Foto: Dok. Shutterstock

Faktanya, sering kali kita menuntut orang lain menerima diri kita apa adanya. Namun, sudahkah kita menerima diri kita sendiri seutuhnya?
 
 
“Apa yang Anda pikirkan tentang dirimu itu jauh lebih penting daripada apa yang orang pikirkan tentangmu,” kata filsuf Seneca. Sayangnya, bagi kebanyakan orang kurang dapat menerima dirinya yang menurut mereka ‘banyak kekurangan’. Dalam psikologi, hal ini erat kaitannya dengan self-acceptance atau penerimaan diri.

Sempurna VS Unik
Konsep cantik selalu menjadi hal yang diperdebatkan di  tiap era karena munculnya ukuran-ukuran kecantikan tertentu. Di era ini, makna cantik pun tergantung dari masing-masing individu mengartikannya. Kecantikan sesungguhnya adalah hal yang subjektif sehingga  keseragaman ukuran-ukuran fisik jadi tidak relevan.

Dalam beberapa tahun terakhir kita bisa melihat perubahan paradigma  mengenai beauty standard dalam dunia mode dan  industri kecantikan. Seiring dengan tumbuhnya kesadaran masyarakat dunia pada keberagaman dan kemanusiaan,  Lancome misalnya, membuat gebrakan dengan memilih Lupita Nyong’o menjadi brand ambassador  berkulit hitam pertama pada tahun 2014. Sebuah keputusan radikal menarik dari brand berusia tua itu. 

Pada tahun 2016, Bobbi Brown, yang memulai cerita suksesnya berkat koleksi 10 warna lipstik revolusionernya, merayakan ulang tahun ke-25 dengan merilis kampanye  bertajuk ‘Be Who You Are’. Tak tanggung-tanggung, kampanye ini mengikutsertakan lebih dari 40 wanita dari segala profesi, etnis, ragam kulit dan  rentang usia 13 hingga 83 tahun, untuk berpartisipasi. Hal ini seolah penekanan bahwa kecantikan  sudah seharusnya tidak terkotak-kotakkan pada usia, warna kulit, dan ras. Dan kecantikan juga berada di jalan-jalan,  dan sesungguhnya bukan  ada di halaman iklan dan panggung peragaan busana semata.

Yang masih terus dibicarakan adalah gebrakan yang dilakukan  penyanyi Rihanna yang meluncurkan  brand kosmetik Fenty Beauty pada tahun 2017. Seolah  echo dari kepribadiannya yang bebas dan egaliter, brand ini terus-menerus menampilkan keberagaman dalam tipe-tipe kecantikan. Tidak hanya fisik, tapi juga preferensi seksual.

Fashion brand Desigual untuk kampanye F/W’14 menampilkan Winnie Harlow. Model yang memiliki kelainan kulit vitiligo ini mampu mendobrak pakem soal ‘kesempurnaan’ seorang model. Selama bertahun-tahun  ia  berupaya mengubah persepsi kriteria model, hingga akhirnya, pada tahun 2018,  dirinya mampu menjadi model dalam peragaan busana Victoria’s Secret.  Kulit belangnya  menjadi napas segar  di panggung mode dunia dan menginspirasi soal ketidaksempurnaan yang justru menjadi keunikan. 
 


Foto: Dok. Shutterstock
 

Pesan Positif Selebriti Dunia
Di dunia  musik, kehadiran sosok bertalenta hebat dan berpenampilan nyeleneh seperti Lady Gaga, Cardi B., Katy Perry justru menandakan adanya transisi tentang kecantikan itu sendiri. Siapa pun bisa menjadi dirinya sendiri dan menjadi lebih autentik.
Beyonce bahkan pernah mengatakan, “My body is not perfect, but is real.” Dari ungkapannya, ia ingin orang melihat dirinya sebagai Beyonce, sebagai manusia biasa, sebagai ibu, yang (kebetulan juga)  entertainer. Selain itu, dirinya pun ingin menegaskan bahwa ia tidak ingin menampilkan hal-hal yang manipulatif.

