Foto: Dok. Pussyhatproject.com, Dok. Fusion.net, Dok. theguardian.com, Dok. time.com, Dok. Women’s March Indonesia, Dok. SAR, Dok. Solidaritas Perempuan, Dok. Drawger.com, Dok. VOX.com, Dok. Bbc.com

Kalimat ‘mulutmu harimaumu’ mungkin adalah kalimat yang tepat dilayangkan kepada Presiden Terpilih Amerika Serikat ke-45, Donald Trump. Sehari setelah ia dinobatkan secara resmi sebagai orang nomor satu di Amerika Serikat, ribuan wanita turun ke jalan pada untuk menyuarakan pendapat mereka dalam Women’s March, karena Trump dinilai kerap melecehkan kaum wanita. Women’s March adalah parade yang mengangkat isu tentang pentingnya memperhatikan hak-hak wanita.

Beberapa nama selebritas terkenal dunia bahkan tak segan ikut turun ke jalan untuk beraksi, di antaranya adalah Ashley Judd, America Ferrera, Scarlett Johansson, dan Drew Barrymore. Aksi mereka  turut membakar semangat wanita di lebih dari 30 negara dari 5 benua lainnya untuk menggelar Women’s March serupa, seperti di Peru, Burma, Filipina, hingga Indonesia. Kalimat-kalimat yang tertera di poster, spanduk, hingga baju yang mereka kenakan ternyata juga memiliki pertimbangan khusus sebelum ditorehkan. Kata-kata ternyata menyimpan kekuatan tersendiri untuk membangun opini publik.
 
Pembakar Semangat
Jika di jalanan berbagai negara bagian di Amerika Serikat dipenuhi kata-kata nyeleneh yang kuat, seperti ‘Does My Period Scare You?’, ‘Bitches Get Stuff Done’, atau ‘My Body, My Choice’, di acara Women’s March yang diadakan di Jakarta tak kalah kreatifnya. Papan-papan spanduk bertuliskan ‘Perempuan Bukan Properti’, ‘Men of Quality Don’t Fear Equality’ atau ‘Jangan Atur Tubuhku’, turut meramaikan jalanan dari Sarinah menuju Taman Aspirasi di depan Istana Merdeka, Jakarta.

Memiliki tujuan yang sama dengan Women’s March yang dilakukan di AS, acara serupa di Jakarta merupakan gerakan yang muncul untuk merespons isu-isu aktual yang lebih relevan dengan kondisi di Indonesia. “Beberapa contoh isu yang belum terselesaikan dan kerap diangkat adalah soal buruh migran dan hak perempuan dalam berpolitik,” jelas Dian Kartikasari, S.H., Sekretaris Jenderal dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI). Selama tahun 2016, Komnas Perempuan mencatat ada 90 kasus kekerasan terhadap buruh migran Indonesia.

Salah satu selebritas Indonesia yang ikut terbakar semangatnya untuk berpartisipasi langsung di Women’s March Indonesia,  4 Maret lalu, adalah Hannah Al Rashid (31), pemeran Sofhie di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Hannah yang mengaku telah menyimak semua pemberitaan tentang aksi Women's March dari berbagai negara ini datang dengan membawa sebuah poster buatannya. “Lewat poster tersebut ia ingin orang tersadar bahwa feminisme sudah ada sejak zaman Cut Nyak Dhien, R.A. Kartini, dan Martha Christina Tiahahu memperjuangkan pendidikan dan hak wanita.

Menurutnya, poster adalah media penyampaian kegusarannya selama ini. “Poster atau spanduk merupakan bentuk komunikasi saya dengan orang yang melihatnya. Cara ini menurut saya sangat efektif untuk mengubah pola pikir orang,” ucap Hannah, yang mengaku baru pertama mengikuti aksi turun ke jalan, dengan berapi-api. Sebelum berpisah dengan tim femina, sambil mengelap keringat yang menetes di dahinya, ia menambahkan, “Sangat berbeda rasanya antara ikut berpartisipasi langsung dan hanya mengunggah lewat media sosial. Di lapangan lebih membara.”

