Publikasi dan media vintage yang menampilkan cantiknya perempuan Indonesia; bedak wajah dari apotek di Surabaya dari awal abad ke-20 (era kolonial). Foto: Dok. HYAS
Seperti apa, sih, perempuan Indonesia—bahkan sebelum ada Indonesia—menjaga kecantikan mereka, terutama dalam memakai makeup atau riasan?
Ternyata, di setiap masa, perempuan Nusantara punya cara masing-masing dalam mengekspresikan kecantikan mereka, lewat berbagai ritual kecantikan.
Ritual tersebut merupakan bagian dari tradisi, sekaligus identitas modern mereka pada masanya.
Kontribusi mereka tidak hanya membentuk sebuah industri, tetapi juga turut memengaruhi bagaimana Indonesia mendefinisikan kecantikan saat ini.
Perjalanan makeup dan perempuan Nusantara dihadirkan HYAS dalam pameran Makeup Through the Ages, yang baru saja berakhir pada 6 September lalu, di Spac8 Ashta District 8, Jakarta.
“Visi kami adalah membuka mata Indonesia terhadap kedalaman dan kecanggihan dari keindahan yang telah dimiliki sejak lama,” ujar Sissy Sosro, Pendiri HYAS.
HYAS: Makeup Through the Ages, yang dikurasi Allysha Nila, serta didukung arahan kreatif dan partnership oleh Abraham Dewanggana dan Ein Halid itu memadukan pengalaman museum dan galeri untuk menghadirkan kekayaan warisan kecantikan Indonesia melalui eksplorasi arsip, yang kali ini dimulai dari dunia makeup.
Pameran ini terbagi dalam tiga periode waktu, yaitu masa kuno, masa kolonial, dan masa modern. Lebih dari 350 produk makeup dari berbagai periode sejarah Indonesia ditampilkan dalam pameran ini.
Produk tertua yang dipamerkan adalah bedak wajah yang diproduksi oleh sebuah apotek pada era kolonial di Surabaya. Produk tersebut berasal dari tahun 1920-an, atau bahkan lebih awal.
Bedak wajah memang jadi produk andalan ber-makeup perempuan Nusantara dahulu saat keluar rumah. Makeup dekoratif, seperti pensil alis, lipstik, blush on dan eye shadow, biasanya baru dipakai untuk momen istimewa, seperti untuk rias pengantin—karena dulu peredarannya juga terbatas.
Rias pengantin di Tanah Air mendukung perkembangan industri kecantikan; koleksi arsip produk Sariayu Martha Tilaar. Foto: Dok. HYAS
Pameran ini ikut menampilkan foto-foto terbaru dengan gaya rias pengantin berbagai daerah di Indonesia, serta dokumentasi kuno yang menunjukkan bahwa makeup dan hairdo sebelum merdeka sebuah warisan budaya menarik, dan menunjukkan gaya khas Indonesia.
Di masa modern, ketika industri kecantikan Tanah Air mulai berkembang, definisi kecantikan yang dibentuk industri bisa ditelusuri pengunjung melalui produk-produk Sariayu Martha Tilaar, jenama yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan kecantikan Indonesia.
Pengunjung dapat melihat bagaimana Sariayu tumbuh dari gagasan untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya Indonesia ke dalam kecantikan, hingga terus beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan konsumen (lengkap dengan packaging yang unik!).
Selain produk makeup, pengunjung dapat melihat hingga 200 majalah vintage dan 100 buku langka (sayangnya tidak ada Femina edisi lama, yang pastinya banyak menampilkan tren makeup lokal ikonik). Sebagian besar koleksi tersebut diperoleh HYAS melalui proses riset selama sembilan bulan.
Sepanjang pameran berlangsung, berbagai program khusus berupa workshop dan talk show juga digelar.
Living legends, para makeup artist senior menghadiri pameran. Foto: Dok. HYAS
Pameran ini menjadi proyek perdana dari sebuah gerakan yang bertujuan untuk menghormati, melestarikan, dan memperkenalkan kembali warisan kecantikan Indonesia kepada generasi mendatang.
“Misi kami adalah menghormati warisan mereka yang telah mendahului kita, melestarikan ritual dan cerita yang membentuk warisan kecantikan kita, serta membangun sebuah platform yang berarti bagi industri, budaya, dan setiap generasi yang akan datang,” ujar Sissy Sosro. (f)
Baca juga:
Satu Sunscreen untuk Semua Aktivitas? Sudah Bukan Zamannya
Kembalinya MOP Beauty Unbothered Demi-Matte Cushion, Diiringi Single Debut Tasya Farasya
Festival Kecantikan Terbesar di Indonesia Kembali Hadir