
Dok. Femina Media
Rangkaian roadshow Wise Women Entrepreneur Masterclass 2019 kerjasama Wanita Wirausaha Femina, Bank Commonwealth dan Masterclass berakhir di Bali pada 7 Desember 2019. Bertempat di Hotel Ramada Sunset Road, Kuta, Bali. Ini adalah tahun kedua, workshop yang hadir di 16 kota di Indonesia.
Dibuka oleh Tim Delahunty, Chief Finance Officer Bank Commonwealth dan Petty S. Fatimah, Direktur Editorial dan Pemimpin Redaksi Femina, acara dihadiri oleh sekitar 100 wanita wirausaha Bali yang antusias untuk menerima ilmu-ilmu baru untuk mengembangkan bisnis mereka.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
BACA JUGA :
Wise Women Surabaya 2019: Cara Mudah Membuat Laporan Keuangan dan Tip Sukses Offline-Online Marketing
Wise Women Semarang: Belajar Pencatatan Transaksi Keuangan Serta Aplikasi Tren Untuk Produk Lokal
Wise Women Bogor: Dari Belajar Menghitung Gaji Karyawan Hingga Buka-Bukaan Resep Kopi Tuku
Dok. Femina Media
Catat Sejak Hari Pertama!
Soal pencatatan keuangan sering dianggap menjadi hal yang menantang bagi pewirausaha UKM. Bahkan, karena bisnis dimulai tanpa sengaja, atau dimulai dengan skala yang mikro, maka si pemilik bisnis belum menyadari untuk mencatat semua transaksi dalam bisnisnya.
Hal inilah yang menjadi tema materi pertama workshop setengah hari ini, yaitu Wise Financial Module yang dibawakan Arresto Ario, Business Transformation Adviser dari Bank Commonwealth. Materi ini juga bisa didapatkan dalam aplikasi WISE yang bisa diunduh secara gratis di Google Play dan Play Store adalah cara mengatur keuangan, termasuk membuat laporan keuangan bisnis yang gampang dan sederhana.
Karena itu, Ario, demikian panggilan akrab Arresto Ario, pun memberikan pemahaman mengapa pencatatan keuangan itu penting.
“Yang penting adalah bagaimana kita membuat sesederhana mungkin tapi berguna buat kita. Karena, dengan pencatatan yang baik, kita akan jadi tahu kondisi usaha kita. Apaka memang sudah menguntungkan atau sebaliknya,” ujar Ario.
Berikut ini yang harus diperhatikan saat bicara laporan keuangan usaha:
1. Pencatatan Transaksi: Ini adalah hal yang paling sederhana, mencatat. Apa yang dicatat? Pengeluaran dan Pemasukan (Penjualan). Semua yang berkaitan dengan transaksi dicatat.
Di penjualan, yang dicatat ada penjualan tanggal berapa, siapa customer-nya, bayar lunas atau hutang, juga keterangannya apa: misalnya cicilan 3 bulan.
“Pencatatan juga membuat kita mengetahui siapakah pelanggan kita. Misalnya, Si Ibu A paling suka warna kuning. Ketika ada stok baru warna kuning, maka kita bias menawarkan kepadanya. Jangan lupa, seorang pelanggan yang diperhatikan secara personal akan senang,” kata Ario.
Setelah melakukan pencatatan, kita akan bisa membuat anggaran. Dulu ketika kita memulai usaha, kita sering tidak tahu berapa biaya yang akan dikeluarkan tiap bulan? Tapi dengan mencatat kita jadi tahu, misalnya fluktuasi yang terjadi tiap bulan. Dengan pencatatan yang rutin, kita bisa membuat anggaran.
“Dengan memiliki anggaran, kita bisa melakukan efisiensi. Misalnya, kita jadi tahu kalau biaya transpor makin mahal. Dengan melihat hal ini, maka harus dilihat misalnya tidak belanja tiap hari,” urai Ario.
2. Laporan laba rugi
Membangun bisnis, tentu kita ingin mendapatkan keuntungan. Tapi dengan melihat pencatatan, alih-alih untung ternyata kita malah rugi melulu. Ada apa ini?