Body image pun menjadi isu utama di dunia fashion. Misalnya, menilik pada kasus  tahun 2015,  peragaan busana Victoria Beckham di New York Fashion Week dihujani kritik pedas karena menampilkan para model yang sangat kurus. Sama halnya dengan kampanye dari brand Gucci yang lagi-lagi disorot hal yang sama terkait modelnya yang terlihat sangat kurus dan tidak sehat.

Adakah perlawanan? Tentu saja ada. Gigi Hadid, yang memiliki bentuk tubuh curvy, pernah menuliskan bentuk protesnya pada  gambaran model dengan body image yang superkurus. Ia menuliskan di sebuah unggahan Instagram beberapa tahun silam, “Saya merepresentasikan body image yang sebelumnya tak diterima di dunia high fashion.” Sebuah pernyataan yang cukup menohok, mengingat Gigi (dengan tubuh curvy-nya) terus terpilih merepresentasikan  brand fashion  dalam kategori high fashion itu.

Tak hanya Gigi Hadid, munculnya model-model plus size, dengan visi mengampanyekan self-esteem dengan bagaimanapun  bentuk tubuh yang dimiliki, juga tampak  menonjol. Salah satunya yang disuarakan oleh  model plus size, Ashley Graham. Perlawanan-perlawanan semacam ini benar-benar memberi angin segar   karena  datang  dari pelaku industri itu sendiri. Dobrakan jadi lebih terasa karena langsung ke jantung industri itu sendiri.
 
 


Foto: Dok. Femina

Fotografer: Ricko Sandy
Pengarah Gaya: Rajasa Pramesywara & Natasha Ghea
Model: Krisna Siantar mengenakan Toton dan Ucita Pohan mengenakan Pofeleve dan Shilvia B.
Penata Rias: Philips Kwok
Penata Rambut: Diaz Putra - Philips Kwok Team
Nail Artist: K's Nail Art by Krisna Siantar

Menuntut Diri Sendiri
Pada dasarnya,  tiap individu pasti menginginkan kesempurnaan dalam dirinya, baik dari segi materi, fisik, maupun intelektual. Apalagi pada dasarnya  manusia  memiliki sifat  tidak pernah merasa puas dengan apa yang dimilikinya. Kekurangan  bisa menimbulkan kekecewaan yang salah satunya berujung  pada ketidakpercayaan diri yang akut.

Ucita Pohan, punya pendapat yang menarik untuk menangkis krisis percaya diri ini. “Embracing your body! Tak perlu takut untuk menunjukkan siapa diri kita. Embracing your body  bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, membuat penampilan dengan segala kamuflasenya dan kedua memperlihatkan penampilan atau tubuh apa adanya. Untuk  saya pribadi, cara mana pun tak masalah, yang penting hal tersebut menunjukkan siapa jati diri kita sebenarnya. Semua orang tentu ingin menampilkan sisi terbaiknya,  bukan?”

Bagaimanapun ukuran tubuh kita, untuk mencintainya terletak pada cara mengubah citranya, bukan mengubah penampilannya. Citra tubuh adalah cara kita  memandang tubuh dan bagaimana kita percaya diri saat  orang lain melihatnya. Menerima diri sendiri atau membenci diri sendiri lebih merupakan urusan di dalam diri.

Daripada menuntut orang lain untuk menerima diri kita, apalagi sampai mengorbankan diri hanya untuk mendapatkan pengakuan, tuntut dulu diri sendiri untuk membereskan urusan penerimaan diri ini. Jika Anda ingin mencintai tubuh Anda, Anda harus memulainya dengan memaafkannya, menerima, serta bersyukur karena ketidaksempurnaannya. Sebuah refleksi diri yang menarik. Apakah Anda sudah menerima diri Anda? (f)


Baca Juga
Agar Rambut Tetap Sehat, Perhatikan 3 Hal Ini Usai Melakukan Pengeritingan dan Pelurusan Rambut
Gunakan 5 Minyak Nabati ini untuk Tampil Cantik
5 Langkah Riasan Alami untuk Aktivitas Harian Anda
Beragam Manfaat Minyak Zaitun untuk Kecantikan Kulit dan Rambut