Foto: Dok. Femina
Dalam balutan pakaian yang didominasi warna kuning, sekitar 75 wanita wirausaha kota Medan mengikuti workshop Wise Women Entrepreneur Marsterclass di E-Hive Coworking Space Kompleks Center Point, Medan pada Sabtu (28/4) lalu.
Workshop di Medan ini merupakan workshop ketiga dari 10 rangkaian acara edukasi kewirausahaan kolaborasi Komunitas Wanita Wirausaha Femina dengan Commonwealth Bank yang didukung oleh Mastercard Center for Inclusive Growth.
Dua topik yang diangkat dalam workshop yang berlangsung selama 4 jam ini adalah WISE Financial Module yang dibawakan oleh Weddy Irsan, Head of SME New Business, Commonwealth Bank pada sesi pertama. Dan sesi kedua hadir Fellexandro Ruby, Food Photographer, membawakan topik: Storytelling Through Photo Food.
Kedua topik ini dianggap penting dan relevan, sebab data menunjukkan, dari 52 juta UMKM di Indonesia, 60 persen dimiliki oleh wanita. Hal ini juga sebagai upaya untuk mendukung ketekunan wanita dalam berbisnis agar usaha mereka lebih berkembang.
Untuk diketahui, WISE (Women Investment Series) adalah program literasi keuangan Commonwealth Bank yang diluncurkan sejak tahun 2014 lalu. Diperuntukkan khusus untuk wanita, aplikasi ini bisa diunduh secara gratis di Playstore maupun Google Play.
Selanjutnya: Pencatatan Keuangan Usaha Sangat Mudah
Pencatatan Keuangan Usaha Sangat Mudah
Tak sedikit pebisnis yang mengabaikan untuk membuat laporan keuangan usahanya. Padahal, laporan keuangan memiliki manfaat yang begitu besar bagi usaha, yaitu memantau perkembangan usaha dan sebagai salah satu syarat pengajuan pinjaman modal atau investasi.
Weddy mangatakan bahwa untuk membuat laporan keuangan, tidak selalu membutuhkan ilmu pengetahuan tentang accounting. Laporan keuangan dapat dibuat oleh siapa pun sebab caranya mudah dan sederhana. Hanya saja, hal ini sulit dilakukan karena sebagian orang menggeluti bisnis karena hobi sehingga tidak menganggap laporan keuangan sesuatu yang penting. Ditambah lagi kurangnya pemahaman tata kelola keuangan.
Weddy memaparkan, berdasarkan modul manajemen keuangan usaha yang dibuat atas kerjasama antara Commonwealth Bank dengan BINUS University Business School, ada tiga hal besar yang masuk dalam laporan keuangan, yaitu:
1/ Catatan transaksi, dimana setiap transaksi yang dilakukan harus dicatat karena uang yang digunakan merupakan uang perusahaan bukan uang pribadi. Hal yang termasuk dalam catatan transaksi yaitu penjualan, pengeluaran, dan penganggaran. “Sekecil apa pun jumlah atau nilai transaksi harus dicatat,” tutur Weddy.
2/ Laporan laba rugi. Laporan ini perlu untuk mengetahui besarnya keuntungan atau kerugian dari usaha yang dijalankan. Pendapatan dan biaya termasuk di dalamnya. Pendapatan merupakan jumlah yang diterima dari aktivitas perusahaan, kebanyakan dari penjualan atau jasa kepada pelanggan. Sementara biaya adalah uang yang dikeluarkan untuk membeli barang untuk produksi atau dijual kembali.
3/ Laporan neraca. Laporan neraca berguna untuk mengetahui harta atau aset, hutang, dan modal. Serta untuk menganalisa kemampuan usaha untuk menyelesaikan hutang.
Weddy pun menekankan, seorang pebisnis harus memisahkan uang pribadi dengan uang usaha. Pemisahan itu penting untuk dilakukan agar tidak membingungkan. Sebab bisa saja kita merasa percaya diri karena memegang uang yang banyak, padahal pada kenyataannya, usaha telah mengalami kerugian. Weddy juga mengatakan bahwa seorang pebisnis sebaiknya menganggarkan upah untuk dirinya sendiri. Namun, akan lebih baik lagi ketika bisnis sudah kokoh dan telah berbadan usaha seperti CV atau PT.