Hal serupa juga dialami oleh Puji (22), mahasiswi jurusan sastra. Poster bertuliskan ‘Don’t let society label you’ sengaja dibuatnya atas dasar pengalaman yang ia dan temannya rasakan. “Saya merasa perempuan dikotak-kotakkan dari bentuk fisik, yakni gemuk atau kurus,  juga dibatasi dalam berpakaian dengan alasan memicu nafsu,” ucap Puji. Lewat poster-poster aksi Women’s March di Washington, ia termotivasi untuk menyuarakan kegelisahannya selama ini.

Saat mengikuti Women’s March yang berujung di Istana Negara, femina menemukan beberapa cara demonstran yang cukup unik untuk menyuarakan isi hatinya. Salah satunya adalah yang dibuat oleh Kania (25), yang bekerja sebagai staf bidang hak asasi manusia (HAM). Di cuaca yang panas, Kania mengenakan jas hujan  warna jingga yang bertuliskan ‘Rise and Shine’ di bagian belakang.

“Saya memilih kata-kata ini dengan maksud mengingatkan wanita di seluruh dunia bahwa sekarang adalah saatnya kaum wanita keluar dari kemalasan dan kenyamanan untuk mendobrak stigma bahwa wanita tidak cocok menjadi pemimpin dan terbatas geraknya,” tegasnya. Kania mengaku mengenakan kostum yang mencolok untuk mencuri perhatian orang dan membaca pesan yang ia tulis.

Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan
 
 
 
 
Tidak Asal Rangkai
Menggoreskan kata-kata dalam sebuah media tidak semudah menuang air dari botol ke dalam gelas. Karena, maksud yang ingin disampaikan harus dapat dipahami oleh orang awam yang sekadar lewat. Praktisi kata-kata dari Berakar Komunikasi, Yoga Adhistrisna, mengatakan bahwa kekuatan dari sebuah kata terletak pada korelasi dengan apa yang sedang terjadi di masyarakat.

“Kata-kata yang digunakan harus tepat dengan isunya dan tidak berbelit-belit,” pesan Yoga. Salah satu contoh penggunaan kata-kata yang fenomenal menurutnya adalah poster yang dibuat oleh Chairil Anwar dan menggunakan lukisan Affandi dengan bertuliskan ‘Boeng, Ajoe Boeng’. ”Poster ini dibuat untuk menyemangati para pejuang di masa agresi militer Belanda tahun 1945. “Pada masanya, kata ‘boeng’ (bung) adalah panggilan hormat untuk sesama pejuang. Poster itu ditempel dan disebar di kampung-kampung,” ucap Yoga.

Contoh lainnya adalah poster bertuliskan ‘Merdeka atau Mati’ yang dibuat oleh seniman asal Surabaya, M. Sochieb, yang mengutip kalimat penutup dari pidato Bung Karno pada Juni 1945. Poster tersebut ditempel di kereta yang mengangkut pemuda-pemuda yang akan berperang. “Dua poster ini sederhana, tetapi ‘bernyawa’. Orang yang membuatnya sangat paham dengan kondisi yang sedang terjadi. Poster-poster tersebut cukup efektif membakar semangat para pejuang untuk mempertaruhkan nyawa,” jelas Yoga.

Jika diperhatikan dari aksi Women’s March yang digelar di negara lain, terlihat beberapa poster dengan tulisan yang sedikit nakal, yakni menggunakan diksi yang kurang sopan, misalnya penggunaan kata ‘b****’ atau ‘f***’. Menurut Yoga, justru kata-kata tersebutlah yang memang sangat efektif untuk menarik perhatian.

“Untuk aksi memang harus menggunakan kata-kata yang nyeleneh. Kalau kata yang digunakan terlalu normatif, tidak akan menarik,” ucapnya. Dari segi media, menurut Yoga, kata-kata anehlah yang diburu. Ia berpendapat, “Ketika dipublikasikan, maka kata-kata tersebut dengan sangat cepat akan menyebar.”

