Foto: NORA"The future is women!," pekik Yenny Wahid, pendiri Wahid Foundation pada Indonesian Women's Conference 2019. Kalimat ini kemudian disambut tepuk tangan para peserta konferensi yang hadir di Gandaria City Hall, Kamis, (21/11).
Yenny melanjutkan bahwa apa yang ia katakan bukan semata bertujuan untuk menghibur wanita. Yenny memaparkan data-data yang jelas menunjukkan bahwa keterlibatan wanita dalam ekonomi dapat memberikan tambahan Gross Domestic Product (GDP) dunia sebesar 28 triliun USD. Pertambahan ini tentu dapat meningkatkan arus perputaran uang serta kesejahteraan masyarakat.
Yenny juga menunjukkan data lain, bahwa ketika anak perempuan mendapatkan akses pendidikan yang setara dengan laki-laki, hal ini menjadi kontribusi untuk meningkatkan rata-rata GDP negaranya sebesar 4%.
Dengan nada yakin, puteri Presiden RI keempat ini mengatakan, keunggulan wanita dalam menghadapi perubahan dunia. "Ada tantangan besar masa depan yang dihadapi oleh seluruh warga dunia, salah satunya adalah era disrupsi di mana banyak perubahan teknologi yang membawa dampak di masyarakat, Salah satunya adalah automatisasi atau kecerdasan buatan (AI). Banyak pekerjaan yang akan hilang dan digantikan oleh robot," ujarnya.
Namun, dari sini Yenny menunjukkan kelebihan wanita yang memiliki empati lebih besar serta sifat nurturing yang alamiah sebagai penjawab tantangan tersebut. Ke depan, akan banyak pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan empati atau sentuhan-sentuhan manusia untuk bertahan. Dan wanita memiliki kemampuan itu. Kedua, ke depan temanya bukan hanya kompetisi, tetapi kolaborasi, dan wanita terbiasa melakukan itu dalam aktivitas harian secara alamiah. "Wanita terbiasa melakukan planning, executing, dan lain sebagainya."
Foto: NORA
Yenny menuturkan bahwa kontribusi wanita sebagai solusi permasalahan global di masa mendatang tidak akan terwujud bila tidak diiringi dengan tiga hal berikut:
# Perubahan Pola Pikir Masyarakat
Yenny membuka hasil survei Wahid Foundation yang menunjukkan bahwa wanita Indonesia ternyata lebih banyak yang tidak setuju dengan konsep wanita aktif di luar rumah dibandingkan laki-laki. Temuan ini menunjukkan bahwa sebetulnya malah lebih banyak laki-laki yang setuju dan nyaman dengan wanita yang aktif berkegiatan di luar rumah, entah untuk bekerja atau berorganisasi.
"Ini artinya, bahwa wanita akan mendapat tekanan dari sesama wanita sendiri; mertua, kakak, ibunya sendiri, dan kawannya (untuk tidak beraktifitas di luar rumah, "tutur Yenny.
Oleh karenanya, changing mindset ini bukan hanya untuk laki-laki, tapi juga wanita. Yang selama ini dipercayai bahwa kodrat wanita hanyalah dapur, sumur, kasur harus diubah. Wanita boleh aktif di luar rumah karena itu memberikan manfaat yang besar di masyarakat, pungkasnya.
# Fasilitas Pemberdayaan
Yenny menyebut bahwa pemberdayaan wanitan harusnya dimulai sejak awal, bahkan ketika ia masih kecil. Anak-anak perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang tidak bias gender untuk mengoptimalkan kemampuannya. Ia menemukan banyak wanita teknisi yang memiliki kemampuan jauh di atas rata-rata tetapi jadi terhambat karena dianggap bukan kodratnya.
# Kebijakan yang Inklusif
Sering kali karier seorang wanita dianggap berhenti ketika ia memutuskan berumahtangga dan memiliki anak. Memang bukan hal yang mudah untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga. Akan tetapi, menurut Yenny, bila kita mampu memiliki kebijakan yang dapat memfasilitasi wanita untuk menentukan prioritasnya, maka mereka tetap akan bisa maju.
"Kita harus membuat aturan dalam perusahaan maupun dalam masyarakat yang memungkinkan ketika seorang wanita kembali dalam pekerjaannya setelah punya anak, ia tidak akan ketinggalan. Ini yang disebut dengan kebijakan inklusi, "tutup Yenny. (f)
Lela Latifa
Editor: Nuri Fajriati
Baca Juga:
Merayakan Inklusifitas Dalam Indonesian Women's Forum 2019
Inklusif Dalam Dunia Profesional
Intip Area Festival Indonesian Women’s Forum 2019