Foto: Dok. Pribadi

Perayaan tahun baru masyarakat Tionghoa selalu sarat ritual dan meriah. Kelenteng yang dihiasi aneka simbol dan ornamen berwarna merah dan keemasan, tarian barongsai, hingga tradisi warga Tionghoa di kelenteng. Semuanya begitu menarik perhatian, terutama bagi para fotografer. Momen perayaan Imlek pun menjadi ajang hunting foto wajib dan selalu dinanti.
 
 

 
Barry Kusuma, travel photographer, @barrykusuma
Tatung, Wujud Akulturasi Budaya

Dari beberapa kali menghadiri perayaan Imlek, seperti di Palembang, Banten, Jakarta, dan Semarang, perayaan di Singkawang, Kalimantan Barat, paling berkesan buat saya. Perayaan Cap Go Meh di Singkawang disebut-sebut sebagai perayaan termeriah di dunia. Tak heran kalau ini menjadi salah satu agenda pariwisata penting.

Puncak perayaan ini justru berlangsung 13 - 15 hari setelah Imlek. Tepatnya saat Cap Go Meh. Untuk dapat merasakan suasana yang utuh, datanglah beberapa hari sebelum puncak perayaan. Saat itu, warga Singkawang yang pulang kampung sudah memulai ritual perayaan, seperti  pawai lampion dan arak-arakan barongsai.

Sisi human interest selalu menarik perhatian saya. Ikut berkumpul bersama warga Tionghoa di Singkawang dan menyaksikan parade tatung. Saat parade berlangsung, para tatung mempertontonkan seni kekebalan tubuh mereka, saat tubuh ditusuk benda-benda tajam, seperti panah dan tombak. Inilah wujud akulturasi budaya suku Dayak dan Tionghoa.
 
 

 
Feri Latief, photo journalist, @feri_latief
Kain Tenun dan Misa Gereja

Tiga tahun belakangan ini, saya memang fokus memotret budaya masyarakat Tionghoa di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang paling menarik adalah ketika saya memotret perayaan Imlek di Timor, Nusa Tenggara Timur.

Konon, bangsa Cina diperkirakan datang ke Timor pada abad ke-13 untuk mendapatkan kayu cendana. Mereka kemudian membuat daerah permukiman dan menikah dengan penduduk lokal. Kain tenun warna merah adalah salah satu bukti pengaruh Cina di Timor.

Bagi orang Cina Timor, yang kini beragama Katolik, perayaan tahun baru Imlek merupakan perayaan yang sifatnya tradisi. Akulturasi budaya tampak dalam perayaan Imlek yang dilakukan di gereja dengan menggelar misa. Warga peranakan pun melakukan sembahyang Imlek mengenakan busana adat, kain tenun tradisional Timor. 
Hidangan yang disajikan memadukan tradisi lokal, seperti sopi (minuman beralkohol lokal) dan sirih pinang, dengan hidangan khas Cina, seperti minuman teh, masakan babi, daging ayam, ikan, sayur, buah, tebu, dan jahe. Uniknya di sini, tarian barongsai dilakukan oleh warga  lokal.
 
 

 
Marrysa Tunjung Sari, travel photographer, @poeticpicture
Dari Dekorasi hingga Ekspresi                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                                            
Bagi saya, yang menarik dari Imlek adalah dinamika perayaannya, ekspresi orang-orang yang khusyuk berdoa di tengah suasana yang hiruk pikuk, serta detail dan dekorasi khusus yang dipakai.

Sejatinya, memotret perayaan Imlek juga perlu persiapan, di luar teknik dan peralatan memotret. Kita juga perlu mengetahui tentang sejarah kelenteng, latar belakang dan tujuan perayaan, urutan ritualnya, arti simbol-simbol, dan elemen lain yang berhubungan dengan perayaan Imlek di tempat yang kita kunjungi. Dengan demikian, foto yang dihasilkan tidak sekadar indah, tapi juga bermakna.

Saat datang ke perayaan Imlek, saya biasanya akan terdiam beberapa saat, mengamati sekeliling. Inilah cara saya untuk menghormati mereka yang beribadah, dengan tidak buru-buru mengeluarkan kamera dan jepret sana-sini.

Saya tidak pernah bosan memotret perayaan Imlek di Jakarta, yang selalu meriah, tapi tetap sakral. Dari kelenteng Petak 9 di daerah Kota, lalu Sin Tek Bio di daerah Pasar Baru, dan Hok Tek Tjeng Sin di daerah Kasablanka.
 
 

 
Denny Herliyanso, fotografer, Femina Group
Curahan Doa dalam Detail

Saya selalu senang mengamati detail-detail yang hadir dalam perayaan Imlek. Demi acara itu, masyarakat Tionghoa membuat karya terbaik untuk menghormati leluhur mereka. Ini bisa terlihat pada uang emas, lilin, lampion, patung, dan lain-lain yang nantinya akan digunakan dalam ritual  sembahyang di kelenteng. Detail dan warna-warna seperti merah dan emas pun sangat menarik secara visual untuk difoto.

Mereka yang merayakan Imlek juga sangat  terbuka menerima kehadiran masyarakat lain yang ingin menyaksikan sekaligus mengabadikan perayaan Imlek. Hal ini sebaiknya dibalas dengan kesopanan para pengunjung, misalnya tidak memegang dan memindahkan persembahan, atau melangkah dan berjalan di depan mereka yang sedang berdoa.

Masyarakat Tionghoa yang disebut Cina Benteng, di sekitar Pasar Lama Tangerang, memiliki tradisi yang menarik saat  merayakan Imlek. Sebulan sebelum Imlek, di sini, tepatnya sekitar Kelenteng Boen Tek Bio, sudah mulai diramaikan oleh penjual pernak-pernik Imlek. Inilah saatnya saya mulai mengabadikan  tiap detail warna dan bentuk ornamen perayaan Imlek yang meriah.  
 
 

 
Raiyani Muharramah, travel photographer, @raiyanim
Menyaksikan Peristiwa Langka

Selain pawai dengan tarian barongsai yang meriah, saya kerap menanti-nanti  kesempatan untuk melihat ritual langka yang hanya terjadi saat perayaan Imlek. Salah satunya, ritual iris lidah yang dilakukan di Kelenteng Hok Tek Bio, kelenteng tertua di Bogor yang terletak di Jalan Surya Kencana. Ritual ini dilakukan oleh para tangsin, orang-orang terpilih, yang menjadi medium arwah suci, yang sebelumnya menjalani puasa selama 15 hari dan menyampaikan doa.

Darah yang menetes dari lidah para tangsin yang disayat menggunakan benda tajam, seperti golok dan jarum, kemudian dipakai untuk menulis mantra pada kertas berwarna kuning. Tulisan dari tetesan darah itu merupakan bentuk permohonan kepada para dewa untuk mengusir aura jahat, sebagai tolak bala sekaligus meminta kelancaran usaha dan rezeki. Kertas mantra tersebut biasanya akan dipasang di pintu. Ritual ini dilakukan saat menjelang Cap Go Meh, setahun sekali. Tidak mengherankan, banyak masyarakat antusias datang untuk menyaksikan dan mengabadikannya. (f)

Baca juga:
Kirimkan Ucapan Imlek dengan Emoji dan Stiker Seru dari Twitter
Booking Segera! Tempat Makan Imlek Pilihan Editor
Di Balik Manisnya Kue Imlek