Foto: Pixabay
Melakukan kesalahan dalam menjalankan bisnis, sudah menjadi hal yang lumrah bagi sebagian besar pebisnis sebelum akhirnya menemukan pola yang tepat dan bisninya pun berjaya.
Semangat yang begitu besar terkadang membuat pebisnis kerap melupakan dan meremehkan hal-hal yang sederhana. Padahal, ke hal-hal yang diremehkan itu bisa menjadi masalah serius dan membuat bisnis gulung tikar.
Stefanie Kurniadi, founder Upnormal dan Bakso Boedjangan serta Co-founder foodizz.id dalam acara talkshow virtual dengan tema Kesalahan Bisnis Jadi Peluang sebagai bagian dari #TwitterForGoodDay yang disiarkan secara langsung lewat akun Twitter @FeminaMagazine beberapa waktu lalu mengungkapkan bahwa kesalahan-kesalahan itu pasti terjadi, terutama saat baru merintis bisnis.
Ia mengungkapkan, sebelum Upnormal dan Bakso Boedjangan berjaya seperti saat ini, ia pernah merintis sekitar lima brand di bidang kuliner yang akhirnya gagal.
“Dari kesalahan-kesalahan itu, kami belajar dan menjadikannya sebagai modal yang fundamental. Sehingga, dalam lima tahun terakhir, pola bisnis kami lebih terarah,” katanya.
Berikut ini, Stefanie menjelaskan lima kesalahan yang paling sering dilakukan pebisnis kuliner pemula. Lima kesalahan ini ia ambil dari buku terbarunya berjudul “50 Kesalahan Fatal dalam Berbisnis Kuliner”.
1. Team work
Dalam hal ini, yang termasuk tim adalah karyawan atau partner bisnis. Umumnya usaha yang dijalankan oleh anak-anak zaman sekarang adalah unofficial.
Mereka semangat untuk menerukan bisnis karena penjualannya bagus. Tapi tidak membahas visi dan misi. Tidak adanya pembagian tugas dan tanggung jawab jelas. Sementara, bila bisnis sudah mulai besar, setiap orang yang terlibat di dalamnya, pasti punya ekspetasi yang berbeda. Perbedaan pendapat dan berujung pada perpecahan pun tak bisa dihindari.
2. Perencanaan keuangan
Sebagian yang menjalankan bisnis beberapa tahun terakhir adalah mereka yang sebelumnya bekerja di industri kreatif atau industri lainnya. Dari awal mereka tidak mengatur keuangan dengan sedemikian rupa. Padahal financial system, termasuk di dalamnya mengukur kekuatan cash flow bisa bertahan sampai berapa lama sangat penting.
Baca halaman selanjutnya: Purchasing
Baca Juga:
Inovasi Menciptakan Sales untuk Pebisnis Kuliner Selama Ramadan di Masa COVID19
Setelah Restrukturisasi Kredit, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM Selama 6 Bulan
Pola Belanja Konsumen Berubah Selama Pandemi COVID19, Pemasaran Online Jadi Pilihan Tepat
Foto: Pixabay
3. Purchasing
Khususnya dalam binis kuliner, purchasing merupakan salah satu pintu gerbang keluarnya uang. Ketika bisnis masih berskala kecil, pemilik mampu mengontrol sendiri. Tapi, ketika sudah besar, purchasing ditangani oleh tim maka hal ini harus benar-benar diperhatikan.
4. Tidak membuat SOP
Operasional merupakan jantung dari sebuah bisnis kuliner. Tak sedikit, para pemilik bisnis tidak membuat standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dari awal berdirinya usaha. Padahal SOP itu perlu bukan hanya untuk saat ini, tapi juga bisa menjadi pedoman bila melakukan pengembangan bisnis di kemudian hari.
5. Mengabaikan legalitas
Tak sedikit pebisnis kuliner yang mengabaikan legalitas, mungkin karena merasa bisnisnya masih kecil. Padahal ada beragam hal yang harus dilakukan sebagai syarat untuk legalitas. Misalnya izin mendirikan usaha, perpajakan, serta syarat-syarat pembuangan limbah, dan syarat kedalaman pompa air. Dalam hal ini, banyak para pebisnis yang terpaksa membayar denda setelah beberapa tahun bisnis berjalan karena tidak mengurus hal ini dari awal.
Untuk diketahui, kampanye #TwitterForGoodDay merupakan inisiasi global Twitter yang melibatkan ribuan karyawannya di seluruh dunia untuk berkontribusi lebih pada lingkungannya.
Tahun ini Twitter ID berkolaborasi dengan wanita wirausaha femina, berbagi pengetahuan dan usaha meningkatkan awareness UMKM di saat #WorkFromHome untuk para Wanita Wirausaha melalui periscope live di Twitter.
Dalam acara ini, femina menghadirkan tiga pembicara yang merupakan pebisnis di bidang kuliner, mereka adalah Stefanie Kurniadi (Founder Upnormal dan Bakso Boedjangan dan Co-Founder Foodizz.id), Charina Prinandita (Co-Founder Eatlah), dan Ermey Trisniarty (Co-Founder Dapur Cokelat). (f)
Baca Juga:
Inovasi Menciptakan Sales untuk Pebisnis Kuliner Selama Ramadan di Masa COVID19
Setelah Restrukturisasi Kredit, Pemerintah Tanggung Pajak UMKM Selama 6 Bulan
Pola Belanja Konsumen Berubah Selama Pandemi COVID19, Pemasaran Online Jadi Pilihan Tepat