Foto: Shutterstock
 
Dulu, orang akan mengelak mentah-mentah fakta bahwa dagu lancip, wajah tirus, dan hidung mancung mereka merupakan hasil dari berbagai terapi kosmetik. Sekarang, tak sedikit yang dengan bangga mengaku bahwa ‘wajah baru’ mereka adalah hasil tangan dingin profesional yang tengah jadi buah bibir di media sosial.

Tidak hanya membawa efek bahagia, tapi perbaikan fitur wajah dan tubuh yang mereka lakukan dengan biaya tak kecil itu juga bisa secara instan mendongkrak nilai diri dan rasa percaya diri mereka.
 

“Makin ke sini, orang akan menganggap bahwa ini adalah hal yang biasa dan tidak perlu ditutup-tutupi,” ungkap Dokter spesialis bedah plastik, dr. Teuku Adifitrian, Sp.BP, yang akrab disapa dr. Tompi ini.


Di satu sisi, dr. Tompi melihat bahwa arus informasi ini ikut membangun pemahaman yang benar tentang berbagai perawatan kecantikan, termasuk di dalamnya tentang teknik bedah plastik. Sebab, selama ini masih banyak orang di Indonesia yang memiliki pemahaman salah terhadap bedah plastik.

Banyak orang Indonesia, bahkan pasien yang datang berkonsultasi kepadanya, yang masih memiliki pemikiran ekstrem bahwa bedah plastik itu operasi yang memasukkan bahan-bahan plastik ke dalam tubuh. Ini jelas keliru.

“Hanya bahan-bahan yang memenuhi kriteria medis dan aman yang bisa ditanamkan ke dalam tubuh. Informasi ini sudah banyak terkoreksi dengan adanya berbagai informasi tentang bedah plastik di situs-situs kesehatan yang tepercaya,” papar salah satu pendiri Beyoutiful Aesthetic Clinic, di Jakarta, ini.

Media sosial juga ikut mengubah dari yang dulunya melakukan bedah plastik dengan sembunyi-sembunyi, sekarang justru orang saling berbagi rekomendasi klinik yang tepat untuk mendapatkan hasil terbaik.

”Jadi, ada unsur show off atau pamer juga. Apalagi jika mereka merasa sangat puas dengan hasilnya,” kata dr. Tompi. Seperti yang diwakili oleh 15% - 20% pasien yang datang ke kliniknya. Persentase sisanya adalah pasien yang tidak malu mengakui, tapi cenderung tidak membuka informasi ini untuk umum. Klik halaman berikutnya
 
 


Foto: Shutterstock

Seperti tren produk kecantikan dan hasil riasan yang effortless, keinginan mengejar cantik alami dengan jalan yang relatif instan ini juga ditemukan pada para pasien yang datang berkonsultasi di klinik bedah estetika.

Menurut dr. Tompi, ia tidak pernah menemui pasien yang ingin merombak habis wajahnya hingga terlihat seperti boneka Barbie. Meski begitu, dr. Tompi mengaku bahwa sekitar 30% pasien datang ke tempat praktiknya dengan membawa foto orang lain, atau idolanya yang memiliki fitur wajah yang mereka inginkan. “Namun, pada akhirnya mereka tetap ingin menjadi diri sendiri, hanya lebih baik,” lanjutnya.

Dari beberapa jenis tindakan bedah plastik yang dilakukannya, lima yang paling digandrungi oleh pasien adalah operasi perbaikan bentuk hidung, membuat lipatan mata, menghilangkan kantong mata, meniruskan wajah, dan membentuk dagu.
 

"Bedah plastik itu sifatnya hanya enhancing, atau mempercantik, bukan merombaknya menjadi orang lain. Ini filosofi yang saya pegang sebagai seorang profesional," ungkap dr. Tompi.


Menurutnya, sekian puluh tahun seseorang melihat wajahnya di kaca, jika tiba-tiba ia memandang wajah yang sama sekali berbeda, maka orang tersebut dapat mengalami krisis identitas.

Oleh sebab itu, sebagai spesialis bedah, ia tidak begitu saja menuruti kemauan pasien. “Apabila dari hasil penilaian medis kami seseorang tidak perlu melakukan tindakan tertentu, maka kami tidak akan memaksakannya. Sebab, besar kemungkinan hasilnya tidak signifikan dengan besar biaya yang harus dibayarkan,” jelasnya.

Di fase inilah pentingnya konsultasi dengan dokter dilakukan. Sebab, meski datang dengan masalah yang sama, tindakan yang diberikan bisa saja berbeda. “Beda penyebab, maka berbeda pula tindakan yang diberikan. Di sinilah pentingnya konsultasi,” kata dr. Tompi. (f)


Baca juga
5 Hal Penting Diperhatikan Sebelum Melakukan Bedah Kosmetik
Yuk, Kenalan dengan Teknologi Tanam Benang