Itu sebabnya, ia lebih dulu dikenal sebagai model dan aktris.

Lewat film Adriana (2013), Eva menantang dirinya berperan sebagai Adriana, mahasiswi dan putri keluarga Belanda yang hidup pada tahun 1980-an yang menyukai sejarah. Itulah pertama kalinya ia menjadi pemeran utama sehingga merasa grogi dan khawatir. Apalagi ia mengaku, berakting sebetulnya di luar zona nyamannya. Karena itu, ia berusaha sebaik mungkin mengikuti arahan sutradara Fajar Nugros.

”Sungguh senang bisa mendapat kesempatan berakting. Apalagi, dalam film ini saya juga mengisi soundtrack-nya,” tutur Eva. Tidak hanya itu, ternyata Eva juga mampu berakting baik sehingga ia mendapat tawaran berikutnya dalam fim Pendekar Tongkat Emas (2014).

Meski kesempatan melangkah di dunia sinema sudah terbuka luas untuknya, Eva tak dapat mengenyampingkan passion-nya di bidang  musik  yang terus menggelitik. Tahun 2015, ia menelurkan single Reason dan Against Time yang kemudian menjadi bagian dari album So It’s Begins yang rilis November 2016 lalu.

”Di album berisi 8 track ini, saya tak sekadar menyanyi, tapi juga menulis seluruh liriknya. Ini jadi tempat curhat saya atas kegalauan menentukan pilihan hidup, asmara, hingga kondisi lingkungan yang jadi concern saya selama ini,” ujarnya, dengan mata berbinar.

Eva tak kuasa menutupi kebahagiaannya setelah belasan tahun bermimpi. Kini, ia berhasil memupuk keyakinan dirinya bisa berdiri sendiri di panggung Java Jazz 2017, Maret lalu, membawakan lagu-lagu dari albumnya tanpa bayang-bayang ayah dan ibunya lagi.

“Lewat album ini, saya juga belajar lebih percaya pada proses daripada hasil akhir. Pada perkembangan daripada kesempurnaan. Pada musik daripada konflik. Harapan saya hanya satu: to always use music as a means for spreading love, kindness and positivity. To speak for those who can't be heard,” tulisnya, dalam akun media sosialnya dalam rangka Hari Musik Nasional.  
 
 
 
Kontribusi untuk Bumi
Latar belakang keluarganya membuat banyak orang yang meragukan kemampuannya. “Saya tak memungkiri sangat beruntung lahir dari keluarga yang berkecimpung dan diakui kepiawaiannya di bidang seni. Namun, saya tak mau membiarkan komentar miring itu meruntuhkan rasa percaya diri saya,” kata penggemar warna hijau dan biru ini.

 Ia memilih membuktikan dirinya lewat karya. Itu salah satu alasan mengapa album ini memiliki arti penting bagi Eva. “Melihat bagaimana orang-orang yang bekerja bersama saya maupun penggemar menghargai kerja saya, membuat saya yakin pada kemampuan diri saya,” ujarnya, bijak. Lima bulan setelah album dirilis, akun media sosial Eva pun dihujani pujian dan like.

Selama dua tahun menyelesaikan album debutnya itu, wanita kelahiran 21 September 1992 ini mengaku sempat terbentur ‘tembok’ yang membuatnya frustrasi di tengah proses penggarapan album. Ini terjadi setelah dua single pertamanya dirilis.

“Selama enam bulan saya mengalami writer’s block sehingga tidak selesai-selesai. Untungnya orang-orang di sekitar saya terus memberikan semangat sehingga saya percaya diri untuk menyelesaikan album ini,“ kisahnya, sambil tersenyum.

Yang juga membuat penyuka diving ini antusias dengan albumnya adalah bagaimana pendengarnya bisa menangkap pesan yang berusaha ia sampaikan lewat untaian lirik dari kumpulan lagu berirama jazzy dengan sentuhan soul dan R&B itu. Terutama dari lagu Let Love Grow yang mengungkapkan kegelisahan Eva terhadap alam Indonesia yang rusak oleh ulah manusia.

“Lagu ini lahir dari perenungan saya saat melihat sampah dan kerusakan hutan saat traveling. Bahkan, saat diving saya juga melihat banyak sampah plastik di mana-mana. Ketika membuat lagu itu saya enggak yakin apakah pesan itu akan ditangkap. Tapi saya senang, karena ternyata banyak juga yang menyimak,” ujar penyelam, yang mendapatkan sertifikat menyelamnya saat diving di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, ini.    

Baginya, alam tidak hanya menyenangkan untuk diselami dan dinikmati keindahannya, tapi juga sumber inspirasi lahirnya nada-nada indah dari petikan gitar dan sentuhan di pianonya. “Dekat dengan alam membuat saya lebih mudah membuat lagu,” ujar wanita yang tak bisa lepas dari kopi ini.

Keprihatinan ini menumbuhkan keinginan Eva untuk berkontribusi menjaga kelestarian alam. Kini, ia sedang menjajaki tawaran dari sebuah program bernama Hutan Itu Indonesia, yang mengajak para musikus untuk ikut menjelajah hutan dan menciptakan lagu yang membangkitkan kecintaan terhadap hutan.

Sementara itu, dalam menyambut Hari Bumi, 22 April, ia membuat video berisikan cara-cara sederhana menghemat energi, perilaku ramah lingkungan, dan memperlambat climate change, yang diunggah di akun Instagram-nya, @evacelia.

“Saya sangat ingin terlibat dalam kegiatan sosial di bidang pelestarian lingkungan. Saya sadar ini butuh komitmen besar, tapi saat ini saya masih konsentrasi untuk menekuni musik,” ujar Eva, yang bisa langsung berubah ceriwis ketika bertemu dengan orang yang dekat dengannya.

Rencana ke depannya soal musik, ia tengah sibuk mempersiapkan road show di lima kota di Pulau Jawa. Namun, Eva menolak membocorkan kota mana saja yang akan ia sambangi, mengingat semua masih dalam proses yang baru 70% siap. Sedikit bocoran, dalam konser yang rencananya dibuat akrab dan bersifat terbatas itu, Eva tidak akan tampil sendiri, melainkan bersama beberapa musikus dan penyanyi lain.(f)