Dari segi visualisasi, Yoga mengamini bahwa tampilan poster atau spanduk turut mendukung menarik perhatian orang yang melihatnya. Salah satu poster yang dibuatnya dan menjadi viral adalah poster blusukan Jokowi ala tokoh komik Tintin  pada masa pilpres 2014. Poster berjudul Kisah Blusukan Jokowi ini dinobatkan sebagai pemenang Best in Government and Politics pada ajang penghargaan Shorty Awards 2015 di New York, bersanding dengan NASA (National Aeronautics and Space Administration). Shorty Awards adalah penghargaan di bidang strategi komunikasi lewat media sosial.

Dari parade Women’s March, Yoga menyukai satu poster yang menurutnya cukup menonjol, yakni sebuah poster bertuliskan ‘We the People are greater than fear’, bergambar wanita mengenakan bendera Amerika Serikat sebagai jilbab yang belakangan diketahui bernama Munira Ahmed. “Kata-katanya pendek, tapi sarat makna,” ucapnya. Menurut Yoga, permainan tipografi huruf seperti yang dilakukan Puji juga merupakan strategi yang bagus untuk memberikan penekanan pada kata-kata.
 
Berhasil Menyetir Kebijakan
Sekitar tiga tahun terakhir seluruh organisasi wanita mulai bergabung untuk menyatukan suara dan beraksi. Dinda Nuurannisaa Yura atau akrab dipanggil Nisa, selaku koordinator program di Solidaritas Perempuan, mengakui bahwa sejak bersatunya organisasi wanita di Indonesia, mulai terlihat ada pergerakan kebijakan pemerintah yang mengacu pada hak-hak wanita. “Massa paling banyak adalah saat aksi Hari Perempuan Internasional, pada 8 Maret 2014. Sejak pukul 10 pagi kami sudah bergerak dari Bundaran Hotel Indonesia ke Istana Negara,” kenangnya.

Usai aksi tersebut, Nisa dan kawan seperjuangannya mulai memperoleh perhatian dari perwakilan DPR, yakni Eva Kusuma Sundari, Rieke Diah Pitaloka, dan Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. “Efek yang terasa adalah mulai terlihatnya komitmen pemerintah dalam menangani isu perempuan, salah satunya adalah yang tertera di Nawa Cita,” ucap Nisa.

Sembilan agenda prioritas yang ada dalam pemerintahan Jokowi dan Jusuf Kalla mengedepankan komitmen untuk memberdayakan serta melindungi kaum wanita dan anak lewat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PP dan PA). Selain itu, Nisa menjelaskan juga bahwa pada tahun 2007 kelompok-kelompok wanita juga berhasil mendorong pemerintah untuk membuat Undang-Undang No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dalam Catatan Tahunan (CATAHU) 2017 milik Komnas Perempuan, dari 259.150 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan selama tahun 2016, sebanyak 139 kasus di antaranya merupakan kasus perdagangan perempuan.
 
“Aksi dan kata-kata adalah kesatuan, dan pengaruhnya bekerja dalam menyetir kebijakan pemerintah. Dengan perempuan berkata-kata, maka pemerintah akan lebih tanggap,” tegas Nisa.

Tiap kali akan mengadakan aksi, Nisa selalu berdiskusi dengan ‘akar rumput’ untuk membuat kata-kata di media aksi, seperti poster atau spanduk. “Teman-teman yang berkaitan langsung lebih tahu apa yang harus dituliskan. Oleh sebab itu, harus ada koordinasi sebelum aksi dimulai,” ujarnya. Ia mengakui bahwa pada awal pembuatan poster, kata-kata yang dilahirkan cenderung kaku. Setelah melewati proses diskusi, kalimat yang ada menjadi lebih menarik.

