Foto-foto: dok. Femina
Salah satu hal yang sering diabaikan oleh pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) adalah pelaporan keuangan secara profesional. Internal Communication and CSR Specialist Corporate Communication Commonwealth Bank, Alveinia Winata, mengatakan bahwa masih banyak pelaku UKM mencampurkan pencatatan keuangan usaha dan rumah tangga. Para peserta pun tertawa, dan sebagian mengakui belum mengelola laporan keuangan bisnis mereka dengan baik.
”Jika dicampur maka tidak akan tahu pertumbuhan usaha,” kata Alveinia, ketika memberikan sambutan di Wise Woman Enterpreneur Masterclass, di Batam (3/11/2018).
”Jika dicampur maka tidak akan tahu pertumbuhan usaha,” kata Alveinia, ketika memberikan sambutan di Wise Woman Enterpreneur Masterclass, di Batam (3/11/2018).
(ki-ka) Weddy Irsan, Endang Warsiki bersama Sari Wardi, Business Manager Femina Group.
Acara ini merupakan rangkaian dari kegiatan Wirausaha Wanita Femina bekerjasama dengan Commonwealth Bank. Batam adalah kota kesembilan penyelenggaraan acara yang juga didukung oleh Mastercard Center for Inclusive Growth.
WISE (Women Invesment Series) adalah produk literasi keuangan dari Commonwealth Bank. Produk ini diluncurkan sejak 2014. Para wanita pengusaha adalah sasaran utama program ini adalah para wanita pengusaha. Aplikasi ini bisa diunduh di Playstore atau Googleplay.
Wise Woman Enterprenuer Masterclass di Batam mengangkat dua topik yang sangat menarik. Peserta pun sangat antusias mengikuti materi dan mereka tak segan bertanya di sela pembicara memberikan materi. Dua materi yang diberikan adalah tentang bagaimana mengelola keuangan bisnis yang disampaikan oleh Weddy Irsan SVP, Head of Head of SME New Business Bank Commonwealth. Materi kedua adalah Standart Keamanan Pangan Untuk Bisnis Kuliner yang disampaikan Dr. Endang Warsiki, peneliti senior Pusat Peneliti Surfaktan dan Bioteknologi LPPPM, IPB.
WISE (Women Invesment Series) adalah produk literasi keuangan dari Commonwealth Bank. Produk ini diluncurkan sejak 2014. Para wanita pengusaha adalah sasaran utama program ini adalah para wanita pengusaha. Aplikasi ini bisa diunduh di Playstore atau Googleplay.
Wise Woman Enterprenuer Masterclass di Batam mengangkat dua topik yang sangat menarik. Peserta pun sangat antusias mengikuti materi dan mereka tak segan bertanya di sela pembicara memberikan materi. Dua materi yang diberikan adalah tentang bagaimana mengelola keuangan bisnis yang disampaikan oleh Weddy Irsan SVP, Head of Head of SME New Business Bank Commonwealth. Materi kedua adalah Standart Keamanan Pangan Untuk Bisnis Kuliner yang disampaikan Dr. Endang Warsiki, peneliti senior Pusat Peneliti Surfaktan dan Bioteknologi LPPPM, IPB.
Para wanita pemilik bisnis UKM ini mengakui, mereka kerap abai dengan laporan keuangan.
Weddy Irsan, membuka materi dengan melemparkan pertanyaan berapa peserta yang memulai usahanya lebih dari dua tahun. Hampir sebagian peserta sudah menjalankan usaha lebih dari dua tahun, bahkan ada yang baru memulai usahanya. Namun baru sebagian kecil yang mencatatkan keuangan usaha mereka secara mendetail. Pembukuan yang dilakukan hanya pembukuan sederhana ala rumah tangga.
Kasus ini bukan hanya terjadi di Batam saja, banyak wanita pengusaha di Indonesia yang masih melakukan pencatatan sederhana. Padahal, kata Weddy, melakukan pencatatan secara mendetail dan memisahkan pencatatan dengan keuangan keluarga seharusnya dimulai sejak awal usaha.”Bisnis bangkrut bukan karena omset tapi karena pencatatan keuangan yang buruk. Tidak butuh keahlian khusus, yang penting kita mau memulai,” kata Weddy, di Batam, Sabtu (3/11/2018).
Ida Lapo, salah seorang peserta pemilik brand Kue Lapis Keladi Batam, mengaku mendapat pencerahan dari materi yang diberikan selama lebih kurang empat jam ini. Selama ini, kata Ida, dia sudah melakukan pencatatan keuangan terpisah, hanya saja pencatatan keuangan itu dia lakukan ala rumah tangga. Setelah mengikuti acara ini, Ida bilang akan mempraktikkan pencatatan keuangansecara lebih detail.”Saya juga harus berani untuk mulai menggaji diri sendiri,” kata Ida.
