Games seru sebelum memulai 'pelajaran' di Sabtu (4/4) pagi. Dok: Femina
Bogor menjadi kota kedua rangkaian workshop kewirausahaan UKM yang tahun ini akan diselenggarakan di 6 kota di Indonesia. Bertempat di Gedung TechnOsNet di area Mall Botani Square, Bogor, workshop setengah hari ini membahas tema Membuat Laporan Keuangan dan sharing dari pemilik Kopi Tuku tentang pentingnya partnership di era kolaboratif ini.
Pada pukul 10.00 WIB, Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Komunitas Femina sekaligus Direktur Editorial PT Prana Dinamika Sejahtera, Petty S. Fatimah, menyapa sekitar 100 peserta, para wanita pemilik bisnis UKM, yang sudah berdatangan sejak pukul 08.00 pagi. “Hari ini kita akan belajar sesuatu yang sangat menarik. Karena selain memelajari bagaimana membuat laporan keuangan yang sederhana dan tidak rumit, juga hadir Andanu Prasetyo, owner Kopi Tuku, yang berhasil membuat kopi susu sangat populer. Saya kira semua orang yang ingin bisnisnya berumur panjang perlu inovasi,” ujar Petty S. Fatimah.
Petty S. Fatimah bersama Yanti Rachim membuka Wise Women Masterclass di kota Bogor. Dok: Femina
Alveinia Winata, Internal Communication & Community Eggagement Specialist Corporate Communication Commonwealth Bank mengatakan salah satu alasan Commonwealth Bank memiliki program edukasi keuangan buat wanita yang bernama Women Investment Series (WISE) karena banyak wanita yang mampu menghasilkan pendapatan dari rumah. Salah satu pembahasan dalam aplikasi WISE yang bisa diunduh secara gratis di Google Play dan Play Store adalah cara mengatur keuangan, termasuk membuat laporan keuangan bisnis yang gampang dan sederhana.
Acara workshop juga didukung oleh Pemerintah Kota Bogor dengan kehadiran Ibu Wakil Walikota Bogor, Yanti Rachim, dan Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Bogor, Ganjar Gunawan. “Visi Kota Bogor 2019-2024 adalah menjadikan Bogor kota yang ramah keluarga, yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan keluarga melalui pendekatan pembangunan fisik dan manusia. Salah satu faktor penunjang adalah adanya peningkatan usaha untuk mendorong ekonomi keluarga. Dan kaum wanita memiliki peran besar di sini,” ujar Yanti Rachim saat membuka acara.
Baca selanjutnya: Yuk, Rajin Mencatat Transaksi
Adrian Tjahjadi membagi ilmu melakukan pencatatan keuangan sederhana. Dok: Femina
Yuk, Rajin Mencatat Transaksi
Diawali dengan permainan tentang cerita ‘badak’, Adrian Tjahjadi, Retail Banking Client Growth Specialist Commonwealth Bank membawakan modul Wise Financial Series. “Dalam bisnis itu selalu berkaitan dengan kesempatan. Ada yang siap, ada yang nggak siap. Acara ini misalnya, ini adalah kesempatan untuk belajar,” ujar Adrian.
Ia lalu menambahkan, ada dosa-dosa keuangan yang kerap dilakukan pemilik usaha, yaitu 1/ tidak melakukan pencatatan, 2/ rekening usaha dicampur dengan rekening pribadi, 3/ hasil keuntungan usaha habis dikonsumsi termasuk dipakai jalan-jalan, 4/ tidak menggaji diri sendiri. Tidak dipungkiri, pencatatan keuangan sering dipandang sebagai hal yang ribet dan memusingkan. Sehingga akhirnya ditunda-tunda. Karena itu, Adrian pun membagi ilmu melakukan pencatatan keuangan yang sederhana.
“Ada 3 laporan yang harus dimiliki pemilik usaha yaitu 1/ laporan pencatatan transaksi, 2/ laporan laba rugi (karena bila tidak memilikinya bisa saja merasa sudah untung ternyata sebetulnya tidak), dan 3/ neraca keuangan. Dengan memiliki ketiga laporan ini maka bisa dijadikan acuan untuk strategi bisnis ke depan,” ujarnya.
