Foto: NORA
 
Bagi Wilda Yanti, pendiri Xaviera Global Synergy, Annisa Pratiwi, pendiri Ladang Lima, dan Iim Fahima Jahja, pendiri Queen Rides, berbisnis tak sekadar mengejar keuntungan, namun juga harus membawa dampak bagi lingkungan sekitarnya. 

Bicara dalam sesi Soulful Business pada hari kedua Indonesia Women’s Forum 2019, ketiga wanita ini berbagi inspirasi kepada para peserta IWF 2019, dalam panel yang dimoderasi Wajah Femina 2009, Shahnaz Soehartono.

Kepekaan terhadap lingkungan mendorong Wilda Yanti berusaha menemukan formula untuk menguraikan sampah secara lebih cepat dan tak mengeluarkan bau. Setelah menemukan formula tersebut, Wilda turun ke masyarakat untuk mengedukasi bagaimana caranya mengolah sampah demi lingkungan yang lebih baik.

Ingin memberi dampak yang lebih luas, Wilda membentuk Xaviera Global Synergy pada tahun 2011, perusahaan yang memberi layanan jasa pengelolaan sampah, kepedulian lingkungan, dan pembinaan kelompok usaha pengelolaan sampah.

“Misi kami adalah mengumpulkan wirausaha sosial baru seperti yang saya lakukan. Jadi menduplikasi sebanyak mungkin orang yang melakukan apa yang kita lakukan saat ini,” ujar Wilda yang menjadi salah satu finalis Lomba Wanita Wirausaha Femina 2015. 

Memberikan penyuluhan tentang pentingnya mengolah sampah kepada masyarakat yang tinggal di perkampungan tentu memberi tantangan bagi Wilda. “Masyarakat belum tentu paham soal pemanasan global. Jadi tantangannya bagaimana saya bisa menyampaikannya dengan gunakan bahasa yang mudah dimengerti sehingga saya bisa rangkul mereka dan mereka bisa menerima apa yang disampaikan,” jelasnya.

Dengan kiprahnya, Wilda ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah di masyarakat seharusnya menjadi tanggung jawab orang-orang yang berpendidikan. “Orang yang mendalami sampah identik dengan mereka yang tinggal di pinggiran dan berpendidikan rendah. Tapi sebenarnya kalau tak ada orang berpendidikan lebih baik yang terjun ke lingkungan dan mengurus sampah, bagaimana masalah sampah bisa selesai,” ungkap Wilda.
 
 
 
Foto: NORA
 
Sementara itu, bisnis Annisa Pratiwi bermula dari keinginannya sebagai seorang ibu untuk memberi nutrisi terbaik bagi anaknya. Di daerah tempat tinggalnya, yaitu di Jawa Timur sangat banyak terdapat tanaman singkong, namun hanya diolah menjadi keripik, tape, atau direbus. Setelah lakukan riset selama setahun, ia berhasil membuat tepung berbahan dasar singkong. Tepung ini ia jual dengan merk Ladang Lima. 

“Selama ini masyarakat Indonesia dimanjakan dengan makanan yang berbahan dasar pangan impor, misalnya gandum. Jadi pada awalnya misi kami adalah ingin membuat alternatif pangan lokal dengan adanya tepung serba guna ini,” kata Annisa.

Produknya mendapat sambutan yang baik dari para ibu yang mencari pangan gluten free. Karena kebanyakan produk gluten free merupakan impor dan harganya mahal. Pangan yang diproduksi Annisa kini bahkan sudah di-ekspor.

Untuk menjaga kesinambungan bisnis, kunci yang dilakukan Annisa adalah berinovasi. “Kami bekerjasama dengan petani-petani sayur di Jawa Timur dan memproduksi mi organik dan sayuran organik. Selain itu saya juga berinovasi dengan menciptakan kue dan pasta gluten free berbahan singkong,” ujarnya.
 
 

 
Iim Fahima, Fouder Queen Rides (tengah)/ Foto: NORA

Lain lagi dengan Iim Fahima Jahja. Ia sangat memberi perhatian pada keamanan berkendara kaum wanita. “Dalam lima tahun terakhir wanita pembeli motor dan mobil meningkat seberar 49,5 persen. Sementara, hanya dalam waktu dua tahun, tingkat kecelakaan lalu lintas yang melibatkan wanita meningkat sebesar 42 persen,” ujarnya.

Riset yang dilakukan oleh tim Iim Fahima juga menemukan, 80 persen wanita yang mengendarai mobil atau motor merupakan tulang punggung keluarga. Tapi di sisi lain, industri transportasi dan otomotif adalah industri yang maskulin. Sehingga edukasi keamanan berkendara yang dilakukan pemerintah maupun korporasi menggunakan pola komunikasi yang maskulin. 

Inilah yang menginspirasi Iim untuk membentuk Queen Rides, wadah yang menaungi keselamatan berkendara para wanita, dan bertujuan mengedukasi wanita untuk bisa berkendara dengan aman demi keselamatan diri, keluarga, dan lingkungan. 

“Saya punya latar belakang ilmu komunikasi. Akhirnya kami menghadirkan metode yang bernama safety style and beauty, mempelajari cara berkendara dengan aman melalui metode tersebut,” ujarnya.

Salah satu yang dilakukan Queen Rides adalah mengedukasi bagaimana caranya berkendara dengan aman, namun tetap berpenampilan modis di jalan raya. “Kami menggunakan model, semacam fashion show, untuk menunjukkan baju semacam ini, lho, yang aman dipakai untuk berkendara,” kata Iim.

Setelah tiga tahun dibentuk, Queen Rides telah memiliki 350.000 komunitas di seluruh Indonesia. “Dalam 2 tahun terakhir, kami telah mengedukasi sekitar 20.000 di antaranya,” kata Iim.

Selanjutnya pada Februari 2020 mendatang, Queen Rides akan meluncurkan aplikasi yang berisi panduan komprehensif keamanan berkendara. (f)


Prima Sabrina

Editor: Nuri Fajriati

Baca Juga:


Memaknai Bisnis, Tak Sekadar Mencari Keuntungan
Mengajarkan Nilai-nilai Positif dari Entrepreneurship pada Anak Ala Entrepreneurmom
Meningkatkan Nilai Bisnis bagi Wanita Wirausaha