Klik halaman berikutnya untuk melanjutkan
 
 


 
 
Kisah di Balik Sebuah P
1/ Washington
Trump sempat menyatakan pandangan misoginis selama kampanye calon presiden, dengan berkomentar tentang Megyn Kelly, Carly Fiorina, dan Hillary Clinton yang konteksnya menjatuhkan martabat wanita. Oleh sebab itu, Pussyhat Project mengeluarkan poster dengan ikon tutup kepala yang diberi nama ‘pussyhats’. Ribuan orang pun memenuhi Washington DC dengan mengenakan pussyhats dan membawa poster dengan kata-kata serupa.
 
Poster karya seorang ilustrator bernama Victor Juhasza ini awalnya dipublikasikan lewat situs seni rupa Drawger.com. Bergambar seorang pria dengan perawakan mirip Trump yang mendekap paksa wanita menyerupai patung Liberty, poster ini cukup kontroversial. Melihat permintaan yang membeludak atas karyanya untuk digunakan di Women’s March, Juhasza pun mengirimkan file kepada orang-orang yang menghubunginya dari berbagai tempat, seperti Washington, New York, hingga Minnesota.
 
2/ Los Angeles
Isu rasisme yang dibawa oleh Trump membuat warga geram, salah satunya adalah Amir Talai, pengisi suara Master Crane di Kung Fu Panda: Legends of Awesomeness. Talai merasa masih terdapat diskriminasi pada kaum kulit hitam. Ketika ia turun ke jalan, banyak yang memberikan respons positif terhadap poster yang dibawanya, termasuk warga kulit hitam. Foto Talai membawa poster tersebut pun menjadi viral di media sosial.
 
3/ New York
Poster bergambar Munira Ahmed, seorang wanita berdarah Bangladesh-Amerika, ini digunakan oleh ribuan pengunjuk rasa untuk Women’s March. “Poster ini ingin menunjukkan bahwa saya warga Amerika, saya seorang muslim, dan saya sangat bangga pada keduanya,” ucap Munira. Kini, poster ini bahkan tersebar di Women’s March seluruh negara bagian.
 
Seorang imigran asal Kuba bernama Edel Rodriguez merupakan lulusan terbaik dari jurusan seni di Pratt Institute. Bentuk partisipasinya untuk Women’s March adalah dengan membagikan link untuk mengunduh poster bergaya stensil buatannya lewat Facebook dan Twitter. Gambar Rodriguez yang pada Oktober 2016 sempat muncul sebagai sampul majalah TIME ini pun menjadi alternatif poster bagi para pengunjuk rasa di Women’s March.
 
4/ Jakarta
Menyambut Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 Maret sekaligus menunjukkan solidaritas terhadap International Women’s March, wanita Indonesia bergabung dalam Women’s March Jakarta mengadakan long march pada 4 Maret lalu. Beraksi dari Thamrin ke Istana Negara di bilangan Merdeka Utara, mereka kemudian membacakan delapan tuntutan wanita Indonesia untuk peradaban yang setara.

"Isu yang diangkat lebih fokus pada isu wanita di Indonesia, seperti seputar toleransi dan keberagaman, tingginya kekerasan terhadap wanita, hak reproduksi dan seksual, serta hak pekerja wanita,” jelas Olin Monteiro, ketua panitia aksi Women’s March Indonesia.

Sejumlah public figure terlihat berkeliaran, termasuk Melanie Subono, Nova Eliza, dan Asmara Abigail. Tak hanya wanita, sejumlah pria juga turut berpartisipasi, di antaranya adalah komika Arie Kriting dan Nino Fernandez. “Pria juga harus menghargai acara ini, karena pria pun lahir dari rahim seorang wanita,” tegas Arie. Tak lama, Nino pun menambahkan alasannya berpartisipasi, “Sebagian besar orang di Indonesia belum teredukasi bahwa wanita perlu dihormati dan tidak pantas digoda dengan siulan atau catcalling. Women’s March ini adalah cara untuk mengedukasi bahwa wanita juga manusia.” (f)

Baca juga:
International Women’s Day 2017, Berani Melakukan Perubahan?
Menyambut International Women’s Day, Berikut 32 Wanita yang Menginspirasi Versi Twitter
Wanita Bisa Jadi Pemimpin!