
Dok. Pexels
Pelaku atau aktor panjat sosial umumnya diidentifikasi antara lain sebagai orang yang pemilih dalam berinteraksi sosial, senang membagikan aktivitas kesehariannya terus menerus, dan senang ikut ambil bagian dalam hal-hal yang sedang ramai dibicarakan. Jangan-jangan, kita juga melakukannya!
Selain bertukar informasi, manusia berinteraksi demi memenuhi kebutuhannya untuk dihargai dan mencari identitas. Dalam interaksi ini, beberapa orang merasa perlu melakukan upaya lebih untuk mendapat respons, penerimaan, dan posisi di kelas sosial tertentu sesuai yang mereka inginkan. Orang-orang inilah yang disebut pemanjat sosial.
Menurut pengamat dan penulis buku-buku gaya hidup, Joy Roesma, secara umum panjat sosial bisa dimaknai sebagai upaya seseorang meningkatkan statusnya ke tingkat yang lebih tinggi. Pemanjat sosial ini biasanya gemar menunjukkan bahwa dirinya dekat dengan sosok tertentu yang berpengaruh dan mengasosiasikan diri dengan kehidupan mewah.
Mereka bisa jadi gemar berswafoto akrab bersama orang-orang berpengaruh yang sebenarnya tidak dekat dengan mereka, senang membicarakan nama-nama penting yang mereka anggap dikenal baik, hingga memaksakan diri membeli barang-barang bermerek agar dapat dipamerkan dan mendapat pengakuan.
Seiring perkembangan zaman, menurut pengamatan Joy, rupa panjat sosial ternyata juga berubah. Di sekitar 2013, arisan dengan berdandan sesuai tema tertentu di restoran dengan membawa fotografer andal menjadi tren. Di masa ini, selain berupaya masuk ke dalam lingkaran arisan kelas sosial atas, pemanjat sosial juga berlomba-lomba agar foto dan profilnya dimuat di media tertentu.
Kini, media sosial menjadi sarana bagi pemanjat sosial untuk meraih sebanyak mungkin pengikut. Mereka berupaya untuk menciptakan foto-foto menarik yang biasanya menampakkan liburan mewah atau koleksi barang-barang bermerek, dengan harapan fotonya disukai sebanyak mungkin orang.
Unggahan-unggahan ini, menurut Joy, sebenarnya wajar jika memang sesuai dengan kenyataan.
“Tetapi tidak sedikit orang yang memaksakan diri. Misalnya meminjam barang-barang bermerek hanya agar di foto tampak sering berganti tas, sepatu, dan pakaian mahal. Atau saat ke luar negeri naik pesawat kelas ekonomi, tapi memaksa berfoto di kabin kelas bisnis, kemudian mengunggahnya ke media sosial,” kata Joy.
BACA JUGA :
7 Cara Amankan Akun Media Sosial
Personal Branding Harus Sejalan dengan Profesionalitas, Ini Alasannya
Stop Asal Posting! Ini Alasan Penting Anda Perlu Menjaga Reputasi Online
Lucia Priandarini (Kontributor)

Dok. Pexels
Semua Orang Bisa Berpotensi
Sementara itu sosiolog dan dosen Universitas Negeri Malang, Anggaunita Kiranantika, M. Sosio, punya pandangan yang lebih luas perihal fenomena panjat sosial. Dari kacamata sosiologi, panjat sosial tidak selalu berkaitan dengan kemewahan. “Secara umum perilaku panjat sosial lebih bertujuan untuk menjadikan diri mereka sebagai pusat perhatian dalam berbagai tempat dan situasi,” jelas Anggaunita.
Aktor panjat sosial tidak hanya ingin diterima sebagai anggota kelas sosial di atasnya, tetapi juga berharap ingin menjadi figur atau influencer bagi banyak orang. Meski begitu, mereka bisa jadi tidak begitu mengenal empati dan tidak mengutamakan relasi yang tulus.
Misalnya di tempat kerja, pelaku panjat sosial biasanya ingin selalu mendominasi setiap momen dan interaksi. Apapun yang terjadi, ia harus selalu terlihat dan menjadi nomor satu, meskipun terkadang bukan karena prestasi kerjanya. Di luar kantor, ia bisa jadi sengaja menjalin kedekatan dengan atasan atau klien dengan cara-cara tersendiri.
Di masa kini fenomena ini menjadi lebih berpeluang dilakukan lebih banyak orang. Menurut Anggaunita, era media sosial yang memungkinkan semua orang menceritakan apa pun kepada semua orang membuat siapa saja bisa menjadi aktor panjat sosial.
Hal ini juga diamini oleh Joy. “Kehidupan yang ditampakkan di media sosial pasti lebih banyak sisi indahnya. Banyak kenyataan yang disortir untuk menampilkan kesan tertentu. Sebenarnya itu sudah bisa disebut panjat sosial sederhana,” ungkap Joy, sejalan.