Selain itu, cara menentukan gaji karyawan dan gaji owner juga menjadi tantangan para pemilik bisnis UKM. Adrian memiliki formula, bagaimana menghitung gaji karyawan:
1/ Total gaji tidak boleh 15 persen dari seluruh omzet usaha
2/ Minimal sama dengan UMR
3/ Kenaikan minimal sesuai inflasi (contohnya, 3,13% pada tahun 2018)
4/ Untuk diawal usaha, bisa sebagai hutang perusahaan
Baca Selanjutnya: Konsep Kopi Tetangga Yang Sukses
Andanu Prasetyo, tak ragu berbagi resep kopi susu tetangga dari Tuku. Dok: Femina
Konsep Kopi Tetangga Yang Sukses
Andanu Prasetyo, pemilik Kopi Tuku membuat bisnisnya yang saat ini sangat populer dengan konsep yang sederhana. “Selain misinya untuk mencari uang ha..ha..ha..tapi saya juga ingin berpengaruh terhadap kopi di Indonesia. Saat itu, saya melihat harga kopi juga relatif mahal, makanya saya ingin menyediakan kopi yang harganya terjangkau,” ujarnya.
Dengan hasil riset ke para tetangganya di kawasan Cipete, Jakarta Selatan, Danu membuka toko kopinya –dinamai Toko Kopi Tuku (Tuku artinya Membeli dalam bahasa Jawa). Saya tidak berani bilang cafe, karena tempat kami kecil banget, hanya 16 meter persegi tapi berada di pinggir jalan raya,” ujarnya saat membuka toko pertamanya tahun 2015. Saat itu, ia dibantu 2 barista.
Danu terinspirasi akan warung nasi jamblang di Cirebon yang memungkinkan pelanggan bisa berkomunikasi. Karena itu, lay out tokonya juga dibuat orang bisa saling ngobrol dengan pelanggan lain, agar bisa bersosialisasi.
Untuk Kopi Tuku, Danu memutuskan tidak menggunakan sosial media secara masif. “Selain di Cipete sudah banyak kafe, lokasi toko saya strategis. Jadi, di awal-awal saya berhitung, untuk balik modal biaya produksi dalam sehari saya harus bisa menjual 80 cangkir dengan harga kopi Rp18.000,”katanya.
Di sinilah Danu menekankan pentingnya pencatatan keuangan. “Saya rajin mencatat, termasuk laporan laba rugi untuk tahu apakah saya ini untung nggak. Jadi, semua terukur,” katanya.
Toko Kopi Tuku tidak menjual produk yang ‘aneh-aneh’, melainkan 4 varian saja yaitu kopi susu tetangga, kopi hitam tetangga, es kopi susu tetangga, dan es kopi hitam tetangga. Karena, fokusnya ke harga Rp18 ribu. Dari mana angka Rp18 ribu? Juga hasil riset dari para tetangga. “Saya hitung kalau kopi saya hargai 30 ribu, mereka bisa tidak akan membeli kopi tiap hari. Padahal saya sudah bekerjasama dengan petani kopi di Aceh. Saya ingin membuat budaya ngopi tiap hari karena harga terjangkau,” kata Danu.
Danu memang sangat ingin menjadi jembatan bagi petani kopi Indonesia dengan masyarakat. Karena sebagai produsen kopi keempat terbesar di dunia, konsumsi kopi kualitas bagus masyarakat kita masih rendah karena kebayakan kopi bagus diekspor. Untuk menjadi jembatan itulah, ia harus memiliki produk yang disukai.
Danu pun tak segan-segan berbagi resep kopi susunya yang terkenal itu:
Resep es kopi kopi susu tetangga:
120 gr susu dan krim
40 espresso
30 gram gula aren
90 gram es batu.
“Saya tidak takut membuka resep saya. Karena saya ingin kopi bisa diminum di mana-mana. Tapi jangan lupa, resep saya ini laku di Jakarta, tapi belum tentu laku di kota lain. Karena itu, kita harus mendengarkan apa kata tetangga kita, apa yang mereka sukai. Kalau saya memakai kopi arabika, jangan-jangan tetangga Anda menyukai robusta,” kata Danu. (f)
Baca Juga:
Wise Women Jakarta 2019: Langkah Mudah Pencatatan Keuangan Bisnis dan Resep Sukses Dapur Cokelat Melintasi Perubahan Market
Tip Menghitung Gaji Pemilik Untuk Bisnis UKM
Wise Women Bali: Memahami Pengelolaan Keuangan UKM dan Kekuatan Storytelling Untuk Bisnis Di Sosial Media