Foto: Freepik


Siapa tak suka cokelat? Dari usia anak hingga dewasa, cokelat menjadi salah satu camilan yang paling disukai. Pasalnya, cokelat yang berasal dari biji kakao ini bisa diolah menjadi aneka makanan dan minuman yang lezat. 

Mengutip dari laman history.com, cokelat pertama kali dikonsumsi oleh penduduk Mesoamerika kuno sebagai minuman. Dulu, cokelat dipercaya menjadi salah satu bahan makanan yang hanya bisa dikonsumsi oleh para bangsawan. Para ahli memperkirakan bahwa pohon kakao sebagai bahan utama pembuatan cokelat mula-mula tumbuh di daerah Amazon utara hingga ke Amerika Tengah sampai Meksiko.

Dalam buku berjudul ‘The True History of Chocolate’ yang ditulis Sophie dan Michael Coe menyebutkan bukti linguistik paling awal dari konsumsi cokelat merentang dari tiga hingga empat milenium yang lalu, di Mesoamerika pra-Kolombia seperti Olmec. Bukti paling awal mengenai cokelat pertama muncul di situs pengolahan cokelat di Puerto Escondido, Honduras pada 1100-1400 SM (Sebelum Masehi). Dari penemuan ini, banyak yang menduga bahwa biji kakao tidak hanya digunakan sebagai minuman tetapi juga sebagai gula alami untuk minuman beralkohol dan obat. 

Kemudian ditemukan pula residu cokelat pada tembikar yang digunakan oleh suku Maya kuno, peradaban pertama yang mendiami daerah Mesoamerika di Río Azul, Guatemala Utara. Ini menunjukkan bahwa Suku Maya meminum cokelat diperkirakan sekitar tahun 450 SM – 500 SM. Konon, konsumsi cokelat dianggap sebagai simbol status penting pada masa itu. Suku Maya mengonsumsi cokelat dalam bentuk cairan berbuih ditaburi lada merah, vanila, atau rempah-rempah lain.

Tak lagi hanya menjadi konsumsi bangsawan, cokelat di era kini sudah hadir dalam berbagai bentuk olahan makanan dan sangat disukai masyarakat. Tak heran jika penjualan produk-produk olahan cokelat ini terus meningkat dan menawarkan peluang bisnis yang menarik. 

Bahkan di tengah pandemi COVID-19, produk olahan cokelat mengalami peningkatan penjualan di platform e-commerce. Data Tokopedia menyebutkan jumlah transaksi produk cokelat di Tokopedia meningkat hampir 3x lipat selama 2020 dibanding tahun sebelumnya.

“Penjualan cokelat di Manado, Gianyar dan Magetan mengalami peningkatan paling signifikan selama 2020 dibanding tahun sebelumnya,” ungkap Ekhel Chandra Wijaya, External Communications Senior Lead Tokopedia.

Tertarik berbisnis olahan cokelat? Merayakan Hari Cokelat Sedunia yang jatuh pada hari ini & Juli 2021, berikut 4 pelaku usaha yang sukses membawa bisnis olahan cokelatnya naik kelas: 



Baca Juga: Pipiltin Cocoa & Krakakoa

 


Foto: Dok. Pribadi 


1/ Pipiltin Cocoa
Dengan tujuan ingin semakin meningkatkan pamor cokelat Indonesia, Tissa Aunilla mendirikan Pipiltin Cocoa pada tahun 2013. Produk cokelat yang ditawarkan Pipiltin Cocoa sangat variatif, memiliki cerita istimewa, dan kekhasan rasanya sendiri, karena coklat yang ditawarkan berasal dari berbagai daerah seperti Pidie Jaya Aceh, Glenmore Banyuwangi, Tanazozo Flores, hingga Ransiki Papua Barat.

Yang menarik, Pipiltin Cocoa juga menggerak bisnis cokelat dari hulu hingga hilir. Di hulu Pipiltin memberdayakan petani kakao dari Aceh sampai Papua. Sedangkan di Hilir, selain memproduksi cokelat aneka olahan, Pipiltin juga tak bosan berkolaborasi dengan berbagai partner usaha untuk membuat produk cokelat yang inovatif. Inilah yang membuat bisnis Pipiltin terlihat istimewa.

Menjaga pasokan cokelat berkualitas tidak mudah. Tissa perlu hands-on dengan cara berinteraksi ke petani dan menanamkan keyakinan. Cokelat ini ditanam secara organik, tak mencemari lingkungan keluarga petani, mendukung ekosistem flora dan fauna sekitarnya. Tak semata menghasilkan cokelat yang lebih enak, penanaman terstandarisasi berpengaruh secara jangka panjang. 

Sementara itu, kemasan produk yang premium membuat Pipiltin Cocoa dilirik konsumen asing. Kini Pipiltin Cocoa  diekspor hingga ke Jepang, Singapura  yang terbaru adalah Rusia. 
 