“Inilah pentingnya kita memiliki pencatatan yang rapi. Dari catatan misalnya, kita bisa melihat penyebab oh, ternyata biaya gaji karyawan terlalu besar tidak sebanding dengan pemasukan. Maka, kita bisa membuat strategi baru, misalnya kita tidak perlu 4 orang, tapi cukup 2 orang saja,” kata Ario.
Dengan demikian, memiliki anggaran bisa bikin prioritas. Semua pencatatan yang kita buat itu kemudian digunakan untuk membuat laporan laba rugi. Kalau untung lanjutkan, kalau rugi, ganti strategi.
3. Neraca
Apa saja yang ada dalam neraca? Aset, hutang, kekayaan. Intinya, neraca untuk mengetahui kita punya kekayaan itu berapa.
(Lanjut ke halaman berikutnya)
BACA JUGA :
Wise Women Surabaya 2019: Cara Mudah Membuat Laporan Keuangan dan Tip Sukses Offline-Online Marketing
Wise Women Semarang: Belajar Pencatatan Transaksi Keuangan Serta Aplikasi Tren Untuk Produk Lokal
Wise Women Bogor: Dari Belajar Menghitung Gaji Karyawan Hingga Buka-Bukaan Resep Kopi Tuku
Dok. Femina Media
Bercerita di Media Sosial
Antusiasme peserta pun tak berkurang saat Roby Bagindo, Produser Eksekutif Masak TV dan Tastemade Indonesia, membawakan materi kedua, Bercerita di Media Sosial. Indonesia termasuk dalam 5 negara pengguna Facebook dan Instagram terbanyak di seluruh dunia. Tak heran jika sosial media menjadi salah satu alat penting dalam memasarkan produk bisnis.
Ada beberapa hal penting yang harus kita ketahui sebelum menggunakan social media. Pertama adalah kepada siapa kita berbicara dan di mana kita akan bicara.
“Kita mau bikin produk apa, mau dijual ke siapa dan di mana? Misalnya, pada anak-anak SMA misalnya, mereka lebih memilih menggunakan Line daripada Whatsapp yang lebih banyak digunakan ornag-orang bekerja. Dari cari menggunakan aplikasi chat saja sudah berbeda,” kata Roby.
Apa, siapa dan di mana ini akhirnya akan memengaruhi cara kita berkomunikasi. Selain ketiga hal ini, yang penting adalah cara kita bercerita.
“Kalau saya ke pasar misalnya, saya akan melihat terlebih dahulu dari kejauhan. Lalu menemukan hal yang berbeda dari hal yang biasa kita temui. Intinya, kalau kita bercerita kita lihat secara luasnya baru kemudian lebih focus ke lebih dalam dan lebih dalam lagi,” kata Roby.
Jadi, kunci penting dalam menggunakan media sosial untuk bisnis adalah memiliki konten dengan konsep story telling yang menarik.
“Ada banyak ide yang bisa dikembangkan dari produk Anda. Misalnya pisang goreng, Anda bisa bercerita tentang manfaat pisang, jenis-jenis pisang, olahan pisang, hingga dari sisi konsumen, siapa saja yang telah menikmati produk Anda,” terang Roby, yang mengaku hobi ke pasar untuk mencari cerita menarik tentang bahan makanan.
Selain itu, Roby juga menyarankan agar pebinsis mengenali terlebih dahulu sosial media yang digunakan. Apakah sosial media yang dipilih sesuai target usia konsumen. Misalnya Facebook lebih banyak digunakan oleh usia di atas 25 tahun, berbeda dengan instagram yang usia penggunanya lebih muda.
“Sebelum posting sesuaikanlah postingan dengan gaya dan bahasa target konsumen serta kebiasaan pengguna di masing-masing sosial media. “Contoh di Facebook, behavior users-nya adalah menonton video tanpa suara, jadi sertailah dengan teks. Untuk teks, bisa dalam bentuk subtitle ataupun caption, buat seakan – akan bercerita agar jumlah interaksi dan impresi lebih besar,” jelas Roby. (f)
BACA JUGA :
Wise Women Surabaya 2019: Cara Mudah Membuat Laporan Keuangan dan Tip Sukses Offline-Online Marketing
Wise Women Semarang: Belajar Pencatatan Transaksi Keuangan Serta Aplikasi Tren Untuk Produk Lokal
Wise Women Bogor: Dari Belajar Menghitung Gaji Karyawan Hingga Buka-Bukaan Resep Kopi Tuku