Foto: Denny  Herliyanso

Femina bekerja sama dengan Bank Commonwealth Indonesia dan Mastercard Centre for Inclusive Growth menggelar roadshow Wise Women Entrepreneur Masterclass 2018 di 10 kota di Indonesia. 

Setelah Jakarta, Surabaya, Medan, Yogyakarta yang dihadiri lebih dari 100 wanita wirausaha UKM di setiap kota, pada Sabtu, (25/08), Wise Women Entrepreneur Masterclass 2018 kembali ke Jakarta, kali ini bertempat di Cocowork Gedung Filateli.   

Menghadirkan pembicara Weddy Irsan, Head of SME New Business Commonwealth Bank yang membawakan materi WISE Financial Module dan Rex Marindo, Founder Warunk Upnormal (Cita Rasa Prima Group) dengan tema Branding Tepat Sasaran.

Mau tahu resep Warunk Upnormal memikat pembeli dan cara mengelola keuangan bisnis yang tepat? Simak halaman berikut.
 
 

Foto: Denny Herliyanso
 
“Membuat brand yang tepat sasaran adalah ujung dari tahapan perencanaan bisnis yang lebih mendasar,” ungkap Rex Marindo, Founder Warunk Upnormal, saat berbicara di acara WISE Women Entrepreneur Masterclass, Sabtu (25/08), di Cocowork Filateli, Jakarta. 
 
Pernyataan Rex ini menjadi sebuah refleksi tersendiri bagi 100 peserta WISE Women kali ini. Sebab, pada kenyataannya masih banyak wanita pengusaha yang melompati beberapa tahapan penting dalam membangun bisnisnya.
 
Sebelum sibuk mengulik cara membuat strategi brand yang tepat sasaran, menurut Rex, seorang pengusaha harus memiliki mindset seorang pebisnis: siap bekerja keras, siap dengan risiko apapun, mendasari segala langkah dengan pengetahuan yang cukup, dan terus mendorong diri untuk belajar.
 
Start small, think big. Saya tidak mengawali bisnis dengan sesuatu yang luar biasa,” ungkap Rex.
 
Berawal dari bisnis Nasi Goreng Mafia, ia membuat terobosan promosi yang murah, tapi unik dan akhirnya menjadi viral. “Hanya dengan modal 10 juta, saya membuat 10.000 piring nasi goreng gratis, bayar pakai doa,” ungkap Rex.


Rex Marindo mengingatkan pentingnya memiliki mindset pebisnis yang mau bekerja keras dan ambil risiko/
Foto: Denny  Herliyanso
 
Strategi promosi ini tidak hanya berhasil membuat antrean panjang, karena gratis orang cenderung membuat review yang menyenangkan. Begitupun saat ia mengeluarkan produk Cireng Pandawa. Siapa sangka produk sesederhana adonan tepung kanji yang digoreng ini, hari ini berhasil menembus angka Rp7 miliar per tahun.
 

“Apapun bisnisnya, kalau kita memahami ilmu brand, ada banyak peluang yang membuat kita lebih menonjol dari para pesaing. Ada kesempatan untuk berkembang,” tegas Rex.  

 
Saat ini, bisnis kulinernya telah berkembang dalam banyak varian. Dari Nasi Goreng Mafia, ia kemudian mendirikan Warunk Upnormal, Upnormal Coffee Roasters, Bakso Boedjangan, sampai ke produk Cireng Pandawa, dan Fish Wow Cheesee. Kini semua bisnis kuliner ini bernaung di bawah bendera Cita Rasa Prima Group.
 
Apa kunci keberhasilannya? Simak halaman berikut.
 
 

Seorang pebisnis harus jeli melihat peluang /Foto: Denny Herliyanso
 
Seorang pebisnis juga harus jeli melihat peluang. Saat mengawali bisnis Warunk Upnormal di tahun 2014, Rex melihat bahwa masih ada peluang pasar di lapisan tengah, antara bisnis warung kopi pinggiran dengan warung kopi kelas atas sekelas Starbucks.
 
Memanfaatkan peluang pasar ini, ia menghadirkan warung makan mi instan kelas premium Warunk Upnormal, yang menyajikan menu mi instan dengan varian topping. Ia mendesain warungnya dengan interior ala café, lengkap dengan colokan listrik dan wi-fi berkecepatan tinggi.
 
“Untuk Wifi saja, saya harus berani keluar modal Rp20 juta,” ungkap Rex dalam wawancara terpisah. Kini, bisnis Warunk Upnormalnya telah menghidupi sebanyak 3.500 karyawan di seluruh cabangnya di Indonesia. Desember nanti, mereka juga akan membuka gerai pertama Upnormal Coffee Roasters mereka di Singapura. 
 
Sebagai penguasaha, ia juga selalu membuka diri untuk belajar dari para pengusaha lain. Salah satunya, dengan melakukan Benchmarking. Saat mengembangkan bisnis Bakso Boeadjangan. Misalnya, ia belajar tentang efisiensi penggunaan tenaga kerja dari bisnis Marugame Udon.
 