Kasus ini bukan hanya terjadi di Batam saja, banyak wanita pengusaha di Indonesia yang masih melakukan pencatatan sederhana. Padahal, kata Weddy, melakukan pencatatan secara mendetail dan memisahkan pencatatan dengan keuangan keluarga seharusnya dimulai sejak awal usaha.”Bisnis bangkrut bukan karena omset tapi karena pencatatan keuangan yang buruk. Tidak butuh keahlian khusus, yang penting kita mau memulai,” kata Weddy, di Batam, Sabtu (3/11/2018).
Ida Lapo, salah seorang peserta pemilik brand Kue Lapis Keladi Batam, mengaku mendapat pencerahan dari materi yang diberikan selama lebih kurang empat jam ini. Selama ini, kata Ida, dia sudah melakukan pencatatan keuangan terpisah, hanya saja pencatatan keuangan itu dia lakukan ala rumah tangga. Setelah mengikuti acara ini, Ida bilang akan mempraktikkan pencatatan keuangansecara lebih detail.”Saya juga harus berani untuk mulai menggaji diri sendiri,” kata Ida.
Satu hari seru penuh ilmu untuk membawa usaha ke tingkat lebih tinggi.
Weddy Irsan, memang sempat menyinggung soal haruskah wanita wirausaha ini menggaji diri mereka sendiri? Karena selama ini mereka hanya menikmati keuntungan dari hasil usaha yang dijalani. Padahal, kata Weddy, menggaji diri sendiri ini penting. Apalagi ketika usaha berkembang dan melibatkan orang lain sebagai karyawan.
Pengusaha wanita, akan sudah terbiasa dan tidak terkejut ketika ada alokasi anggaran gaji karyawan.”Juga untuk mengetahui bisnis kita ini tumbuh,” imbuh Weddy.
Weddy juga memaparkan pentingnya melakukan rencana anggaran dalam bisnis. Analisa anggaran ini penting, pengusaha harus mencatat rencana anggaran dalam satu bulan, termasuk mencatat juga realisasi dan selisih. Ini bertujuan untuk merencanakan pertumbuhan dan biaya atas peluang baru serta membantu penghematan dan efisiensi biaya. Rencana anggaran bisa disusun untuk satu bulan bahkan satu tahun ke depan. Namun rencana anggaran tersebut bisa direvisi di pertengahan tahun atau ketika diperlukan. Sebab seringkali naik turunnya bahan baku tidak dapat diprediksi.
Laporan keuangan, kata Weddy, juga bermanfaat ketika pengusaha akan mengembangkan usahanya. Misal ada investor yang tertarik dengan usaha, jika ada pelaporan keuangan yang jelas maka akan semakin mempermudah investor untuk berinvestasi. Namun, investor disarankan untuk jangka panjang karena ada beberapa konsekuensi yang harus dihadapi. Misalnya pembagian laba, dan pengusaha tidak bisa sewaktu-waktu memutus kerja sama.
Selain berbincang terkait literasi keuangan, Wise Women Enterpreneur Masterclass di Batam juga menbahas tentang Standart Keamanan Pangan Untuk Bisnis Kuliner. Sebagian besar pengusaha wanita, bekerja di bidang kuliner. Bermula dari hobi memasak kemudian menjadi bisnis yang berkembang. Ada yang hanya membuat makanan sesuai dengan pesanan, ada juga yang memang memfokuskan untuk berbisnis dan menitipkan ke toko atau ritel.
Ingin tahu, seperti apakah standar keamanan pangan? Baca halaman berikut ini:
Pengusaha wanita, akan sudah terbiasa dan tidak terkejut ketika ada alokasi anggaran gaji karyawan.”Juga untuk mengetahui bisnis kita ini tumbuh,” imbuh Weddy.
Weddy juga memaparkan pentingnya melakukan rencana anggaran dalam bisnis. Analisa anggaran ini penting, pengusaha harus mencatat rencana anggaran dalam satu bulan, termasuk mencatat juga realisasi dan selisih. Ini bertujuan untuk merencanakan pertumbuhan dan biaya atas peluang baru serta membantu penghematan dan efisiensi biaya. Rencana anggaran bisa disusun untuk satu bulan bahkan satu tahun ke depan. Namun rencana anggaran tersebut bisa direvisi di pertengahan tahun atau ketika diperlukan. Sebab seringkali naik turunnya bahan baku tidak dapat diprediksi.
Laporan keuangan, kata Weddy, juga bermanfaat ketika pengusaha akan mengembangkan usahanya. Misal ada investor yang tertarik dengan usaha, jika ada pelaporan keuangan yang jelas maka akan semakin mempermudah investor untuk berinvestasi. Namun, investor disarankan untuk jangka panjang karena ada beberapa konsekuensi yang harus dihadapi. Misalnya pembagian laba, dan pengusaha tidak bisa sewaktu-waktu memutus kerja sama.
