
Foto: Shutterstock
Penyebaran informasi salah atau hoaks di era digital sangat masif dan menjadi satu permasalahan yang cukup serius. Informasi salah mengenai pandemi COVID-19 termasuk salah satu yang paling santer saat ini. Kondisi ini diperparah dengan adanya oknum tidak bertanggung jawab yang sengaja membuat dan menyebarkan hoaks.
Dalam dialog yang diselenggarakan oleh Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) beberapa waktu lalu, Semuel Abrijani Pangerapan B.Sc, Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Komunikasi dan Informatika menyampaikan bahwa sejak masa pandemi Maret tahun lalu, ada 1.387 jenis hoaks yang teridentifikasi.
Apabila hoaks yang beredar tidak sampai mengganggu ketertiban umum, Kominfo memberikan stempel hoaks dan kembali menyebarkan informasi mengenai kekeliruan itu pada masyarakat. Langkah lain yang diambil adalah dengan men-take down atau menghapus informasi tersebut dari sosial media sebagai sumber penyebarannya itu. “Tapi kalau sudah mengganggu ketertiban umum, kita bisa lapor ke polisi untuk ditindaklanjuti. Saat ini sudah ada 134 kasus yang ditangani kepolisian terkait hoaks COVID-19 ini,” terang Semuel.
Dalam kesempatan yang sama, Septiaji Eko Nugroho, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) menjelaskan bahwa saat ini hoaks terkait vaksin COVID-19 menjadi isu yang dominan. “Kami mencatat ada 83 hoaks terkait dengan vaksin COVID-19, dan viralitasnya cukup tinggi, karena 42% terkait dengan isu keamanan dan kemanjuran termasuk hoaks kematian,” ujarnya.
Salah satu hoaks yang sempat viral beberapa waktu lalu adalah mengenai meninggalnya Mayor Infantri Sugeng Riyadi, Kepala Staf Kodim 0817/Gresik, usai divaksinasi COVID-19.
Septiaji menganalisis ada beberapa kelompok masyarakat yang terpengaruh oleh hoaks vaksinasi ini, “Ada kelompok masyarakat yang sebenarnya bukan keluarga antivaksin, anak-anaknya divaksin BCG dan Difteri, tapi mereka lebih percaya teori konspirasi, sehingga menganggap COVID-19 ini flu biasa sehingga tidak perlu divaksin. Kelompok lainnya adalah kelompok yang mau divaksin dan sadar soal pentingnya vaksinasi COVID-19 tapi mereka memiliki bias. Misalnya bias anticina atau antibarat,” terangnya.
Baca selanjutnya: Tip Terhindar dari Hoaks


Foto: Shutterstock
Tips Terhindar dari Hoaks
Untuk tidak mudah termakan hoaks COVID-19, Septiaji mengimbau masyarakat agar mengkonsumsi informasi dari sumber yang benar dan bisa dipertanggungjawabkan. “Apalagi informasi yang sangat penting yang akan menjadi penentu untuk membuat keputusan dalam hidup kita, maka kita perlu mengenal dokter atau pakar yang bisa kita percaya dan jauhi orang-orang yang tidak kita percayai,” terangnya.
Berikut tip yang bisa dilakukan agar tidak ‘termakan’ oleh berita atau informasi yang salah:
1/ Cek sumbernya
Siapa yang membagi dan dari mana asal atau sumbernya? Bahkan jika pengirimnya adalah anggota keluarga atau teman, Anda harus tetap memeriksa sumbernya.
2/ Jangan hanya membaca judul
Judul yang digunakan bisa saja sengaja dibuat sensasional dan provokatif.
3/ Cari tahu siapa penulisnya
Telusuri nama penulisnya secara online untuk melihat apakah ia nyata atau kredibel.
4/ Periksa tanggalnya
Cek apakah informasi tersebut adalah berita terkini. Cek juga tanggal dari data yang digunakan, apakah sesuai dengan konteks yang terjadi saat ini.
5/ Periksa bukti-bukti pendukung
Informasi yang benar didukung oleh data dan fakta untuk mendukung klaim yang dipaparkan.
6/ Kenali bias dalam cara berpikir kita
Pikirkan apakan mungkin prasangka yang Anda miliki dapat mempengaruhi penilaian Anda tentang apa yang dapat dipercaya atau tidak.
7/ Periksa faktanya
Konsultasi dengan organisasi pemeriksa fakta yang dipercaya. Misalnya: turnbackhoax.id, cekfakta.com, dan sebagainya. (f)

Baca juga:
Terkini, IDI Mencatat 647 Petugas Medis dan Kesehatan Wafat Akibat COVID-19
Angka Positif COVID-19 Tembus 1 Juta, Menkes Ingatkan Masyarakat untuk Lebih Disiplin 3M
Sudah Divaksin Tapi Masih Kena Covid-19. Kok Bisa?
Terkini, IDI Mencatat 647 Petugas Medis dan Kesehatan Wafat Akibat COVID-19
Angka Positif COVID-19 Tembus 1 Juta, Menkes Ingatkan Masyarakat untuk Lebih Disiplin 3M
Sudah Divaksin Tapi Masih Kena Covid-19. Kok Bisa?