Foto: Dok. Pribadi


2/ Krakakoa
Krakakoa didirikan pada tahun 2013 oleh Sabrina Mustopo sebagai bisnis sosial yang memberdayakan petani kakao kecil untuk bisa menghasilkan cokelat Indonesia yang berkualitas, tak hanya di dalam negeri tapi juga pasar internasional. Sebagai perusahaan, Krakakoa juga menjadi produsen olahan coklat yang melestarikan lingkungan. 

Dalam upaya membina petani cokelat Sumatera, misalnya, Krakakoa memberikan peralatan penunjang pertanian kakao, pelatihan, dan kerelaan untuk membayar lebih untuk tiap satu kilogram cokelat di atas angka fair trade. Ia menghadirkan konsep farmer to bar yang saat itu belum banyak ditemui.

Biji cokelat Krakakoa diolah di dapur Research and Development di Lampung, mensyaratkan cokelat yang telah melalui proses tujuh hari fermentasi. Proses fermentasi membuat cokelat mengembangkan aroma alaminya sesuai karakter wilayahnya. Akan muncul wangi rempah dan buah-buahan yang komplementer terhadap rasa cokelat yang secara alaminya pahit. Ini justru nikmat! Produk Krakakoa juga mengandung cocoa butter, tidak digantikan dengan minyak kelapa sawit.

Krakakoa mendulang prestasi bergengsi dengan total enam medali dalam ajang penghargaan Academy of Chocolate, beberapa di antaranya adalah AOC Silver dan Bronze Winner 2017. Ini menjadikan Krakakoa sebagai pembuat cokelat Indonesia pertama yang memenangkan penghargaan apapun di kompetisi tahunan bereputasi tersebut.

Produk-produk Krakakoa yang meliputi chocolat bar, chocolate snack, hingga chocolate powder juga telah diekspor ke sejumlah negara seperti Singapura, Jepang hingga EU. 


Baca Juga: Chocodot Indonesia & FudgyBro

 


Foto: Dok. Pribadi


3/ Chocodot Indonesia
Produk olahan cokelat yangs atu ini terbilang unik karena melahirkan inovasi cokelat isi dodol dan rempah Indonesia. Kiki Gumelar, founder Chocodot, yang berasal dari Garut, awalnya merantau ke Yogyakarta untuk bekerja di distributor bahan baku cokelat. Ibunya suatu hari mengirimkan dodol, oleh-oleh khas kampung halaman Kiki. Ide membuat cokelat isi dodol pun tercetus sejak itu. 

“Saya lalu memutuskan kembali ke Garut dan memulai usaha Chocodot pada 2009. Agar unik dan dapat diterima berbagai kalangan, kami membuat tulisan-tulisan unik di kemasan seperti Cokelat Enteng Jodoh, Cokelat Anti Galau, Cokelat Makin Cinta dan sebagainya,” ujar Kiki.  

“Tidak hanya isi dodol, kami berinovasi menambahkan varian isi pada cokelat, seperti krim buah, biji kopi, kurma, rempah, teh dan jamu. Inovasi ini dicapai lewat kolaborasi dengan sejumlah petani cokelat dan pengolah kakao lokal,” jelas Kiki.

Demi mempertahankan bisnis di tengah pandemi, Chocodot memanfaatkan platform digital seperti Tokopedia. “Lewat Tokopedia, produk kami kini dapat dinikmati oleh pelanggan lebih luas bahkan hingga Bulukumba,” ujar Kiki.
 


Foto: Dok. Pribadi


4/ Fudgybro
Belajar membuat kue secara autodidak, Rayendra Abiyasa Pramuraharjo selalu berkeinginan memiliki bisnis kuliner sejak kuliah. Dengan modal belajar autodidak dari internet, ia akhirnya membuat sendiri brownies dengan merek Fudgybro dan mulai memasarkannya pada November 2018 lewat Tokopedia. Siapa sangka bisnis yang usianya amsih seumur jagung ini Sudah berhasil meraih omzet puluhan juta. 

“Pada Maret 2020 awal pandemi, transaksi Fudgybro mengalami kenaikan hingga 4x lipat dibandingkan masa sebelum pandemi. Bahkan selama Ramadan 2021, Fudgybro bisa menerima pesanan hingga ratusan loyang setiap harinya, meningkat 3x lipat dari bulan sebelumnya,” jelas Rayendra.

Pandemi pun mendorong Rayendra menghadirkan berbagai varian baru, antara lain Softbro Jar Size yang merupakan campuran potongan brownies dan es krim vanila, cookies hingga minuman cokelat.

“Lewat Tokopedia, omzet per bulan kami mencapai puluhan juta. Bahkan melalui teknologi, produk-produk Fudgybro bisa menjangkau Medan, Bali hingga Makassar,” tutup Rayendra. (f) 


Baca Juga: 
Hari Ini, 7 Juli, Chocolate Day Dirayakan di Seluruh Dunia
Unik Banget, Indonesia Kini Punya Cokelat dari Wilayah Berau
Dua Wanita Pebisnis Gabungkan Kekuatan Cokelat dan Cookies Jadi Hampers Manis