Walau topik dalam sesi ini sedikit berat, namun workshop berjalan dengan sangat cair dan santai. Para peserta begitu antusias untuk bertanya atau sharing pengalaman mereka dalam mengelola keuangan bisnis selama ini. Seperti halnya pada acara Wise Women Entreprenuer Marsterclass di kota Surabaya, sebelum mengakhiri sesi workshop, Weddy memberikan beberapa tip yaitu:
1/ Pisahkan rekening pribadi dengan rekening usaha, tujuannya untuk memudahkan pengaturan keuangan dan masalah perpajakan.
2/ Kartu kredit juga harus dipisah antara pribadi dan usaha. Dan selalu bayar lunas tagihan.
3/ Memiliki dana darurat untuk kebutuhan mendadak sebesar 6-12 kali dari pendapatan bulanan. Gunakan saat terjadinya masalah terduga agar terhindar dari kebangkrutan.
4/ Hutang maksimal harus 30 persen dari pendapatan rata-rata bulanan.
5/ Memiliki tabungan minimal 20 persen dari rata-rata pendapatan bulanan.
Selanjutnya: Membuat Konten Foto Tidak Mahal
Di sesi kedua, Food Photographer, Fellexandro Ruby memaparkan bagaimana cara membuat konten foto sebagai materi pemasaran yang efektif di era media sosial saat ini, terutama Instagram. “Di zaman sekarang ini, sangat penting bagi seorang pebisnis untuk menvisualisasikan produknya dalam bentuk foto untuk menarik minat pelanggan,” katanya.
Ruby mengawali materi dengan mengajak peserta untuk menonton video perjalanannya di beberapa negara menemui beberapa chef kondang kelas dunia. Ia mengungkapkan bahwa dalam membuat video tersebut, sekitar 90 persen menggunakan smartphone.
“Tidak ada alasan bahwa tidak bisa membut konten foto karena tidak memiliki kamera. Sebab sebagian besar kamera smartphone saat ini kualitasnya sangat baik dan mampu menghasilkan foto yang menarik,” kata Ruby meyakinkan para peserta bahwa membuat konten foto yang menarik bisa dilakukan dengan menggunakan peralatan seadanya, tanpa harus mengeluarkan biaya yang mahal.
Agar foto yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, Ruby memberikan tip-tip berikut:
1/ Tentukan ‘Rasa’. Bila Anda berbisnis cake, maka foto yang ditampilkan harus memberikan kesan yang manis agar menggugah selera.
2/ Berteman dengan jendela. Cahaya matahari langsung tidak terlalu baik untuk pemotretan produk. Maka untuk mendapatkan cahaya yang bagus, pemotretan produk sebaiknya dilakukan di dekat jendala karena cahaya dari jendela, cenderung lembut untuk meminimalkan shadow pada foto.
3/ Tentukan arah cahaya. Lakukan uji coba secara berulang-ulang untuk mendapatkan foto terbaik. Dengan demikian Anda bisa menentukan arah cahaya yang bagus, apakah dari kiri, kanan, atau belakang.
4/ Beli properti. Meja dan tripod, adalah beberapa properti penting untuk menghasikan foto yang bagus.
5/ Angle yang tepat. Seperti halnya dalam penentuan cahaya. Mencari angle yang baik pun harus dilakukan secara berulang-ulang agar Anda bisa mengetahui angle yang terbaik. “Salah satu angle yang menarik adalah top shoot,” ujar Ruby.
6/ Bijaklah memilih menu. Hal ini harus diperhatikan sebab tidak semua menu menarik untuk difoto.
Di akhir sesi, Ruby mengingatkan bahwa ketika memotret makanan, terlebih dahulu penuhi unsur-unsur makanan. Dimana makanannya dimasak dengan tepat dan ditata dengan baik. Kemudian properti atau aksesoris pendukungnya. (f)
Baca Juga:
Wise Women Surabaya: Pentingnya Pengelolaan Keuangan & Strategi Pricing untuk UKM