
Foto: Pixabay
Berdasarkan data Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), jumlah usaha kuliner di Indonesia pada tahun 2018 mencapai 5,55 juta unit atau 67,66% dari total 8,20 juta usaha ekonomi kreatif. Rata-rata tingkat pertumbuhan usaha ekonomi kreatif selama 7 tahun terakhir adalah 9,82%. Di sisi lain, sekitar 60% usaha kuliner di Indonesia telah terkena pukulan pandemi COVID-19 yang saat ini sedang terjadi.
Di tengah tantangan yang dihadapi para pelaku bisnis kuliner akibat pandemi COVID-19 dan pemberlakuan PSBB, pembatasan operasional restoran, cafe, dan rumah makan tentunya langsung memukul pendapatan pengusaha kuliner. Mereka tak lagi bisa mengandalkan tamu datang dan makan di lokasi, menyiapkan konsep take away food pun menjadi solusi terdekat.
Di sinilah istilah cloud kitchen kemudian muncul. Bagi pebisnis kuliner konsep cloud kitchen sangat tepat karena biaya operasionalnya rendah, dapat menjangkau lebih banyak pelanggan, pengelolaan operasional mudah serta peluang besar untuk melakukan ekspansi bisnis.
Konsep cloud kitchen menawarkan beragam keunggulan yang mendorong bisnis kuliner untuk terus relevan bahkan dalam kondisi menghadapi era kenormalan baru dimana standar kebersihan dan keamanan pengolahan makanan sangat tinggi.
GrabKitchen yang resmi diluncurkan pada April 2019 memperkenalkan konsep cloud kitchen pertama di Indonesia. Menurut Hadi Surya, Head of Marketing GrabFood, Grab Indonesia bagi mitra GrabFood yang sebagian besar merupakan UMKM, GrabKitchen menawarkan peluang ekspansi ke wilayah-wilayah baru serta membuka kesempatan untuk menjangkau lebih banyak konsumen melalui pemanfaatan teknologi dan data.
Seperti dijelaskan oleh Hadi, konsep cloud kitchen dapat membantu menekan biaya operasional, karena sebagian besar dari kegiatan cloud kitchen merupakan layanan delivery-only sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan investasi besar untuk biaya sewa tempat. “Selain itu, para mitra usaha juga mendapatkan dukungan pemasaran dalam aplikasi GrabFood sebagai upaya untuk meminimalisir sejumlah kendala yang umumnya dihadapi para pengusaha makanan dan minuman ketika mereka berekspansi atau bahkan memulai bisnis mereka,” ungkap Hadi.
Baca Selanjutnya: Cerita para pelaku kuliner

Foto: Dok. GrabKitchen
Bagi pelaku kuliner kehadiran cloud kitchen mampu menjangkau konsumen yang lebih besar dan kini lebih senang memesan makanan via online. Clarissa Suwijono pemilik restoran Mie Kedondong di Surabaya yang berdiri sejak tahun 1977 ini menjadi satu dari ratusan UMKM yang memanfaatkan teknologi GrabKitchen.
Mie Kedondong warisan keluarga Clarissa dikenal memiliki cita rasa yang gurih, lezat dengan kerupuk pangsitnya yang menggugah selera. Di tengah pandemi, Clarissa masih menjalankan bisnisnya dengan mengutamakan pesanan online agar terus bisa melayani kebutuhan pelanggan dan memberikan pemasukan bagi karyawannya.
“Jauh sebelum pandemi saya juga sudah melihat adanya perubahan perilaku masyarakat dalam menikmati santapan yang bergeser ke online. Terutama pada situasi seperti saat ini dimana semua orang harus berada di rumah, pemesanan secara online pun menjadi jalan keluar dari tantangan yang dihadapi. GrabKitchen telah menjadi jembatan dan enabler bagi pengusaha-pengusaha seperti kami sehingga dapat terus melayani pelanggan dan menghidupi karyawan,” ungkapnya.
Tidak hanya Mie Kedondong yang terus berjalan dan beradaptasi dengan kondisi, contoh lainnya adalah restoran yang terletak di Bandung, Martabak Mertua yang dikelola oleh Alan Okadanan. Ia mengaku bahwa memang pendapatannya sedikit menurun selama pandemi ini, akan tetapi ia juga merasa sangat terbantu dengan GrabKitchen.
“Saat ini banyak sekali masyarakat yang mungkin merasa ragu untuk membeli makanan di luar. Di Martabak Mertua, kami sangat memperhatikan aspek kebersihan makanan, begitu pula cabang kami di GrabKitchen. Sejak awal bergabung, kami diwajibkan untuk selalu menerapkan standar keamanan dan kebersihan makanan yang tinggi. Berkat hal ini, otomatis para pelanggan saya juga percaya bahwa makanan yang akan sampai ke mereka selain bersih, juga terjaga kualitasnya sehingga aman dikonsumsi,” kata Alan.
Di Bali, salah satu mitra merchant GrabKitchen lainnya David Gunawan, juga sangat merasa bersyukur masih bisa berjualan di tengah pandemi seperti ini. Serupa dengan bisnis lainnya, Ayam Geprek Bu Deasy milik David juga terkena imbas dari pandemi COVID-19 ini. David mengaku dia tidak mengurangi karyawan di restorannya akan tetapi dia melihat adanya penurunan dari sisi penjualan dan daya beli pelanggan.
“Kami terus berinovasi untuk bisa bertahan seperti memfokuskan bisnis kami di GrabKitchen dan juga membuat beberapa menu baru seperti paket hemat agar terjangkau oleh masyarakat. Dengan jangkauan yang luas dan standar kebersihan yang sangat tinggi, kami yakin kami bisa terus berjuang dan bertahan di masa yang sulit ini,” jelas David.
Pegiat UMKM lainnya, Rudi Ardiansyah pengelola dari restoran Nona Judes juga bercerita bahwa terus berinovasi adalah salah satu hal yang sangat penting dalam menjalankan sebuah bisnis. “Terlepas dari keadaan apa pun, tantangan akan selalu ada. Karena itu kami juga harus terus berinovasi dalam memenuhi permintaan pelanggan,” jelas Rudi. (f)
Baca Juga:
Nike Kurnia Percayakan Pemasaran Nasi Bagoes Lewat Media Sosial
Maksimalkan Penjualan Online Selama Masa COVID19 untuk Lancarkan Bisnis
5 Kesalahan yang Paling Sering Dilakukan Pebisnis Kuliner Pemula