“Dengan mengadopsi cara swalayan, Bakso Boedjangan bisa melakukan efisiensi tenaga kerja dari 35 orang karyawan menjadi 17 karyawan saja. Otomatis ini sangat mengurangi biaya pengeluaran bisnis,” ujar Rex tentang bisnis bakso yang kini telah bernilai miliaran rupiah itu.
 
Pertumbuhan bisnis yang besar ini dengan sendirinya akan menarik investor untuk datang menanamkan modalnya. “Kaum pemodal ini hanya bisa diyakinkan dengan isi laporan keuangan bisnis Anda. Tanpa ini, mereka tidak akan mendapat seberapa baik bisnis berjalan dan seberapa besar potensinya ke depan,” ungkap Rex.

Bagaimana membuat laporan keuangan bisnis yang benar? Simak tipnya di halaman berikut.
 
 
 

Laporan keuangan dapat membantu pebisnis untuk merencanakan terobosan bagi peningkatan bisnisnya./Foto: NJL
 
Faktanya, masih banyak wanita pengusaha yang belum sadar benar dengan pentingnya membuat laporan keuangan. Faktanya, dari survei kecil-kecilan selama seminar terungkap bahwa baru sekitar 30% saja dari wanita pengusaha yang hadir di seminar, yang membuat laporan keuangan rutin dari bisnis yang dimilikinya.
 
Sementara itu, hanya 2% saja dari mereka yang memperhitungkan tenaga dan pikirannya sebagai bagian dari produksi. Dengan kata lain, sebagian besar para pengusaha UKM ini masih belum menggaji diri sendiri.
 

“Menggaji diri sendiri penting dimasukkan dalam anggaran bisnis. Saat usaha muai bertumbuh pesat, informasi post anggaran ini akan membantu pengusaha memperhitungkan besar pengeluaran untuk membayar karyawan,” jelas Head of SME Business Commonweath Bank Weddy Irsan, SVP.

 
Siang itu Weddy Irsan, Head of SME New Business Commonwealth Bank membagikan ilmu manajemen keuangan bisnis yang sederhana dan aplikatif. Ia menegaskan bahwa membuat laporan keuangan menjadi tahapan paling mendasar yang harus ada dalam rangkaian penyelenggaraan bisnis. Dengan membuat laporan keuangan, pebisnis dapat memantau perkembangan usahanya.
 
Setidaknya, ada tiga jenis laporan keuangan yang harus dimiliki oleh usaha kecil menengah, yaitu catatan transaksi, laporan laba-rugi, dan neraca. “Sekecil apapun transaksi yang dilakukan harus dicatat, sebagai pertanggungjawaban terhadap keuangan perusahaan. Pisahkan antara keuangan pribadi dan bisnis,” pesan Weddy.
 
Weddy juga mengingatkan bahwa dalam keuangan usaha, maka pebisnis harus menyiapkan dana darurat yang besarnya 6 hingga 12 kali pendapatan bulanan. Dana tersebut digunakan saat masalah tak terduga muncul. Sehingga, usaha terhindar dari kebangkrutan.


Para peserta aktif bertanya dan mengkonsultasikan bisnisnya./ Foto: Denny Herliyanso
 
Demikian pula dalam hal pengelolaan utang. Agar usaha tetap menguntungkan, maka total utang maksimal dibatasi 50% dari total aset. Sementara itu, pengusaha bisa mengalokasikan maksimal 30% dari pendapatan rata-rata per bulan untuk mengangsur utang.
 
Ingin mengawali bisnis tanpa utang? Weddy mengatakan bahwa hal ini mungkin saja, selama kebutuhan kita tertutupi oleh modal, tidak menjadi masalah. "Jika modal tidak mencukupi, maka Anda bisa memakai pola investor atau frenchise. Namun, lagi-lagi, untuk bisa menggaet investor dan membuat frenchise, maka harus ada kejelasan laporan keuangan yang baik," lanjut Weddy, mengingatkan kembali pentingnya langkah dasar membuat laporan keuangan. 
 
Anda yang membutuhkan informasi lebih tentang WISE Women Entrepreneur Masterclass bisa mengunggah aplikasinya di mobile phone. Di dalamnya Anda bisa menemukan artikel-artikel tentang bisnis, termasuk women corner, yang menjadi wadah berbagi pengalaman dan ilmu dari sesama pebisnis.

Aplikasi WISE Women ini juga dilengkapi kalkulator keuangan dan contoh anggaran keuangan sehari-hari yang bisa Anda adopsi untuk bisnis. Sampai jumpa di Wise Women selanjutnya di Pontianak pada tanggal 22 September mendatang! (f) 

Baca juga:

Wise Women Bandung, Laporan Keuangan Yang Baik untuk Perkembangan Bisnis & Tip Sukses Berbisnis Fashion dari Pendiri Baju Muslim Shafira

WISE Women Jakarta: Pebisnis Fashion Belajar Tentang Keuangan Bersama Bank Commonwealth