Haryoadiputro Soenggono melepas para murid hingga keluar pagar rumahnya yang sekaligus tempat kursus keramik Bengkel Keramik Puspa 5. Mereka, ekspatriat Jepang, mendapat informasi tempat ini dari mulut ke mulut. Jumlah muridnya tak pernah putus, walau Haryo tak memasang iklan maupun memiliki website.Empat belas tahun lalu, murid pertama didapatkan tanpa sengaja, yakni wanita Jepang pembeli keramik Haryo yang penasaran pada proses di home industry Haryo. Industri keramik menyala-nyala di Jepang. Jumlah pengajarnya tidak langka dan membuat keramik sendiri di rumah bukan hal aneh. Rakyat mengoleksinya sebagai variasi tempat minum teh, nasi, hingga sup.
Di era etalase online, terbukanya kemudahan bagi kebanyakan keramikus Indonesia untuk berpamer karya menciptakan ketertarikan konsumen muda Indonesia. Akhirnya, yang semula pembeli, berubah minatnya ke proses pembuatan keramik. Satu per satu wajah lokal bermunculan di kelas Haryo.
Saat dikunjungi, Haryo yang mengajar seorang diri silih berganti membimbing dua muridnya menekuk-nekuk tanah liat yang telah dicetak ke dalam bentuk daun, mendampingi murid lainnya mencelup keramik ke dalam glasur, sambil sesekali menjemur keramik setengah jadi. Terlihat kesabaran dan ekspresi ramah Haryo kala mengajar.
“Saya menyebut studio ini bengkel bersama karena para ‘alumni’ juga sering mendaftar kembali karena tak ingin lepas dari indahnya proses membuat keramik. Ada juga yang membawa keramik setengah jadi dan melakukan proses bakar di sini,” jelas Sarjana Teknik Sipil Universitas Indonesia --yang tiba-tiba suka keramik saat kursus pada keramikus terpandang Indonesia, almarhum Liem Keng Sieng-- ini.
Bengkel dibuka pukul sembilan pagi hingga satu siang, pada hari Senin, Selasa, Kamis, dan Jumat. Sistem kelasnya unik. Tiap murid mendapatkan waktu belajar setotal 24 jam yang tanggal dan durasinya boleh dibagi-bagi sesuka hati. Mereka mempelajari teknik pinch, yakni mencubit-cubit tanah liat untuk mencapai bentuk yang disuka, berpindah ke teknik slab, yakni mencetak tanah liat ke dalam bentuk datar, teknik putar (memakai meja putar) untuk produk silinder, hingga ke kombinasi teknik.
Bengkel berfokus pada pembuatan alat makan berdesain alami. Ketertarikan Haryo memang bukan pada keramik patung karena ia menemukan kesulitan menangani bentuk-bentuk manusia atau hewan yang harus simetris.
Tanah liatnya dari Sukabumi, karena sifatnya yang mudah ditangani. “Jika mendapatkan jenis tanah yang agak sulit dibentuk, murid akan mengira dirinya yang tak bisa-bisa membuat keramik,” ujar Haryo.
Bengkel ini tak membanding-bandingkan tingkat kecepatan murid dalam menguasai teknik tertentu. Proses handmade adalah refleksi jiwa, tak memerlukan skor keseragaman sebagaimana produk fabrikasi. Satu mangkuk yang bisa dianggap kurang indah oleh murid lain, bisa saja sempurna di mata pembuatnya karena sesuai kepribadian.
Di sini, murid belajar menghargai proses. Sebelum dibakar, keramik harus disusun di oven berdasarkan bentuk dan ketebalannya agar ‘matang’ merata. Pembakarannya 12-30 jam. Setelah matang, keramik diberi glasur, lalu dibakar lagi. Usai dimatikan, keramik baru dikeluarkan dari oven tiga hari kemudian, saat oven sudah adem! Karena proses panjang ini, banyak pelajar keramik di perguruan tinggi Indonesia banting setir karena enggan bergantung mandiri pada bisnis keramik handmade. Semangat Haryo menghidupkan bengkel ini merupakan salah satu dari sedikit tempat kursus berkualitas yang eksis. (f)