Selain berbincang terkait literasi keuangan, Wise Women Enterpreneur Masterclass di Batam juga menbahas tentang Standart Keamanan Pangan Untuk Bisnis Kuliner. Sebagian besar pengusaha wanita, bekerja di bidang kuliner. Bermula dari hobi memasak kemudian menjadi bisnis yang berkembang. Ada yang hanya membuat makanan sesuai dengan pesanan, ada juga yang memang memfokuskan untuk berbisnis dan menitipkan ke toko atau ritel.
Ingin tahu, seperti apakah standar keamanan pangan? Baca halaman berikut ini:
Foto-foto: dok. Femina
Dr. Endang Warsiki, peneliti IPB, mengatakan ada lima hal yang menjadi patokan pangan aman. Pertama halal, higienis, sehat, bahan tambahan pangan yang harus diperhatikan, serta kemasan. Menurut Endang kemasan sering kali menjadi sumber masalah di kemudian hari. Kemasan yang keliru bisa menyebabkan produk menjadi kurang baik.
Dalam sesi kedua ini, Endang mengatakan bahwa bahan tambahan pangan diperbolehkan dalam usaha kuliner. Pasalnya hal ini tak dapat dihindarkan. Namun yang perlu jadi perhatian adalah batasan atau ukuran yang diberikan dalam satu porsi atau sekali masak.
Misalnya pewarna makanan yang sering tak dapat dihindari oleh pengusaha kuliner. Pemberian pewarna yang disarankan adalah 100 mg/kilogram bahan. Lebih dari itu sangat tidak disarankan.
Pemanis buatan seperti sakarin , kata Endang, juga diperbolehkan. Hanya saja perlu diperhatikan takarannya yaitu antara 50-300 mg/kilogram bahan. Sementara penyedap rasa, disarankan penyajiannya 30 mg x berat badan. Takarannya, 5 gram penyedap rasa lebih kurang 1 sendok teh. “Kita harus berpikir untuk orang lain, menyelamatkan kesehatan orang lain,” kata Endang.
Dalam sesi kedua ini, Endang mengatakan bahwa bahan tambahan pangan diperbolehkan dalam usaha kuliner. Pasalnya hal ini tak dapat dihindarkan. Namun yang perlu jadi perhatian adalah batasan atau ukuran yang diberikan dalam satu porsi atau sekali masak.
Misalnya pewarna makanan yang sering tak dapat dihindari oleh pengusaha kuliner. Pemberian pewarna yang disarankan adalah 100 mg/kilogram bahan. Lebih dari itu sangat tidak disarankan.
Pemanis buatan seperti sakarin , kata Endang, juga diperbolehkan. Hanya saja perlu diperhatikan takarannya yaitu antara 50-300 mg/kilogram bahan. Sementara penyedap rasa, disarankan penyajiannya 30 mg x berat badan. Takarannya, 5 gram penyedap rasa lebih kurang 1 sendok teh. “Kita harus berpikir untuk orang lain, menyelamatkan kesehatan orang lain,” kata Endang.
Dari dapur, tempat penyimpanan, hingga pemilihan kemasan memiliki andil tercemarnya produk makanan.
Endang juga menambahkan pemberian bahan tambahan pangan haruslah dicantumkan di komposisi yang ada di kemasan. Ini bertujuan agar pembeli merasa lebih aman ketika mengonsumsi produk, terlebih lagi jika konsumen memiliki alergi tertentu dengan salah satu bahan.
Lebih lanjut Endang juga menyampaikan jenis pengemasan yang standart untuk produk UKM. Misalnya menggunakan jenis plastik yang sesuai dengan jenis makanan atau minuman yang kita jual. Pertama dengan mengenali kode yang ada di plastik. Misalnya kode plastik 5 dan 2 artinya aman untuk makanan atau minuman panas. Sedangkan kode 4 ini tidak disarankan untuk wadah makanan/minuman panas.
Lebih lanjut Endang juga menyampaikan jenis pengemasan yang standart untuk produk UKM. Misalnya menggunakan jenis plastik yang sesuai dengan jenis makanan atau minuman yang kita jual. Pertama dengan mengenali kode yang ada di plastik. Misalnya kode plastik 5 dan 2 artinya aman untuk makanan atau minuman panas. Sedangkan kode 4 ini tidak disarankan untuk wadah makanan/minuman panas.
Demikian pula dengan kertas kemasan. Sekarang ini sangat banyak penjual makanan yang membungkus makanan dengan kertas berwarna seperti abu-abu atau cokelat. Padahal itu cukup berbahaya, karena diduga adalah kertas daur ulang. Endang bilang kemasan kertas yang disarankan adalah yang berwarna putih terutama di bagian dalam. Zat mikro yang ada di kemasan dapat bermigrasi ke pangan.
Para peserta tak ketinggalan membawa produk mereka untuk dipamerkan di acara.
“Kemasan tidak hanya mempercantik, akan tetapi juga melindungi konsumen dari pencemaran. Jadi pilihlah kemasan yang aman,” pungkas Endang. (f)