
Foto: Dok. Femina Media
Belasan tahun bekerja di stasiun televisi sebagai jurnalis dan news anchor, dengan beragam pengalaman yang menegangkan namun menyenangkan, jadi makanan sehari-hari Andini Effendi (38). Mulai dari UNFCCC Climate Change Summit Bali (2007), pergolakan politik di Libya (2011), hingga bom Boston (2013).
Dedikasi alumnus Wajah Femina 2002 ini terjun di berbagai medan memberikan penghargaan Best Current Affairs di Asian Television Awards 2020. Kendati demikian, di tengah puncak kariernya yang kian gemilang, ia justru memutuskan undur diri dari tempatnya bekerja selama lebih dari 13 tahun terakhir di MetroTV. Mengapa?
Bagi penggemar siaran berita, tentu tidak asing dengan wajah Andini Effendi di MetroTV. Ia pernah membawakan beragam program, seperti Top Executive, Metro Realitas, Trending Topic, dan Indonesia Now.
Terakhir, ia membawakan program Q&A. Di program inilah ia dikenal luas. Sebab, program acara ini merupakan gelar wicara yang menampilkan narasumber utama yang akan menjawab dan mengklarifikasi isu-isu tertentu dari para panelis terpilih yang duduk di seberang narasumber. Beberapa narasumber yang pernah dihadirkan yaitu Susi Pudjiastuti, Rocky Gerung, dan Livi Zheng (sutradara).
Berbagai tugas peliputan penting pernah dipercayakan kepadanya, mulai dari Perang Sipil Thailand pada tahun 2009, Inaugurasi Obama tahun 2012, serta bom Boston tahun 2013. Meliput di daerah konflik sama sekali tidak membuatnya gentar. Deadline untuk segera melaporkan berita ke Jakarta yang membuatnya selalu kuat menjalankan tugas mulianya.
Dua penghargaan yang didapatkan Andini di Asian Television Awards (ATA) pada tahun 2019 dan 2020 ternyata tidak membuatnya tetap bertahan di MetroTV. Ia justru melakukan hal yang sebaliknya. Baginya, penghargaan itu yang turut mendorongnya untuk segera move forward, keluar dari zona nyaman dan melakukan sesuatu yang lebih.
“Saya harus membuktikan bahwa saya memang seorang jurnalis sejati, bisa menghasilkan karya lebih dari yang saya lakukan selama ini. Kelak saya ingin mendapatkan penghargaan lewat karya jurnalistik, bukan lagi karena dedikasi saya sebagai presenter,” ujarnya.
Andini mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir ia merasa sangat monoton dan hanya berperan sekadar sebagai talent. Selalu bekerja di studio hanya membaca prompter, tanpa mengerjakan banyak hal, ia seperti layaknya tukang baca.
Baca halaman selanjutnya

Foto: Dok. Femina Media
Atas Restu Orang Tua
Sebenarnya, bukan langkah yang mudah bagi Andini untuk keluar dari perusahaan yang telah membesarkan namanya tersebut. Bahkan, ia mengaku harus sampai mendiskusikan keputusan penting ini dengan kedua orang tuanya, Agusman Effendi dan Efin Nurtjahja.
Pikirannya sempat bergejolak saat berbicara dengan ibunya. Dengan tidak lagi bekerja di televisi, maka tidak akan ada lagi yang bisa dibanggakan oleh ibunya. “Saya rasa, semua orang tua pasti bangga bila anaknya tampil di televisi, seperti yang selama ini jalani,” katanya.
Namun, Andini harus menjelaskan kepada kedua orang tuanya bahwa keputusan ini bukanlah keputusan sembrono tanpa rencana. Setelah menjelaskan tentang apa saja yang akan ia lakukan setelah keluar dari MetroTV, ia pun mendapat restu dari orang tuanya. Pada akhirnya, hatinya kian mantap mengambil keputusan tersebut.
“Saya pernah membaca sebuah teori, ketika kita berada di posisi tertentu, kita tidak merasa berkembang, tidak belajar banyak, dan tidak membuat kita bahagia, maka segera pergi,” ujarnya serius.
Setelah keluar dari MetroTV per Februari 2020, Andini justru merasa jauh lebih sibuk karena harus menemui banyak orang. Agak berbeda saat ia masih bekerja sebagai news presenter yang memang bekerja dengan jadwal yang sudah disusun.
Aktivitasnya kini memang masih erat kaitannya dengan dunia jurnalistik, hanya channel-nya yang berbeda. Bila dulu ia bernaung di satu institusi, saat ini ia bisa saja muncul di beberapa media. (f)
Baca Juga:
Menikah, Aktor So Ji-sub Donasi 50 Juta Won
Kourtney Kardashian Berhenti Bintangi Keeping Up With The Kardashians
Suara Glenn Fredly Untuk Kemanusiaan dan Lingkungan