PENGARAH GAYA FIQI BANAFSAJI, ARNI KUSUMADEWI, FEBIANCA PUTRI/
FOTOGRAFER @IFAN HARTANTO/ DIGITAL IMAGING @RENOPRIYONO/
RIAS WAJAH: @PHILIPEKARUNIA TATA RAMBUT: @ALEONHAIR/
BUSANA @NATALIAKIANTORO)/ AKSESORI @AIDANANDICE

 
Kecintaan Maudy Ayunda (23) pada dunia seni dan pendidikan sama besarnya. Meski banyak orang meragukan kemampuannya melangkah di dua dunia yang bertolak belakang, dara kelahiran 19 Desember 1994 ini tak menyerah. Ia tak rela harus memilih, dan membuktikan bahwa ia bisa menjalani keduanya.
 
Dua Kali Bekerja Lebih Keras

Pendidikan dan dunia hiburan tak pernah berteman akrab. Setidaknya itu yang dianggap banyak orang, terutama pada artis yang terjun di dunia hiburan sejak usia belia seperti Maudy.
 
Debutnya sebagai pemeran utama dalam film Untuk Rena (2005) saat berusia 11 tahun. “Saat SMA, saya tidak diberikan prediksi nilai yang tinggi, hanya karena guru saya menganggap bahwa sebagai artis saya tidak akan bisa fokus belajar sehingga tak akan bisa punya nilai yang bagus,” kata Maudy, mengenang masa-masa remajanya sebagai siswa SMA.
 
Untuk membuktikan prediksi tersebut salah, Maudy memberikan usaha ekstra dengan belajar dua kali lebih keras, bahkan di tengah-tengah kesibukannya syuting dan rekaman lagu. Tak jarang ia harus belajar di lokasi syuting atau mengerjakan PR hingga tengah malam, demi menjaga nilai akademisnya tidak terganggu.
 
Pada akhirnya, Maudy sukses membuktikan bahwa penghakiman dari sejumlah orang yang memandangnya sebelah mata adalah sebuah kesalahan. Ia berhasil masuk Oxford of University, Inggris, mengenyam  Pendidikan di jurusan Politics, Philosophy and Economics (PPE). Universitas bergengsi yang tak mudah ditembus.
 
Kendati sibuk dengan urusan kuliah dan karier sebagai seniman, Maudy justru tertantang untuk mengeksplorasi dunia kerja yang asing bagi bintang Sang Pemimpi ini. Ia pun akhirnya memutuskan untuk magang di sebuah perusahaan konsultan bisnis sebagai analis.
 
Melakukan tiga hal sekaligus - magang, bernyanyi dan sekolah - membuat Maudy pusing. Ketika karyawan lain bisa menikmati akhir pekan bersantai-santai, ia justru sibuk menyanyi off-air. Kendati sempat mengganggu keseimbangan jadwalnya, ia justru merasa pengalaman ini menambah wawasan dan perspektifnya dalam memandang dunia kerja.
 
Kerja kerasnya pun terbayarkan ketika dengan bangganya ia mencetak sejarah menjadi orang Indonesia pertama yang lulus untuk jurusan tersebut. Nilai kelulusannya pun sangat baik. Kendati demikian, ini tak lantas membuatnya lepas dari cibiran sejumlah orang. Sejumlah akademisi justru menganggap bahwa ilmu yang telah didapatkan Maudy itu akan terbuang percuma, jika dirinya tetap menjadi aktris. Maudy yang awalnya tak peduli pun sempat goyah.
 
“Saya sempat merasa ragu. Apakah lebih baik jika saya tidak usah meneruskan sekolah. Namun, berkat dukungan keluarga, teman, dan berusaha mengingat lagi apa mimpi saya dulu, saya jadi kembali termotivasi untuk tidak menyerah pada ekspektasi orang lain,” papar wanita yang mengaku berencana akan mengambil program S-2 ini.

Bagaimana Maudy memadukan dua dunia yang katanya berseberangan itu? Lanjutkan membaca ke halaman berikut.
 
 

Memanfaatkan Popularitas

Pelantun lagu Perahu Kertas ini meleburkan kotak-kotak batasan yang dipercaya masyarakat dengan caranya sendiri. Ia memanfaatkan ilmu yang ia dapatkan semasa kuliah untuk mengembangkan kariernya di industri seni. “Saat kuliah kita bukan hanya mempelajari ilmu sesuai subjeknya, tapi juga belajar problem solving. Sebagai seorang seniman, saya banyak melewati proses problem solving dan cara berstrategi,” papar putri Muren Jasmedi dan Didit Jasmedi R. Irawan ini.

Kendati gelar Bachelor of Arts dengan nilai cumlaude sudah di tangan, Maudy tetap aktif berkarya. Single Jakarta Ramai meluncur tak lama setelah ia lulus, akhir tahun 2016. Awal tahun 2018 ini pun ia mengeluarkan album Oxygen, berisi lagu-lagu yang ia tulis dan diproduserinya sendiri. Bukti bahwa ia bisa menjalani ‘dua dunia’ secara beriringan ia juga masih sempat menulis pandangannya tentang kehidupan, cinta dan cita-cita, dalam buku Dear Tomorrow (2018). Ia berharap buku perdananya ini dapat menginspirasi anak muda untuk menemukan jati diri dan berjuang meraih mimpi, seperti yang ia lakukan sebelumnya.
 
Inilah kenapa ia mencetus gerakan sosial Kejar Mimpi, gerakan yang mengajak anak muda berani bermimpi dan mewujudkannya. Serta, melalui Maudy Ayunda Foundation, ia merilis program beasiswa dan mentorship bagi mereka yang baru saja lulus SMA atau sederajat. Posisi yang ia raih sebagai public figure dari seni peran justru banyak membantunya menyebarkan pesan positif dengan dampak lebih besar. “Sebagai selebritas yang dikenal banyak orang, saya bisa membuat apa yang saya katakan dan lakukan lebih didengar orang dan ditiru. Jadi, saya rasa platform ini bisa jadi sesuatu yang powerful menyebarkan dan melakukan hal yang positif,” ujarnya, optimistis.
 
Maudy percaya, apapun jalan hidupnya atau jalan hidup yang dipilih wanita lain, penting untuk mandiri. Ia yakin dari kemandirian, tiap wanita bisa dihargai, dan tak dianggap remeh. “Salah satu jalan kemandirian adalah dengan pendidikan, karena pendidikan akan memberikan lapangan pekerjaan, mengilhami cara berpikir yang sangat luas. Penting bagi tiap wanita bisa  mandiri finansial dan mental. Jika ibu-ibunya pintar, anaknya juga pintar. Kita bisa jadi negara yang pintar,” ujar Maudy, yakin.
 
Ia pun mendorong wanita muda untuk berani mewujudkan impian.“Kalau saya bisa, wanita lain juga. Kita harus menghancurkan penghalang yang kadang datang dari keraguan terhadap diri sendiri. Enggak ada yang enggak bisa!” ujarnya. (f)
 
Baca Juga:

Raline Shah, Mandiri Lewat Akting
Najwa Shihab dan Tantangan Jurnalistik Baru
Agatha Suci, No Drama Terus Melangkah