Anggaunita menilai bahwa fenomena panjat sosial, terutama yang ditampakkan di media sosial, antara lain dilatarbelakangi shock culture yang dirasakan masyarakat akibat derasnya arus teknologi informasi yang tidak diimbangi pengetahuan serta pemahaman yang dimiliki individu.
Segala hal yang tampak di permukaan jadi lebih penting daripada yang sesungguhnya. Siapa pun kemudian bisa menciptakan realitanya sendiri yang dipoles sedemikian rupa.
Di samping itu, media sosial memungkinkan interaksi yang dulu hanya dapat dilakukan secara terbatas menjadi tanpa batas dan dapat dilakukan kapan saja. Lewat media sosial, kini orang dapat berinteraksi langsung dengan idola mereka yang sebelumnya jauh dari jangkauan. Hal ini membuat orang menjadi merasa lebih berpeluang sejajar dengan idola mereka, bahkan menjadikan diri mereka sendiri sebagai pusat perhatian.
Namun adakah karakteristik orang tertentu yang lebih cenderung akan melakukan panjat sosial? Menurut Anggaunita, panjat sosial ternyata bisa dilatarbelakangi pola asuh tertentu dalam keluarga.
“Gagal atau tidak maksimalnya sosialisasi nilai dan norma dalam keluarga dan lingkungan terdekat dapat membuat pelaku menjadi bingung akan acuan perilakunya,” ungkap Anggaunita.
Kondisi ini akan membuat kurang matangnya kepribadian seseorang sehingga merasa selalu membutuhkan orang lain untuk membangun jati dirinya.
Lebih jauh, pola asuh orang tua yang cenderung memanjakan, atau sebaliknya, yang menelantarkan, akan menyebabkan apa pun yang dilakukan anak sejak kecil adalah hal yang dianggap biasa atau tidak salah.
Sanjungan yang berlebihan akan membuat anak selalu mencari cara agar selalu dipuji dan mendapat perhatian lagi. Sebaliknya, anak yang sering diabaikan juga akan selalu mencari perhatian dengan cara serupa.
BACA JUGA :
7 Cara Amankan Akun Media Sosial
Personal Branding Harus Sejalan dengan Profesionalitas, Ini Alasannya
Stop Asal Posting! Ini Alasan Penting Anda Perlu Menjaga Reputasi Online
Lucia Priandarini (Kontributor)

Dok. Pexels
Memanjat dengan Elegan
Panjat sosial sebagai upaya untuk lebih banyak menampilkan bagian-bagian terbaik dari diri, terutama di media sosial, sebenarnya adalah hal yang manusiawi. Semua orang pasti ingin citra diri yang positif.
“Tidak apa-apa selama tidak bertentangan dengan kenyataan, tidak memaksakan diri, dan tidak merugikan diri sendiri dan orang lain,” Joy menegaskan batasan di titik mana panjat sosial masih bisa dianggap sehat.
Bahkan sebenarnya perilaku panjat sosial, pada kadar yang tepat, penting untuk membangun jejaring. Bagaimana pun, perkembangan karier dan usaha seseorang juga bergantung dari seberapa luas dan luwesnya ia bekerjasama dengan sebanyak mungkin orang.
Kuncinya, menurut Joy, adalah mementingkan relasi yang didasari ketulusan, dan bukan hanya memanfaatkan. Di dunia kerja misalnya, kedekatan dengan atasan yang kerap diupayakan aktor panjat sosial, tentu harus diiringi produkitvitas dan kinerja yang baik. Lebih baik jika seseorang dikenal karena prestasinya daripada karena kedekatan yang dibuat-buat atau dipaksakan.
Selain itu, karena panjat sosial yang cenderung negatif bisa jadi bermuara pada masa kecil, penting bagi orang tua untuk menerapkan pola asuh yang tepat. Anak perlu dididik agar dapat menempatkan diri sesuai kemampuannya. Ia perlu belajar menghargai proses dan sadar bahwa tidak semua keinginannya bisa segera dipenuhi.
Di samping itu orang tua juga perlu menjaga agar anak tidak mendapat perhatian berlebih saat ia melakukan sesuatu yang tidak tepat. Dengan begitu ke depannya ia tidak akan meneruskan pola yang salah: mencari perhatian dengan cara-cara yang kurang tepat dan selalu merasa butuh benda atau orang lain untuk membuat dirinya berharga.
BACA JUGA :
7 Cara Amankan Akun Media Sosial
Personal Branding Harus Sejalan dengan Profesionalitas, Ini Alasannya
Stop Asal Posting! Ini Alasan Penting Anda Perlu Menjaga Reputasi Online
Lucia Priandarini (Kontributor)